9 November Karena hari ini hari Minggu, maka Pak Yusri, Bu Lina dan ketiga putra putrinya hendak mengajak kami jalan-jalan di Kota Sorowako. Kami akan berjumpa dengan Lau Jiha, Kepala Desa Soraoko yang prestasinya membawa beliau berjumpa dengan Presiden Jokowi dan mendapat penghargaan sebagai Juara I Lomba Desa. Lau Jiha tidak seperti Kepala Desa kebanyakan. Badannya cenderung ramping tidak seperti pejabat pada umumnya. Cerdas dan kritis, maklum beliau mantan aktivis. Sejak terpilih sebagai lurah, salah satu projek utamanya yaitu membangun dan mengembangkan potensi pariwisata desanya. “Perusahaan (Penambang nikel- PT Vale) suatu hari akan pergi, kita tidak bisa terus menerus menerus menggantungkan hidup pada perusahaan. Kita harus mandiri”.
Berdasarkan pemikiran itulah dengan bekerja sama dengan PT Vale (diwakili oleh Pak Yusri) lahirlah karya-karya Lau Jiha yang memberdayakan masyarakat. Selesai ketemu Lau Jiha kami kembali ke komplek perumahan PT Vale, untuk memenuhi undangan makan siang di rumah Pak Budi. Pagi tadi Pak Budi yang orang Sumbawa ini mampir ke Moti dan mengundang makan siang di rumahnya. Istrinya akan memasak Ikan Sepat. Hidangan ikan bakar beserta kuah asam khas dari Sumbawa. Hmmm… Tiba di rumah Pak Budi kami jalan-jalan sebentar tepi danau dan melihat beberapa pohon endemik Sulawesi yang tumbuh di sini salah satunya Buah Dengeng yang berulas sekilas seperti jeruk  namun asaam sekali. Digunakan dalam masakan parende yaitu  sup bening dengan cita rasa asam dan kunyit biasanya berisi ikan atau udang. Setelah puas bermain di tepi danau, kami menyambangi rumah Pak Budi. Rumah panggung ang cantik dengan pemandangan lepas ke arah danau. Kami disambut dengan semerbak harum ikan bakar. Istri Pak Budi yang cantik, Mbak Ine yang mempersiapkan semuanya sejak siang tadi. Kami melahap hidangan lezat ini dengan bahagia. Ketika sedang duduk-duduk selepas makan, Pak Yus mendengar suara yang akrab di telinganya, suara klakson raft yang biasa dipakai karyawan PT Vale untuk menyusuri Danau Matano. Kami pun berhamburan kembali ke tepi danau. Pak Yus berbincang dengan operatornya, meminta izin untuk berputar sebentar di sekitar pantai. Satu persatu kami naik ke atas raft. Raft ini cukup besar dan lebar. Di tepiannya ada banyak tempat duduk. Mungkin muat untuk 50an orang. Raft mengarah ke Pantai Ide, melalui beberapa dermaga milik rumah-rumah dinas di atasnya. Dermaga-dermaga ini dilengkapi tangga, akses langsung untuk berenang (?) di danau.  Istimewa bukan? Setelah sampai di Pantai Ide, raft memutar kembali ke arah tempat kita naik tadi. Kami turun dengan gembira, walaupun sebentar, pengalaman menyusuri Danau Matano tadi sungguh menyenangkan. Lepas dari rumah Pak Budi kami kembali ke rumah Pak Yus dan menikmati sisa sore yang akrab di pekarangan sambil ngobrol dengan beberapa kawan Pak Budi dan Bu Lina yang singgah. Malam harinya, kami sekeluarga diundang makan malam di rumah Farrel kawan baru Hakim di Soroako.  Kami bersilaturahmi dan dijamu orangtya Farrel, Pak Mula dan istrinya. Alhamdulilah terimakasih.
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *