8 November Pagi setelah sarapan kami sudah jalan. Tujuan hari ini adalah Danau Matano di Kota Soroako. Jalanan lengang dan relatif mulus. Rumah panggung tradisional khas Sulawesi berbaris rapih di kiri dan kanan jalan. Di separuh perjalanan jalanan melebar mengingatkan kami pada jalan-jalan di pelosok Malaysia. Maklum jalan ini adalah jalur transportasi perusahaan Nikel dari Soroako menuju pelabuhan untuk selanjutnya dikirim ke negara pembelinya. Kami tiba di Soroako sekitar pukul 11 siang. Pantai Salonsa di tepi Danau Matano adalah tujuan kami siang ini. Untuk sampai di pantai ini kami harus masuk ke Kompleks Vale, perusahaan asal Brazil yang sudah puluhan tahun menambang nikel di sini. Tiba di Salonsa kami makan bakso lalu leyeh-leyeh tidur-tiduran di rerumputan di tepi pantai yang rindang dan sejuk. Orang ramai berenang di sini, maklum sekarang hari Sabtu. Airnya tenang dan sejuk. Kami berencana menginap di Pantai Ide, tidak jauh dari Salonsa. Katanya di Pantai Ide fasilitas buat pengunjung lebih lengkap, ada toilet dan warung. Kami lalu menemui security di pos masuk Kompleks. Kepala Security tidak bisa memberikan izin. Izin hanya diberikan oleh bagian ‘eksternal’ perusahaan. Karena hari ini hari Minggu, kami lalu dibawa ke rumah Pemimpin external yaitu Pak Yusri. Sampai di rumah Pak Yusri kami dipersilahkan singgah dan ngadem di rumahnya. Rata-rata rumah pegawai dj kompleks ini berupa rumah kayu panggung. Sekilas seperti bentuknya seperti rumah panggung khas tradisional Sulawesi. Rupanya INCO, pendahulu Vale, sebuah perusahaan penambangan dari Kanada memang mengadaptasi kearifan lokal dengan membuat rumah panggung bagi karyawannya. Fungsinya selain meredam panas dan lebih adem, rumah panggung juga lebih tahan terhadap gempa mengingat wilayah di seputar Danau Matano ini rawan gempa.

Oleh Pak Yusri dan Bu Lina, kami lalu dijamu. Kebetulan, perut kami baru diisi bakso saja sejak siang tadi. Bu Lina menghidangkan pisang pepe/pipih dengan sambel. Pisang pepe adalah pisang nangka yang masih mentah, lalu dipepe/dipipihkan. Kemudian dipanggang. Setelah dipanggang pisang digoreng tanpa tepung sehingga garing bagian luarnya. Lalu dimakan dengan sambal tomat terasi. Walaupun awalnya terasa ganjil, namun lama-lama  rasanya enak juga. Setelah pisang, berturut-turut Bu Lina menyajikan rujak serut, es krim dan kopi. Lengkap dan mengenyangkan, alhamdulillah.
Setelah sholat ashar berjamaah di mesjid, Abah dan Hakim membawa pulang teman, Farrel dan ayahnya Pak Mulawarman. Rupanya Farrel sering menonton channel kami di YouTube. Setelah itu datang kawan-kawan Pak Yusri yang beberapa diantaranya suka diving di Danau Matano dan sempat menemukan barang-barang artefak berharga berusia ratusan tahun. Barang-barang ini berupa senjata kuno dengan ukiran dan tanda yang khas Matano. Matano sebetulnya sudah disebut dalam Kitab Negarakertagama sebagai daerah pandai besi. Sejak ratusan tahun yang lalu hasil karya dari tepi danau terdalam di Indonesia ini diekspor hingga Negeri Tiongkok. Malam pun tiba. Kami tidak diizinkan untuk melaksanakan rencana kami semula untuk menginap di Pantai Ide, alih-alih kami malah disuruh menginap di rumah Bu Lina dan Pak Yusri. Kami tidak mampu menolak tawaran super baik ini. Malam harinya setelah makan malam dan jalan-jalan di Kota Soroako dengan si Moti,  kami istirahat di halaman rumah Bu Lina dan Pak Yusri. Terimakasih banyak.
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *