22 September

Semalam kami tiba lagi di Padang dan paginya ketemu dengan temennya Abah, Om Rino dan mengantar pakaian kotor ke laundry.

Petang kami tiba di Pariaman. Setelah singgah sebentar di pasar, kami putuskan mencari keluarga Ambu. Satu-satunya informasi pasti yang kami punya adalah nama dusunnya yaitu Limau Hantu. Alhamdulilah ada dalam google map. Menurut informasi dari Tante Nur di Jakarta, mendekati desa nanti kami akan menemui Simpang Aru lalu belok kiri dan seterusnya. Sampai di Limau Hantu, kami memang ketemu sebuah persimpangan tapi tidak ada satupun papan informasi yang menyebutkan nama simpang tsb. Akhirnya kami tanya orang-orang yang sedang duduk di warung tidak jauh dari simpang tadi. Qadarullah, salah satu Bapak adalah juga kerabat dan tentu saja beliau kenal dengan sepupu 2x saya, Uni Liana. Esok paginya Uni Liana dan suaminya mengajak kami menyusuri dusun, berziarah ke kubur saudara saudari Atok dan mengunjungi tapak rumah gadang. Rumah gadangnya sudah berganti menjadi rumah modern dan tidak lagi beratap gonjong. Rumah gadang lama hanya tinggal patoknya saja.

Atok saya Sidi Silin, mulai merantau ketika usianya masih belia. Beliau merantau hingga ke negri seberang, Terengganu Malaysia. Di situ, beliau berjumpa nenek saya, Tengku Hindun dan menikah. Kemudian mereka merantau lagi ke Tarempa, Natuna Kepulauan Riau. Sebelas orang anaknya, yang nomor empat ibu saya.
Seperti akar batang yang sudah berkelindan dan jauh dari pohon asalnya, hari ini saya menemukan salah satu ‘pohon’ asal saya.

Siang harinya kami ke Pariaman kota untuk menyaksikan pesta tabuik. Festival Tabuik merupakan salah satu tradisi tahunan di dalam masyarakat Pariaman. Festival ini telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu dan diperkirakan telah ada sejak abad ke-19 masehi. Perhelatan tabuik merupakan bagian dari peringatan hari wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, yaitu Hussein bin Ali yang jatuh pada tanggal 10 Muharram. Sejarah mencatat, Hussein beserta keluarganya wafat dalam perang di padang Karbala.

Tabuik sendiri diambil dari bahasa arab ‘tabut’ yang bermakna peti kayu. Nama tersebut mengacu pada legenda tentang kemunculan makhluk berwujud kuda bersayap dan berkepala manusia yang disebut buraq. Legenda tersebut mengisahkan bahwa setelah wafatnya sang cucu Nabi, kotak kayu berisi potongan jenazah Hussein diterbangkan ke langit oleh buraq. Berdasarkan legenda inilah, setiap tahun masyarakat Pariaman membuat tiruan dari buraq yang sedang mengusung tabut di punggungnya.

Menurut kisah yang diterima masyarakat secara turun temurun, ritual ini diperkirakan muncul di Pariaman sekitar tahun 1826-1828 Masehi. Tabuik pada masa itu masih kental dengan pengaruh dari timur tengah yang dibawa oleh masyarakat keturunan India penganut Syiah. Pada tahun 1910, muncul kesepakatan antar nagari untuk menyesuaikan perayaan Tabuik dengan adat istiadat Minangkabau, sehingga berkembang menjadi seperti yang ada saat ini.

Jutaan orang tumpah ruah di Pantai Gondoria, tempat perayaan Tabuik dilaksanakan.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *