10 Januari 2020

Pagi ini Kak Wawan menjemput kami untuk keliling Kota Poso dengan mobil kecil, sementara Moti istirahat di GOR.

Tempat pertama yang kami sambangi adalah lokasi awal terjadinya konflik massal di Poso. Tempat yang tadinya terminal ini tampak lengang dan kosong. Konflik yang terjadi sekitar 2 tahun sebelumnya ini sebetulnya merupakan perselisihan antara dua keluarga, tanpa usur SARA di dalamnya. Namun konflik ini merupakan bibit dari konflik SARA berkepanjangan yang terjadi kemudian.

Mobil lalu melewati sebuah bekas perkampungan yang sudah ditinggalkan dan dipenuhi semak belukar. Masih tampak sisa bangunan yang pernah berdiri dan kemudian dibakar saat kerusuhan.

Tempat ketiga yang kami kunjungi adalah makam Talasa, makam Raja Poso. Raja yang pluralis dan memilih untuk tidak memeluk satu agamapun demi kerukunan rakyatnya.

Dari makam Talasa kami ke sebuah rumah berarsitektur Belanda yang dulunya tempat tinggal misionaris Belanda yang datang ke Poso. Kami berjumpa dan ngobrol dengan Opa keturunan kesekian Raja Talasa yang kebetulan sedang ada di rumah ini.

Dari situ kemudian kami break dulu. Sementara Abah, Bang Hakim dan Kak Wawan sholat Jumat, Ambu dan Sabiya ngemil mangga bok suguhan Mamanya Kak Wawan, maniis sekali.

Setelah makan siang coto traktiran Kak Wawan (enak bener, diajak jalan-jalan, free lunch pula) kami lanjut jalan. Kami menyusuri area pecinan yang pernah jadi pusat elektroniknya Poso, sebelum kerusuhan, seperti Glodok kalo di Jakarta. Pusat pertokoan lama ini sudah usang dan terbengkalai, ditinggal para pemiliknya.

Perjalanan lalu dilanjutkan makam tua Belanda dan makam massal muslim korban kerusuhan Poso. Beberapa makam nampak berkelompok menandakan korban berasal dari dusun yang sama. Banyak jenazah korban berasal dari daerah yang jauh. Begitu banyak nyawa terkorban, tua muda, besar kecil, laki-laki perempuan, keganasan bertopeng identitas yang sungguh tidak pandang bulu.

Dari makam massal kami jalan-jalan ke Bukit Cinta memandang Poso dari ketinggian. Kota Poso tampak seperti kota mainan dengan rumah dan gedung-gedung kecil yang dibelah sungai di tengahnya.

Dari Bukit Cinta, perjalanan dilanjutkan terus ke atas ke Buyumboyo. Melawat makam remaja putri yang dibunuh dalam perjalanannya ke sekolah. Satu dari tiga remaja ini berhasil melarikan diri dan berlari kembali ke kampungnya. Kini remaja ini sudah dewasa, menikah dengan seorang pria muslim dan menjadi mualaf.

Malam itu kami menghabiskan waktu di Cafe Banua Momberata untuk baku bagi carita dengan kawan-kawan di Poso. Sedikit cerita mengenai Cafe Banua Momberata, cafe ini adalah kami yang stafnya adalah penyandang tuna rungu, keren ya.

Baku bagi carita malam itu lumayan seru dan ramai. Walau hujan dan dimulai agak lambat dari jadwal, banyak juga kawan-kawan yang datang. Terimakasih Kak Wawan dan Genpeace Poso.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *