Ditulis Feb 2016

Dalam salah satu Ted talknya, Sir Ken Robinson mengatakan bahwa sistem pendidikan umum baru muncul setelah abad 19 dan diperuntukan utamanya bagi memenuhi kebutuhan industri. Pada kenyataannya begitulah kita, minimalnya 12 tahun di awal kehidupan kita digunakan untuk menuntut ilmu dasar. Bagi yang memiliki kesempatan, kemudian lanjut ke perguruan tinggi selama 4-5 tahun berikutnya. Setelah total menghabiskan waktu selama 16 hingga 18 tahun menuntut ilmu, maka luluslah kita.  Tiba waktu mengaplikasikan ilmu yang didapat. Segelintir dari manusia-manusia berilmu ini akan membuat usaha sendiri. Tapi sebagian besar, termasuk lulusan-lulusan terbaiknya, akan diserap oleh perusahaan dan industri, menjadi pekerja. Sebagian kecil yang beruntung dari kelompok kedua, mungkin akan disekolahkan lagi, belajar ke jenjang yang lebih tinggi dengan dibiayai perusahaan. Untuk kemudian setelah selesai, kembali menjadi pekerja di perusahaan tsb.

Saya membayangkan dunia yang terbalik. Bagaimana jika separuh saja dari anak-anak berpendidikan tinggi ini memilih untuk membangun usahanya sendiri dibanding menjadi pekerja di perusahaan  orang lain. Apakah mungkin konstelasi dunia tidak seperti sekarang? Seorang programer misalnya, memilih mengembangkan operating sistemnya sendiri dibanding bekerja pada perusahaannya Bill Gates. Ambil saja 10% dari 7ribu karyawannya Bill Gates, adalah programer kelas dunia dan mengembangkan operating sistem sendiri. Mungkin saja saat ini m*crosoft bukan satu-satunya sistem operasi andalan dunia. Kita punya pilihan OS lain  selain dua yang utama di dunia saat ini. Maka mungkin juga Bill Gates bukanlah satu-satunya orang terkaya karena membuat OS karena kekayaannya terbagi pada beberapa orang pintar lainnya. Begitu juga dengan bidang-bidang lainnya. Maka dapat dibayangkan kekayaan dunia tidak akan berpusat di segelintir orang atau negara saja melainkan terdistribusi ke beberapa orang/negara, sehingga impaknya mungkin saja kekuatan dan pengendali ekonomi politik dunia juga menjadi terdistribusi.

Tapi apakah sesimple itu? Karena mungkin, belum tentu setiap anak pintar memiliki ide brilian dan inovatif seperti Steve Jobs atau Elon Musk. Atau Tuhan sengaja membuat inovasi itu seperti barang berharga super langka dan hanya dapat ditemui di kepala segelintir manusia saja? Atau jangan-jangan inovasi itu sebenernya ada di tiap manusia tapi tumpul oleh … sistem pendidikan kita? Karena memang sistem pendidikan dunia saat ini tidak didisain bagi tumbuh suburnya inovasi, melainkan sekedar untuk memenuhi kebutuhan industri aka produsen pekerja saja?

(Bersambung)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *