2-3 April

Dari Desa Pancasila, kami menginap semalam lagi di Doro Ncanga, lalu pagi-pagi berangkat ke Dompu.

Dalam perjalanan Sabiya sempat berfoto dan berdekatan dengan binatang kesayangannya, kuda.

Setelah berjalan kurang lebih 30 menit, tiba-tiba terdengar suara angin keluar dari celah kecil, “Ppppppssssss”. Truk ditepikan dan Abah segera turun memeriksa ban kiri belakang, ban langganan kempes. Betul saja, ban yang dimaksud sedang kempes dan mengeluarkan angin. Walaupun kami berhenti tepat di depan sebuah kios tambal ban, pemilik kios tidak bisa berbuat banyak untuk menolong kami. Akhirnya Abah minta diantar ke tambal ban terdekat, sementara kami menunggu di truk. Sekitar 1 jam kemudian ban truk berhasil diganti. Dan 2 jam kemudian kami menunggui ban ditambal. Sambil menunggu, Ambu masak dan kita makan siang.

Hari sudah menjelang sore ketika kami sampai di Kempo, sekitar dua pertiga jalan menuju Kempo. Tiba di Pasar Cabang, Abah sempat ke toko onderdil mencari komponen handle pintu belakang yang rusak (lagi). Kami menghabiskan sekitar 1 jam lagi untuk mengganti handle pintu. Selesai dengan handle pintu, hari sudah benar-benar sore. Abah baru terasa laparnya karena doi nggak ikutan makan siang tadi. Beruntung di Pasar Cabang ada kedai sate solo.

Tiba di Dompu sudah Isya. Suasana kota semarak mempersiapkan Pawai Budaya yang akan diselenggarakan esok sebagai bagian dari Festival Tambora dan Perayaan Ulang Tahun Kota Dompu ke 204.

Gapura Mesjid Raya Dompu tidak memungkinkan truk masuk. Setelah koordinasi dengan Mas Oji dari Dinas Pariwisata Pusat yang kebetulan sedang menghadiri Festival Tambora dan Kepala Dinas Pariwisata Dompu, kami dipersilahkan parkir di Pendopo, kediaman resmi Bupati Dompu.

Keesokan harinya kami bersiap pagi-pagi untuk menyaksikan pawai budaya. Suasana meriah luar biasa. Tingkat partisipasinya walau tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya tapi cukup ramai. Pak Bupati dan stafnya turut serta berpawai. Yang paling menarik perhatian adalah busana tradisional yang dikenakan para Ibu-ibu dan remaja gadisnya. Semacam sarung yang merupakan kain tenun khas Bima dengan warna warni meriah dikenakan di kepala dan separuh badan seperti layaknya kerudung yang dalam bahasa setempat disebut Rimpu. Rimpu merupakan budaya yang dipengaruhi oleh masuknya agama Islam ke Bima yang dibawa oleh penyebar Islam dari Makassar. Selain itu ada juga kelompok masyarakat NTT yang ikut berpawai, seperti dari Flores dan Sumba. Mereka berpawai sambil menari dengan musik tradisional daerahnya sehingga suasana semakin hype dan festive.

Selain Kirab Budaya, turut dipamerkan juga berbagai macam panganan khas Bima terbuat dari jagung. Kami sempat mencicipi jus jagung dalam kemasan yang dingin, sangat menyegarkan di tengah teriknya cuaca Dompu.

Kami lalu meluncur ke Bima dan menginap di hotel, ngelempengin badan setelah lebih dari seminggu tidur di truk semenjak meninggalkan Samawa Seaside.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *