18 November Pagi sekali kami sudah bangun. Pesawat yang akan membawa kami kembali ke Kendari akan terbang pukul 7 pagi ini. Walaupun ditawari, kami nggak nafsu sarapan pagi ini. Kami memilih menghabiskan waktu memandangi sunrise di beranda hotel sambil minum kopi. Sebetulnya Ambu agak nyesel beli tiket hari ini. Seharusnya kami stay satu atau dua hari lagi. Tapi ya sudahlah, lesson learnt. Lain kali mikir dulu sebelum pencet tombol ‘beli’ tiket. Sampai di Palu, Wak Iyan sudah menunggu di bandara. Kami ngedrop cucian di laundry lalu sarapan. Setelah sarapan Abah mencari tukang las untuk memperbaiki bagian meja lipat yg rusak. Kami lalu ke Museum Kendari. Selain sedang mati listrik, museumnya buluk  nggak terlalu terawat akhirnya kami skip. Kami lalu ke mesjid terapung Kendari, ikon baru primadona Kota Kendari. Mesjidnya memang cantik dan megah. Tapi begitu kami masuk ke toiletnya, kesan megah pupus seketika. Toilet dan tempat wudhunya super kotor. Untuk perempuan harus memakai toilet laki-laki yang hanya di pisah semacam triplek separuh badan. Kami urung memakai toiletnya. Entah siapa yang berwenang merawat mesjid ini, gagal memahami bahwa segala fasilitas penunjang mesjid adalah bagian dari mesjid dan harus dirawat sama baiknya dengan bangunan utamanya. Toilet yang rusak, ubin yang pecah di sana sini (padahal bangunan baru) menunjukkan bahwa mesjid cantik ini tidak dibangun dengan kesadaran dan motivasi yang utuh. Karena fasilitas yang buruk serta pelarangan menginap di area masjid, kami kembali menginap di Mesjid Agung Kendari malam ini.
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *