2 Mei
Pagi sekali kami sudah bangun dari tidur yang tidak terlalu nyenyak. Awal dini hari aktivitas masyarakat Lamalera sudah dimulai. Ditandai dengan keberangkatan bis satu-satunya ke Lembata, dilanjutkan dengan aktivitas terkait perburuan ikan paus.

Setelah jalan-jalan ke museum, kami langsung ke pasar barter yang berlangsung seminggu sekali di hari Kamis. Hari masih pagi, pasar masih sepi. Di sebuah lapangan terdapat beberapa ibu yang sudah siap dengan dagangannya, umumnya berasal dari desa di pegunungan. Kebanyakan mereja menggelar dagangan berupa hasil bumi seperti pisang, singkong, ubi, jagung, daun-daunan, dll. Tak lama pedagang lain mulai berdatangan. Penjual ikan basah, tahu tempe, pakaian, barang-barang kering seperti sabun, odol dsb hingga tukang obat lengkap dengan toanya.

Sementara para pembeli yang juga terdiri daei ibu-ibu juga mulai berdatangan selain berbekal uang, mereka juga membawa ikan paus kering dan ikan asin jenis lainnya.

Mengunjungi Pasar Barter melengkapi pemahaman kami tentang Ikan Paus dan orang Lamalera. Daging paus yang dikeringkan berfungsi sebagai mata uang. Satu wareng/helai daging paus kering bisa ditukar seikat daun pepaya atau seikat daun singkong. Tiga wareng daging paus sama harga dengan 12 buah pisang atau 12 tongkol jagung. Paus kering juga bisa ditukar dengan ubi, singkong dan makanan babi. Nilai tukar yang sama berlangsung selama puluhan bahkan mungkin ratusan tahun. Tidak ada inflasi di sini. Menariknya semua orang memiliki posisi tawar yang sama, semua penjual dan semua pembeli. ‘Harga’ bukan lagi angka melainkan kesepakatan dan kesefahaman berlandaskan kebutuhan masing-masing.
Jika kebutuhan makan sehari-hari dipenuhi dengan menukar daging paus, maka babi adalah investasi jangka panjang orang Lamalera. Kebutuhan besar seperti pendidikan atau perayaan tahunan dibiayai oleh hasil menjual hewan ternak.

Dari pasar kami lalu kembali ke homestay untuk berkemas dan bersiap kembali ke Lembata menumpang bis jam 4 sore nanti.

Sambil berkemas kami juga membayar biaya selama kami menginap di Homestay. Rupanya mahal sekali. Menginap dua malam kami harus merogoh kocek hampir 1,5jt! Mahal sekali! Dengan kualaitas pelayanan dan kebersihan jauh di bawah standar, harga yang dikenakan sangat-sangat mahal. Termahal yang pernah kami bayar.

Kami tiba di Lamalera menjelang jam 9 malam. Kami menyewa penginapan untuj tidur malam itu karena pesawat ke Kupang baru akan berangkat besok siang.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *