Posts

3 Mei

Pagi ini ambu baru akan beli tiket pesawat. Sengaja tidak membeli jauh hari untuk menghindari cancel atau merubah jadwal. Maklum, di daerah seperti ini kadang jadwal transportasi umum seperti bis seringkali tidak menentu.

Tiket sudah dipesan, tinggal membayar. Terjadi sebuah keajaiban di sini. Transaksi pembayaran berkali-kali gagal. Namun ajaibnya ambu mendapat konfirmasi kalau tiket sudah dibayar. Ambu lalu menghubungi pihak bank dan travel agent untuk mengkonfirmasi. Keduanya mengatakan sistemnya sudah benar. Pihak travel agent mengatakan berdasarkan data pada sistem, tiket sudah di bayar. Sementara pihak bank berdasarkan data pada sistem mengatakan bahwa transaksi gagal dan tidak serupiahpun rekening bank ambu didebet. Baiklah.

Kami menikmati pagi yang cantik di homestay ini. Pemandangannya lepas ke Laut Sabu. Langit biru dan Gunung Ile Ape atau Ile Boleng(?), nampak di kejauhan.

Menjelang siang kami memesan makanan di homestay. Ikan serupa pindang atau singgang terhidang untuk kami santap siang itu. Kami lalu berangkat ke bandara dengan diantar kendaraan dari hotel.

Alhamdulilah, tidak ada masalah dengan tiket kami dan kami bisa terbang kembali ke Kupang dengan selamat.

Sesampainya di Kupang, kami langsung ke Hotel Sahid untuk menjumpai Moti yang setia menunggu kami di sini. Kami menginap semalam di sini.

2 Mei
Pagi sekali kami sudah bangun dari tidur yang tidak terlalu nyenyak. Awal dini hari aktivitas masyarakat Lamalera sudah dimulai. Ditandai dengan keberangkatan bis satu-satunya ke Lembata, dilanjutkan dengan aktivitas terkait perburuan ikan paus.

Setelah jalan-jalan ke museum, kami langsung ke pasar barter yang berlangsung seminggu sekali di hari Kamis. Hari masih pagi, pasar masih sepi. Di sebuah lapangan terdapat beberapa ibu yang sudah siap dengan dagangannya, umumnya berasal dari desa di pegunungan. Kebanyakan mereja menggelar dagangan berupa hasil bumi seperti pisang, singkong, ubi, jagung, daun-daunan, dll. Tak lama pedagang lain mulai berdatangan. Penjual ikan basah, tahu tempe, pakaian, barang-barang kering seperti sabun, odol dsb hingga tukang obat lengkap dengan toanya.

Sementara para pembeli yang juga terdiri daei ibu-ibu juga mulai berdatangan selain berbekal uang, mereka juga membawa ikan paus kering dan ikan asin jenis lainnya.

Mengunjungi Pasar Barter melengkapi pemahaman kami tentang Ikan Paus dan orang Lamalera. Daging paus yang dikeringkan berfungsi sebagai mata uang. Satu wareng/helai daging paus kering bisa ditukar seikat daun pepaya atau seikat daun singkong. Tiga wareng daging paus sama harga dengan 12 buah pisang atau 12 tongkol jagung. Paus kering juga bisa ditukar dengan ubi, singkong dan makanan babi. Nilai tukar yang sama berlangsung selama puluhan bahkan mungkin ratusan tahun. Tidak ada inflasi di sini. Menariknya semua orang memiliki posisi tawar yang sama, semua penjual dan semua pembeli. ‘Harga’ bukan lagi angka melainkan kesepakatan dan kesefahaman berlandaskan kebutuhan masing-masing.
Jika kebutuhan makan sehari-hari dipenuhi dengan menukar daging paus, maka babi adalah investasi jangka panjang orang Lamalera. Kebutuhan besar seperti pendidikan atau perayaan tahunan dibiayai oleh hasil menjual hewan ternak.

Dari pasar kami lalu kembali ke homestay untuk berkemas dan bersiap kembali ke Lembata menumpang bis jam 4 sore nanti.

Sambil berkemas kami juga membayar biaya selama kami menginap di Homestay. Rupanya mahal sekali. Menginap dua malam kami harus merogoh kocek hampir 1,5jt! Mahal sekali! Dengan kualaitas pelayanan dan kebersihan jauh di bawah standar, harga yang dikenakan sangat-sangat mahal. Termahal yang pernah kami bayar.

Kami tiba di Lamalera menjelang jam 9 malam. Kami menyewa penginapan untuj tidur malam itu karena pesawat ke Kupang baru akan berangkat besok siang.

1 MeiPagi itu sebelum jam 7 pagi orang sudah ramai berkumpul di tepi pantai. Kali ini semuanya memakai kain, tua muda, laki-laki perempuan. Jika motif kain laki-laki umumnya berupa garis-garis atau kotak sederhana, maka kain perempuan Lembata lebih seru dan semarak. Berwarna-warni dengan segala corak. Yang paling menarik perhatian tentu saja kain yang bermotif Ikan Paus dan Manta Ray.Beberapa Pastor nampak kembali memimpin upacara pagi ini. Doa dan nyanyian berselingan seiring dengan naiknya matahari. Di akhir Misa sekitar 2 jam kemudian, seorang pastor muda putera asli Lamalera tampak memercikkan air ke perahu2 yang parkir di sepanjang pantai, sebagai lambang pemberian berkat.Selesai misa kami menyusuri pantai memandangi tulang-tulang paus dan ikan-ikan besar lainnya yang berserakan. Ada juga lemak ikan paus yang dijemur sisa hasil tangkapan sebelumnya.Kami berhenti di sebuah rumah nelayan tidak jauh dari tepi pantai. Sang kepala rumah tangga adalah salah satu penikam paus sedangkan istrinya penenun kain. Bersama Nao kami ngobrol-ngobrol soal paus dan kehidupan masyarakat Lamalera. Beliau bercerita tentang suka duka menjadi pemburu paus. Terbawa hingga ke perairan Australia. Tentang rekan-rekannya yang wafat dalam tugas karena tertarik tali hingga ke dasar laut, tenggelam dsb. Beliau juga bertugas sebagai pembawa binokular untuk mengawasi keberadaan paus lalu meneriakkan aba-aba : Baleo… Baleo… ketika melihat semburan air ke udara di kejauhan sebagai tanda kemunculan kote kolema atau paus. Lalu dua hingga 5 paledang (kapal pemburu) lalu akan turun ke laut dan berburu bersama.Pagi ini, selepas misa, satu paledang turun ke laut sebagai pembuka musim. Rupanya itu hari keberuntungan mereka dan takdir hari matinya seekor manta. Paledang pulang membawa ikan pari yang besar. Pari dipotong-potong di pantai dan dibagikan kepada sekian belas kepala keluarga yang ikut melaut serta pemilik kapal dan tuan tanah.Dulu pembagian daging hasil buruan diprioritaskan bagi janda dan orang-orang miskin, tapi jaman sudah berubah, nilai sudah bergeser. Kini prioritas ini tidak selalu diterapkan.Petang hari kembali diadakan acara. Kali ini lebih bersifat tradisional dibanding pagi tadi. Semacam pemberian berkat ke laut oleh tetua adat. Acara lalu diakhiri dengan pembagian tuak dan jagung titi.Malam ini kami semua tidur di homestay. Walaupun Sabiya tetap tidak mau tidur di kamar dan memilih tidur di teras rumah.

27 April

Pagi ini kami bersiap-siap hendak kembali ke Kupang. Ketika Ambu mau masak sarapan, kami kedatangan Ibu Flo dan Pak Max yang membawa pisang goreng dan seabreg oleh-oleh. Pisang goren dan obrolan seru jadi sarapan kami pagi itu. Ngomong-ngomong soal tamu kita pagi itu, Pak Max dan Bu Flo sama-sama keturunan Ambon tetapi berKTP Jogja. Keduanya sudah lama tinggal di Dilli. Kami bercerita seru tentang suka duka menjadi WNI di Timor Leste dan dinamika hubungan TL dan Indonesia.

Kami kembali menyusuri jalan berdebu yang konon sudah berbulan-bulan tak kunjung usai dirampungkan oleh kontraktor asal Tiongkok. Terimakasih Timor Leste, terimakasih untuk pelajarannya terutama mengenai rasa syukur bahwa kami masih menjadi bagian dari NKRI.

Garam untuk ternak di NTT

23-24 April

Selamat pagi Kupang😍🌅.

Setelah bersih-bersih, tanpa sarapan terlebih dahulu kami meninggalkan Pelabuhan Bolok dan bergerak menuju Kota Kupang. Sasaran pertama tentu saja sarapan😋. Tak lama setelah ambu singgah membeli sayur dan buah-buahan, terdengar seruan adek di kabin penumpang,”Bubur ayaaam”. Ternyata kami baru saja melewati gerobak bubur ayam yang sedang berjualan di tepi jalan. Tanpa perlu bertanya, kami semua sepakat untuk berhenti dan sarapan di situ. Yang jualan buburnya orang Indramayu, jadi mirip-mirip lah sama bubur ayam Cianjur kegemaran kami Ya sejak meninggalkan rumah 5 bulan yang lalu, kami hampir nggak pernah makan bubur lagi. Ada sekali waktu di rumah Ida Pedanda, kami disuguhi bubur Bali, toppingnya urap sayur. Dan sekali waktu dimasakin Pakde Bebe waktu kemping di tepi Danau Tamblingan Bali.

Selesai sarapan kami meluncur ke Kota Kupang untuk mulai melengkapi persyaratan dokumen untuk keperluan melintas ke Timor Leste. Memfotocopy pasport/SIM/KTP/STNK/BPKB/KIR, menukar dolar dll. Seluruh kelengkapan dokumen ini akan digunakan untuk mengurus izin lintas negara bersama kendaraan di Atambua nanti. Terakhir, kami ke Consulado (konsulat) Timor Leste di Kupang karena menurut informasi dari KBRI Dilli, kami harus mengurus surat pengantar untuk masuk ke Timor Leste nanti. Tiba di security, ternyata pemegang paspor Indonesia tidak memerlukan surat apapun, cukup paspor, visa (on arrival) dan dokumen kendaraan.

Matahari sudah tepat di atas kepala ketika truk mengarah ke Utara Pulau Timor, menuju perbatasan. Perjalanan ke perbatasan memakan waktu sekitar 7-8 jam. Maka kami harus berhenti di Soe atau Kefamenanu untuk bermalam.

Di pinggiran kabupaten Kupang, pedagang garam tradisional berderet di tepi jalan. Garam bubuk tak beryodium ini ditempatkan dalam wadah memanjang terbuat dari daun nipah. Selain itu dijual juga garam padat seperti stalaktit untuk campuran makanan ternak.

Memasuki Soe udara semakin sejuk. Pedagang di tepi jalan memajang aneka buah-buahan hasil tanah Soe. Primadonanya alpukat, ukurannya 2-3x alpukat biasa.

Maksud hati menginap di Kefamenanu urung karena sejuknya udara di Soe. Akhirnya kami putuskan menginap di Niki-niki. Kota kecil yang juga sejuk setelah Soe.

Area tempat kami menginap tidak terlalu luas. Pekarangan sebuah toko yang menjual keperluan sehari-hari . Walau begitu ternyata tempat ini jadi tempat singgah truk-truk yang melintas, sepinya tidak terasa karena hingga tengah malam banyak truk bergantian menepi.

Buah-buahan hasil bumi Timor jadi santapan pembuka hari ini menuju Atambua.

21-22-23 April

Berbekal jadwal kapal ASDP dan seputaran Larantuka (Adonara, Lembata dan Alor), petang ini kami diskusi keluarga untuk menentukan tujuan selanjutnya

Anak-anak pingin segera nyebrang ke Kupang, sementara Abah dan Ambu masih ingin ekplorasi di seputaran Larantuka. Di tengah diskusi Abah lalu telpon ke petugas pelabuhan memastikan jadwal kapal. Informasinya kapal ke Adonara dan sekitarnya cancel sementara kapal ASDP ke Kupang masih on. Palu diketok, Unlocking Indonesia’s Treasure menuju Kupang (keputusan yang belakangan disesali Ambu).

Malam ini kami pamit pada Bapak Pastor Keuskupan. Kami akan meninggalkan tempat kami parkir selama 4 hari ini dan menginap di pelabuhan untuk mengejar kapal ferry ASDP yang akan berangkat besok pagi.

Kenapa pakai menginap segala? Karena perayaan paskah baru saja usai sehingga akan ada arus balik dari Larantuka ke Kupang. Kapal akan penuh oleh peziarah. Jika kami lambat maka ada kemungkinan kami masih harus stay di Larantuka dan baru bisa menyebrang ke Kupang hari Jumat atau Minggu depan nanti.

Jam 9 malam itu kami masuk pelabuhan dan parkir di sana. Jam 6 pagi Abah diberitahu bahwa ada kemungkinan kendaraan besar tidak bisa berangkat karena prioritas hari itu adalah untuk penumpang tanpa kendaraan. Wah kesempatan nih, masih bisa ke Adonara dan sekitarnya pikir Ambu. Tidak lama, Abah datang kembali dengan kabar yang menusuk impian Ambu layaknya jarum nusuk balon tussss😪, impian ke Adonara dan sekitarnya kempes seketika, kami bisa berangkat pagi ini juga.

Menjelang jam berangkat, loket penuh sesak oleh calon penumpang. Untungnya tiket sudah kami beli melalui sedikit perdebatan dengan petugas loket. Truk kami yang setiap kali menyebrang lintas pulau selalu dimasukkan dalam kategori truk, oleh petugas di sini dimasukkan dalam kategori bus. Padahal ongkos bus dan truk selisihnya lebih dari satu juta. Akhirnya kami harus membongkar bukti berupa receipt dari penyebrangan-penyebrangan sebelumnya. Untung ada satu yang ditempelkan di scrapbook Sabiya, tiket penyebrangan ke Sabang. Setelah menunjukkan bukti, kami dapat harga tiket untuk truk. Di sini juga kami dicharge tiket untuk penumpang, praktek yang tidak ada di penyeberangan pulau lain.

Sekitar jam 9 pagi, kapal akhirnya berangkat. Dan dimulailah salah satu pengalaman nyebrang laut paling ‘brutal’😁 dan tidak akan terlupakan. Selain beberapa truk dan kendaraan kecil, bagian dasar kapal ro-ro sesak oleh puluhan motor, pengemudinya dan tentu saja penumpang tanpa kendaraan. Saking penuhnya, penumpang memenuhi tangga, lorong-lorong kapal dan area-area yang tidak semestinya ditempati penumpang. Sebetulnya keadaannya cukup memprihatinkan😪. Cuman karena sebagian besar para penumpang ini adalah peziarah Samana Santa yang (mungkin) baru dicharge secara spiritual, yang ada wajah-wajah happy aja. Seenggaknya yang nampak oleh saya. Tidak ada keluhan atau wajah merengut meratapi keadaan.

Karena penuh begitu, mau tidak mau kami harus tinggal di dalam mobil (bye bye angin laut). Walaupun masih bersyukur karena bisa tinggal di dalam mobil, tapi keadaan dalam mobil sungguh puanasss puolll Kakak!😣😓😨

Kami segan menyalakan AC karena angin panas dari unit outdoor dan asap dari gensetnya akan mengenai para penumpang yang duduk mengitari kendaraan kami. Jadi seperti saunalah kami di dalam mobil. Ditambah ombak dan angin cukup kencang, membuat kapal mengalun dan membuat mabuk. Membaca, nyemil, ngobrol, (berusaha) tidur adalah aktivitas kami selama 15 jam berikutnya. Malam hari yang kami kira akan lebih sejuk, ternyata sama saja. Hingga akhirnya terdengar penumpang di luar berkemas. Lamat-lamat di kegelapan nampak kerlap kerlip lampu di Pelabuan Bolok Kupang. Sampai! Tidak pernah sebelumnya saya sebersyukur ini ketika sampai di satu tempat. Sauna berjam-jam berakhir sudah.

Jam menunjukan pukul 1 dini hari ketika kami menginjak tanah Pulau Timor. Hello again Kupang.

21 April
Seringkali planless alias tidak punya itenerary di banyak kota, aktivitas seringkali kami lakukan secara spontan. Seperti siang barusan, setelah makan siang kami ketemu angkot, main naik aja. Mengetahui kalau kami pendatang (yang sedang mati gaya), Bang Sudi, sang supir, berbaik hati menawari kami jalan-jalan putar Kota Larantuka setelah ngantar penumpang ke tujuannya masing-masing. Oleh Bang Sudi kami diajak ke Bukit Doa Fatima. Sebuah Rumah Doa yang dibangun di ketinggian dengan pemandangan Kota Larantuka ke bawahnya.

Berikutnya kami diajak ke tempat hiburan yang sepertinya lagi ngehits di Larantuka; Taman Air Panas Oka, sebuah sumber air panas di tepi laut dengan pemandangan yang keren.

Rumput nampak tumbuh di pasir pantainya, mungkin karena mineral yang dikandung dalam air panasnya.

Terkenal dengan perayaan Semana Santanya, siapa sangka Larantuka menyimpan keindahan alam yang patut dikunjungi.

Pulangnya, Bang Sudi mampir dan ngobrol-ngobrol di truk. Thank you Bang, semoga segera nikah😀

Puncak Inerie di Bajawa

18 April

Gunung Inerie berlatar langit pagi ini jadi pemandangan si jendela kami pagi ini. Pak Agus(tinus), kepala Balai Pemantau Gunung Inerie berbaik hati mengijinkan kami parkir di halamannya.

Udara sejuk Bajawa membuat mager, pagi bergerak agak lamban.

Mbak Wida, Mas Iqbal serta anak-anaknya datang dan berkunjung lagi pagi ini untuk salam perpisahan serta membawa oleh-oleh kue, terimakasiiih 🙏.

Kami memang tidak banyak singgah di Flores ini. Semua area wisatanya sudah pernah kami kunjungi di kunjungan pertama (2015) dan kedua (2017). Kebetulan menjelang Paskah, kami ingin menyaksikan Puncak Perayaan Semana Santa atau Jumat Agung di Larantuka. Dan baru pagi itu kami tau kalau acara puncak bukan di hari Ahadnya, melainkan di hari Jumat, alias besok! Gimana sih Ambuu (sebagai planner perjalanan), namanya aja Jumat Agung la yaa😩😒😆😁.

Target ke Larantuka yang tadinya dua hari dimampatkan menjadi satu hari. Maka konsekuensinya adalah Abah bakal nyetir lebih lama dari biasanya. Belum lagi informasi dari Christian bahwa jalan menuju Larantuka akan ditutup mulai pukul 7 malam ini. Hadeuuh…😩😅.

Tapi secara kendaraan kami besar dan lambat, ya nggak bisa ngebut juga. Belum lagi jalanan yang berkelok-kelok naik turun. Yo wis sesampainya aja. Kalau Allah menakdirkan kami kami sampai tepat waktu, alhamdulilah, jika tidak ya tidak apa-apa. Kami makan siang sate kambing di Ende. Ketika hendak sholat, ketemu dengan Bang Ryan, subscriber Keluarga Kusmajadi 😁.

Kami baru sampai di Maumere sekitar jam 7 malam dan sempat ketemu sama Christian dulu.

Dari Maumere perjalanan masih 3-4 jam lagi. Anak-anak membongkar sofa dan membuatnya menjadi kasur. Ambu duduk di depan menemani Abah… untuk beberapa belas menit pertama aja😆. Di sisa perjalanan menuju Larantuka Ambu sukses tertidur, maaf ya Abah😅.

Kami tiba di Larantuka Jumat dini hari, sekitar jam 1 malam. Sehingga total lama perjalanan 17 jam! Jalan utama menuju Katedral sudah ditutup. Kami lalu minta ijin parkir di Keuskupan Larantuka.

jalan seperti cacing

16-17 April

Walaupun ini kali kedua kami ke Flores, ini adalah pengalaman pertama Abah nyetir di Trans Flores. Biasanya disetiri Christian dan kami ‘pingsan’ di jok belakang 😆, sorry Chris. Christian adalah guide kami ketika kami ke Flores tahun 2015 dan 2017 lalu.

Jalanan dari Labuan Bajo menuju Ruteng rupanya lumayan ‘keriting’. Berkelok-kelok dan menanjak, karena bergerak dari pantai menuju dataran tinggi. Di beberapa ruas tampak area longsor yang sudah diperbaiki.

Kondisi medan membuat waktu tempuh mulur jauh dari perkiraan google map. G-map mempredikasi waktu tempuh berkisar 4 jam saja, plus 2 jam makan siang. Kenyataannya kami harus berjalan selama 9-10 jam.

Walaupun kondisi jalan menantang, suguhan pemandangan sepanjang jalan indah sekali. Maklum, Manggarai Barat ini adalah lumbung padinya Flores.

Di tengah jalan kami berhenti untuk masak dan makan siang. Beberapa anak mendatangi dan menyapa kami.

Adzan Maghrib sudah selesai berkumandang kami tiba di kota Ruteng. Sebuah mesjid di tengah kota mengingatkan kami pada perjalanan dua tahun yang lalu. Di mesjid inilah kami singgah dan sholat, sebelum melakukan perjalanan hampir 8 jam menuju Dintor, desa terakhir sebelum ke Wae Rebo.

Kami putuskan untuk terus ke Ranamese, menurut g-map jaraknya sekitar 30 menit dari Ruteng. Keluar dari Ruteng yang bersih dan teratur, jalanan mulai menurun walaupun masih berkelok-kelok.

Tiba di gerbang Taman Wisata Danau Ranamese hari sudah gelap. Lampu remang-remang menerangi teras beberapa bangunan di kompleks taman wisata. Abah turun dari truk dan mengetuk pintu. Bangunan pertama tidak ada yang menjawab, begitu juga bangunan yang kedua. Oh well, mungkin petugas TW cuti dan pulang ke rumah masing-masing karena esok PEMILU.

Hakim yang mendapat cerita dari Om Christ-nya mengenai keangkeran tempat ini, mengajak kami kembali ke Ruteng dan menginap di sana. Melihat waktu dan kondisi jalanan yang gelap, Abah memutuskan untuk menginap dan parkir di sini. Selain itu toiletnya terbuka dan bisa kami dipakai.

Lelah dan dinginnya udara malam itu membuat kami tidur cepat.

Selepas subuh kami jalan-jalan dan turun ke danau. Sepagi itu sudah nampak seseorang mengayuh rakit di tengah danau. Melihat rombongan kami orang itu mengayuh rakitnya cepat-cepat dan menepi, entah kenapa. Kami tidak terlalu memperhatikan kemana hilangnya orang itu karena asyik menikmati udara dan pemandangan danau.

Ketika sedang bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan, sebuah Avanza hitam memasuki kompleks. Truk kami yang agak menghalangi jalan yang kebetulan sempit, membuatnya harus parkir berhadapan dengan truk. Supir dan 2 orang penumpang bulenya lalu turun dan menyapa kami. Pak supir yang orang lokal terkejut mendengar bahwa kami bermalam di situ. Menurut beliau tempat ini terkenal angker. Alhamdulilah kami tidak mengalami hal-hal ganjil semalaman menginap di sini.

Hari ini tujuan kami adalah kota dingin Bajawa. Walaupun masih berkelok-kelok dan menanjak, tapi tidak seekstrim kondisi jalanan di hari sebelumnya.

Setiap beberapa ratus meter kami lihat keramaian. Oh tentu saja, hari ini, PEMILU! Pemilihan umum serentak untuk memilih wakil rakyat dan juga presiden untuk lima tahun ke depan. Setiap TPS yang kami lewati nampak ramai dikunjungi penduduk yang mengantri tertib dan teratur. Bangga juga melihatnya.

Sebagai pendatang, dengan berbekal KTP, kami bisa mencoblos pada jam 12 siang nanti, karenanya kami tidak berhenti di TPS-TPS ini, karena masih pagi. Kami pikir masih bisa menunaikan kewajiban ketika mendekati Bajawa nanti. Apa daya, mendekati jam 12 hanya hutan gunung dan lembah yang nampak di kiri kanan jalan, tidak nampak lagi perkampungan apalagi TPS. Ketika tiba di Bajawa waktu sudah menunjukkan pukul 2. Abah turun dan menanyai beberapa TPS hingga ke kota Bajawa, semuanya sudah tutup. Apa boleh buat, kami doakan yang terbaik untuk rakyatlah yang menang.

Sebuah kedai Coto Makassar di tengah Kota Bajawa jadi tempat makan siang kami. Di situ kami disapa oleh seorang ibu, Mbak Wida namanya. Rupanya beliau pernah melihat cerita perjalanan kami di media sosial (sepertinya Mbak Iwed lagi ni sumbernya 😊)

Singkat cerita, Mbak Wida pamit pulang dan nggak lama membawa suaminya bertemu kami. Kami lalu diantar ke desa penghasil kopi Bajawa. Terimakasih banyak ya Mbak Wida dan Mas Iqbal.

Salah satu desa ini, Desa Beiwali adalah juga desa tradisional yang masih mempertahankan perkampungan adatnya.

Kami tiba di Desa Beiwali saat perhitungan suara di TPS desa sedang berlangsung. Penduduk masih ramai, mereka tampak antusias menyaksikan jalannya proses perhitungan suara. Terdengar dari pengeras suara, “Nomor Satu!… Nomor Satu”. Begitu berulang-ulang. Ya capres No.1, memenangkan 91% suara di provinsi ini.

7-8-9-10-11-12 April

Kedatangan kami Dompu-Bima ini bertepatan dengan rangkaian Festival Tambora yang puncaknya akan digelar di savana Doro Ncanga tanggal 11 April. Festival Tambora pertama kali diadakan tahun 2015, dibuka oleh Presiden Jokowi dalam rangka memperingati meletusnya Gunung Tambora 200 tahun yang lalu, 11 April 1815.

Mumpung kami sedang di Sumbawa, demi menyaksikan puncak acara, maka kami kembali ke Doro Ncanga.

Doro Ncanga sudah dibersihkan ketika kami datang. Sebetulnya tidak ada sampah di sini, hanya kotoran sapi yang berserakan. Maklum sehari-hari tempat ini adalah feeding ground mamalia satu ini.

Kami sempat pindah tempat parkir beberapa kali karena ada banyak tenda-tenda didirikan untuk kepentingan festival. H-3 dan H-4 Doro Ncanga semakin ramai. Panitia membagi area dalam beberapa zona bagi memudahkan manajemen logistik. Ada area khusus puncak acara dimana panggung dan tenda VIP didirikan. Ada area perkemahan penduduk lengkap dengan toilet-toilet portable. Area perkemahan khusus pengisi acara yang jumlahnya ratusan orang lengkap dengan dapur umumnya. Area khusus penjaja makanan, dll. Kami hampir tidak mengenali lagi Doro Ncanga, padang savana sunyi yang tadinya hanya dihuni sapi dan kuda berubah menjadi area perkemahan massal yang hiruk pikuk.

Setelah menunggu beberapa hari, akhirnya acara puncak Festival Tambora digelar juga. Dihadiri oleh Gubernur NTB, Bupati serta Staf Kementrian Pariwisata Pusat. Walaupun ada tarian kontemporer kolosal yang menceritakan kehidupan di Tambora, Doro Mantika yang dibawakan oleh 300 penari, selebihnya acara berupa hiburan rakyat pada umumnya. Tidak ditampilkan hiburan tradisional yang sebetulnya banyak dimiliki oleh masyarakat Mbojo.

Sore hari kami mengunjungi mata air Oi Rao. Mata air yang konon keluar dari bawah akar-akar pohon Rao. Air yang keluar ini tertampung di dalam kolam dangkal yang lebar di sekitar mata air. Airnya sejuk, bening dan menyegarkan. Penduduk sekitar memanfaatkannya untuk kehidupan sehari-hari. Ketika kami tiba ada yang sedang mandi dan mencuci pakaian. Bukan hanya manusia, bahkan motor dan truk pun mandi di sini.

Dari Oi Rao kami pulang ke Doro Ncanga dan menginap semalam lagi untuk keesokan harinya berangkat lagi ke Bima.