21 Februari

Selama beberapa hari pertama di Lombok, kami diajak Om Olan berkeliling ke daerah-daerah paling parah terkena gempa.

Pada 5 Agustus 2018, pukul 19:46 WITA, sebuah gempa darat berkekuatan 7 Mw melanda Pulau Lombok, Indonesia. Pusat gempa berada di 18 km barat laut Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat dengan kedalaman 32 km. Gempa bumi ini merupakan gempa utama dari rangkaian gempa bumi di Pulau Lombok sejak gempa awalan 6,4 Mw akhir Juli’18. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melansir peringatan terjadinya tsunami akibat gempa ini. Sebanyak 390 tewas, 1.447+ luka-luka, 67.875 rumah rusak, 468 sekolah rusak dan 352.793 orang mengungsi.

Bangunan runtuh serta tenda dan sekolah darurat masih nampak dimana-mana.

Ambu lalu berkomunikasi dengan Tante Okina dan menjajagi kemungkinan IMR membantu satu atau dua korban gempa untuk dibangunkan hunian sementara. Dari hasil diskusi disepakati untuk membuat rumah semi permanen bagi dua keluarga. Keluarga pertama adalah Keluarga Bayi Luthfi/Pak Medi yang berprofesi sebagai buruh dan tinggal di rumah bersama istri, dua anak dan ibunya yang berusia 75 tahun. Rumah kedua milik Ibu Mar. Beliau memiliki beberapa putra angkat yang diasuh layaknya putranya sendiri.

Dengan dieksekusinya projek ini, maka kami putuskan untuk tinggal lebih lama di Lombok sambil mengawasi proses pembangunan sebagai bentuk tanggungjawab.

Abah turut membantu proses pengerjaan rumah semi permanen.

Rumah yang dibangun seluas 5×6 m. Dengan RAB seperti berikut

1 reply

Trackbacks & Pingbacks

  1. […] kayu sebesar Rp 511,000,-. PC diharapkan sampai 3-5 hari kemudian. Hitung-hitung sambil menunggu pembangunan rumah semi permanen […]

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *