28-29 Maret

Samawa Resort berbaik hati memberi kami late check-out sampai jam 2 siang. Setelah makan siang (dengan berat hati😆) kami tinggalkan resort keren ini.

Sekali lagi kami minta air sama Mas Rio dan ngobrol-ngobrol mengenai tujuan berikutnya. Mas Rio menganjurkan kami untuk langsung jalan ke arah Dompu dan parkir menginap di Sentong instead of menginap di Sumbawa Besar lagi. Di Sentong ada lesehan yang terkenal dengan Sup Ikan Bakarnya atau dikenal dengan nama Sepat di dalam bahasa setempat.

Lesehan Sentong berjarak sekitar 1-1.5 jam dari Sumbawa Besar. Restorannya sederhana dengan beberapa bruga untuk lesehan. Bonusnya yang juara, karena letaknya di teluk, pemadangannya indah dengan gunung Tambora. Mungkin kalau di kota besar, tempat seindah ini sudah dimiliki restoran-restoran mahal.

Dengan meminta izin pada pemilik restoran, kami menginap di sini. Buah-buahan dari Ibu Mas Rio jadi santapan sarapan pagi, ditambah dengan buah serikaya yang kami beli dalam perjalanan dari Pototano. Sumbawa memang penghasil buah srikaya, selain harum, rasanya manis.

Sejak dini hari Abah sudah 3x bolak balik ke toilet, diare. Sepagian Abah tidur, lelah karena dehidrasi. Sambil menunggu Abah pulih, Sabiya dan Hakim mengerjakan tugas mingguan sementara Ambu menulis blog.

Setelah merasakan Sepat kemarin sore, siang ini giliran mencicipi Singgang. Jika sepat adalah ikan bakar yang disantap dengan sup asam, maka Singgang adalah sup ikan yang direbus. Rasanya masam dan segar mirip sepat, hanya ikannya tidak dibakar. Abah sudah mendingan dan ikutan makan siang. Selepas makan kami lalu melanjutkan perjalanan ke Doro Ncanga. Setelah menyusuri Teluk Saleh akhirnya tiba juga di Doro Ncanga petang harinya. Kami ketemu dengan Mas Mul di resort (kantor polisi hutan) Doro Ncanga.

Doro Ncanga merupakan padang savana di kaki Tambora. Letusan Tambora melontarkan piroklastik (material gunung api) dan hampir menutupi seluruh lereng Tambora hingga ke Teluk Saleh. Sisa-sisa material perut bumi yang terlontar ketika letusan terjadi 200 tahun lalu itu, masih nampak tersebar dalam bentuk sebesar kepalan orang dewasa di padang yang sekarang ditumbuhi rumput.

Setelah mendapat ijin, kami parkir di samping resort, menghadap padang rumput terhampar luas yang berbatasan langsung dengan laut.

Angin berhembus semilir ditingkahi suara lonceng-lonceng sapi yang berbunyi secara harmonis seperti gamelan menjadi pengantar tidur kami malam itu.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *