23 November Pagi ini kami bertemu Mas Harry Melumpi. Beliau adalah teman Mas Gunawan dari Poso yang sudah kontak-kontakan dengan kami melalui DM IG. Begitu mengetahui kami akan singgah di Tentena, Mas Wawan lalu meminta Mas Herry untuk menemui kami. Dan terjadilah pertemuan itu pagi ini. Mas Harry adalah dosen di Universitas Kristen Tentena. Beliau adalah lulusan Universitas Sam Ratulangi Manado. Skripsinya mengenai Ikan Sidrat, semacam belut, ikan endemik yang hidup di Danau Poso. Ikan ini bertelur di laut, lalu kembali ke Danau Poso untuk tumbuh besar, mengingatkan kami pada siklus Ikan Salmon, hanya ikan salmon sebaliknya. Bertelur di sungai air tawar. Kami ngobrol banyak mengenai konflik Poso dan kondisi pasca konflik serta upaya generasi muda Poso untuk mencegah konflik yang sama terjadi lagi. Mas Harry juga memberi informasi mengenai tempat-tempat yang bisa dikunjungi di Poso, antara lain Danau Poso, Air Terjun Saluopa dan Lembah Bada. Dengan dibantu Mas Harry kami menyusun rencana dan itenerary. Diputuskan untuk berangkat hari itu juga ke Saluopa dan Pantai Siuri. Namun sebelum berangkat kami harus mengisi solar dulu. Karena di rute yang akan kami tempuh hingga ke Lembah Bada nanti, tidak ada SPBU. Mas Harry lalu mengantar kami mengisi solar di SPBU Tentena. Antrian panjang sudah mengular ketika kami tiba. Selain jumlah yang terbatas, listrik sedang padam sehingga SPBU tidak bisa beroperasi. Kami lalu memutuskan untuk belanja keperluan logistik dulu di minimarket setempat. Ketika sedang berbelanja, tiba-tiba datang kabar baik dari Mas Harry. Temannya ada yang punya stock solar sekitar 35L, sesuai kebutuhan kami. Mas Herry, Wak Iyan dan anak-anak lalu berputar arah dan pergi ke tempat solar berada sementara Ambu dan Abah menyelesaikan berbelanja. Alhamdulilah, solar sudah terisi. Waktunya makan siang. Walaupun mayoritas non muslim, banyak kedai muslim yang berjualan makanan di pusat Tentena. Kami pilih salah satu kedai dan makan siang dengan menu sate sapi. Setelah drop cucian di laundry, kami lalu bergerak ke Saluopa. Jarak Saluopa dari Kota Tenena hanya sekitar 20 menit dengan si Moti.
Setelah membeli tiket, kami menyusuri jalan setapak sekitar 800m menuju air terjun. Air mengalir jernih di sungai-sungai kecil di tepian jalan setapak. Terdapat beberapa kedai dan mungkin juga homestay sepanjang jalan setapak ini.
Setelah sekitar 5 menit berjalan, mulai terdengar gemuruh air. Tak lama muncullah Saluopa, air terjun 12 tingkat di hadapan kami. Airnya deras namun jernih sekali. Di samping air terjun nampak tangga menuju ke 12 tingkat bagian atas air terjun. Setelah puas berfoto di bagian dasar, kami mulai meniti tangga, menapaki bagian air terjun tingkat demi tingkat. Wak Iyan memilih tinggal di bawah, padahal semakin ke atas, air terjun ini semakin cantik. Terasnya kadang melebar kadang menyempit, jeramnya kadang tinggi kadang pendek. Kami tiba di tingkat tertinggi air terjun. Sudah tidak ada jeram hanya kolam dengan air tenang yang jernih. Kami lalu turun kembali dan berhenti di tingkat di mana kolamnya agak lebar sehingga kami bisa berenang, bergabung dengan beberapa pemuda yang asik berenang sambil berfoto-foto. Setelah puas, kami turun. Karena hari mulai sore, pengunjung sudah pulang semua. Kesempatan untuk berfoto lagi. Setelah berganti pakaian di Moti, kami bergerak ke Pantai Siuri, tepian Danau Poso. Karena hari mulai gelap, papan nama Pantai Siuri sempat terlewat, kami harus putar balik. Setelah membayar tiket masuk di portal, kami pun masuk dan sempat melihat Danau Poso sebelum hari benar-benar gelap.
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *