4-5 April

Satu hal yang mencolok di Bima adalah banyak banget warung bakso😆. Secara warung bakso identik sama Mas-mas dari Solo dan Bima jauh banget dari Solo😁. Dan penjelasannya ada di Doro Ncanga: daging sapi melimpah ruah di sini dan harganya separuh harga di Jawa. Singkat cerita masuklah kami ke salah satu kedai ini dan mencicipi bakso di Kota Bima. Rasanya sama persis dengan di Jawa karena yang jualannya memang orang Jawa😁.

Tujuan kami hari ini adalah Desa Sambori, desa di ketinggian yang masih memakai bahasa Bima asli atau Mbojo lama. Karena letaknya yang di ketinggian, kami harus melalui jalan berkelok menanjak dengan pemandangan yang indah.

Desa Sambori masih menyimpan sebuah Uma Lengge atau rumah adat masyarakat Bima. Uma Lengge berusia ratusan tahun ini satu-satunya Uma Lengge yang tersisa di Desa Sambori, mungkin satu-satunya juga di Bima. Uma Lengge merupakan bangunan panggung berukuran tidak terlalu besar, sekitar 3×3 meter namun tinggi, terdiri dari 3 lantai. Bagian bawah untuk kegiatan sehari-hari, lantai kedua untuk tidur dan lantai ketiga untuk menyimpan hasil panen.

Kami berjumpa dengan keluarga generasi terakhir pemilik Uma lengge, Ibu Aisyah, guru berusia sekitar 60 tahun yang masih cergas.

Langkanya bahan baku untuk atap menyebabkan Uma Lengge sulit untuk dipertahankan. Ketika direnovasi beberapa tahun yang lalu, bahan untuk atap didatangkan dari Tambora, jauh sekali.

Senagai pemangku terakhir budaya asli Bima, Sambori kaya akan pengetahuan mengenai tanaman obat. Resep obat tradisional diturunkan secara turun temurun selama ratusan tahun. Ibu Aisyah menyimpan beberapa resep ini dalam bentuk tulisan tangannya. Beliau juga pernah mengikuti pameran tanaman obat di ibukota.

Sebagai oleh-oleh kami diberi bermacam buah dan hasil bumi Sambori seperti alpukat, jeruk, bawang putih, beras dan markisa. Terimakasih Ibu Aisyah.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *