25 November Tiba waktunya meninggalkan Pantai Siuri menuju tujuan berikutnya yaitu Lembah Bada. Sudah lama Lembah Bada atau Taman Nasional Lore Lindu ada dalam list kami. Apalagi kalau bukan karena keberadaan patung-patung megalitik yang ada di situ. Lucunya jalur menuju Lembah Bada di google map tidak ada dari Tentena, melainkan harus dari Palu. Karena ketiadaan sinyal internet, sampai sekarang jalan baru  ini belum bisa muncul di Google Map. Padahal usianya sudah dua tahun. Tidak jauh dari Pantai Siuri, jalanan akan terbelah dua, yang kanan menuju Kota Tentena, yang kiri ke Lembah Bada. Walaupun tidak terlalu lebar, jalanan menuju lembah Bada relatif mulus, setidaknya di beberapa kilometer pertama. Jalanan kebanyakan menanjak diseling dengan turunan. Di kiri jalan sesekali nampak Danau Poso seperti mengucapkan selamat jalan hingga lama-lama menghilamg berganti pamandangan hutan selang seling dengan pemandangan bukit. Menurut beberapa orang yang kami temui sebelumnya, perjalanan ke Lembah Bada akan memakan waktu sekitar 3 hingga 4 jam. Padahal dulunya sebelum dibangun jalan, waktu tempuhnya bisa 2 hingga 3 hari, mau tidak mau  harus menginap di jalan, biasanya di tepi sungai. Ternyata tidak semua ruas jalan mulus, setelah berjalan sekitar 1 jam, beberapa kali Ambu dan Abah harus turun dari mobil untuk memandu Wak Iyan yang menyetir supaya Moti tidak terperosok di lubang atau terlalu menepi mendekati jurang. Ada satu ruas jalan yang agak parah, jalanannya menurun curam, berlubang-lubang lalu membelok di ujungnya. Moti harus pelan-pelan bergerak jika tidak bisa-bisa terguling, naudzubillah mindzaliik. Setelah berjalan sekitar 4 jam, pelan-pelan nampaklah lembah dengan bangunan kecil-kecil seperti mainan di kejauhan. Lembah Bada di depan mata! Jalanan lalu menurun terus dan tibalah kami di Lembah Bada. Desa pertama yang menyambut kami adalah Desa Gintu dengan lapangan hijau luas di tengah desa. Kami berhenti di depan lapangan untuk bertanya mengenai Lembah Bada dan patung megalitiknya. Rupanya kami harus menempuh jarak sekitar 7km lagi untuk sampai di desa tempat patung-patung itu berada. Ambu sempat belanja bahan makanan berupa telur, tempe dan sayuran untuk makan malam ini dan sarapan besok pagi. Maklum di Lembah Bada ini sulit menemukan warung makanan apalagi yang halal. Sesampainya kami di Lore Barat, kami mencari mesjid yang hanya satu-satunya di sini. Atas saran dari beberapa jamaah, setelah sholat kami menemui Pak Camat untuk meminta izin parkir dan bermalam Kantor Kecamatan.  Pak Camat menyarankan kami untuk berkunjung ke Patung Palindo dulu sore ini karena menurut beliau lokasinya bisa dijangkau dengan Moti. Jalanan ke Palindo masih berupa tanah. Di kiri dan kanannya diapit kebun dan savana. Kami tiba menjelang senja. Siapapun yang membuat patung ini punya cita rasa seni luar biasa. Landscape yang begitu cantik menjadi ruang pamer yang menakjubkan bagi patung megalitik ini. Palindo yang artinya Sang Penghibur merupakan personifikasi dari tokoh setempat, biasanya pemimpin sebuah kelompok masyarakat. Tingginya sekitar 2.8 m dengan posisi miring, kemungkinan karena gempa. Di sekitar patung ini sedang dibangun jalan setapak yang melingkar yang sebetulnya mengganggu kealamian patung ini. Salah seorang pekerjanya, Pak Beni berpendapat sama. Kami ngobrol lalu meminta Pak Beni untuk mengantar kami melihat situs megalitik lain besok. Kami lalu kembali ke Kantor Camat untuk bersiap bermalam di sini. Setelah Maghrib hujan turun dengan lebatnya. Setelah makan malam, kami segera tidur ditemani hujan yang membuat lembah tanpa sinyal data ini semakin syahdu.
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *