1 MeiPagi itu sebelum jam 7 pagi orang sudah ramai berkumpul di tepi pantai. Kali ini semuanya memakai kain, tua muda, laki-laki perempuan. Jika motif kain laki-laki umumnya berupa garis-garis atau kotak sederhana, maka kain perempuan Lembata lebih seru dan semarak. Berwarna-warni dengan segala corak. Yang paling menarik perhatian tentu saja kain yang bermotif Ikan Paus dan Manta Ray.Beberapa Pastor nampak kembali memimpin upacara pagi ini. Doa dan nyanyian berselingan seiring dengan naiknya matahari. Di akhir Misa sekitar 2 jam kemudian, seorang pastor muda putera asli Lamalera tampak memercikkan air ke perahu2 yang parkir di sepanjang pantai, sebagai lambang pemberian berkat.Selesai misa kami menyusuri pantai memandangi tulang-tulang paus dan ikan-ikan besar lainnya yang berserakan. Ada juga lemak ikan paus yang dijemur sisa hasil tangkapan sebelumnya.Kami berhenti di sebuah rumah nelayan tidak jauh dari tepi pantai. Sang kepala rumah tangga adalah salah satu penikam paus sedangkan istrinya penenun kain. Bersama Nao kami ngobrol-ngobrol soal paus dan kehidupan masyarakat Lamalera. Beliau bercerita tentang suka duka menjadi pemburu paus. Terbawa hingga ke perairan Australia. Tentang rekan-rekannya yang wafat dalam tugas karena tertarik tali hingga ke dasar laut, tenggelam dsb. Beliau juga bertugas sebagai pembawa binokular untuk mengawasi keberadaan paus lalu meneriakkan aba-aba : Baleo… Baleo… ketika melihat semburan air ke udara di kejauhan sebagai tanda kemunculan kote kolema atau paus. Lalu dua hingga 5 paledang (kapal pemburu) lalu akan turun ke laut dan berburu bersama.Pagi ini, selepas misa, satu paledang turun ke laut sebagai pembuka musim. Rupanya itu hari keberuntungan mereka dan takdir hari matinya seekor manta. Paledang pulang membawa ikan pari yang besar. Pari dipotong-potong di pantai dan dibagikan kepada sekian belas kepala keluarga yang ikut melaut serta pemilik kapal dan tuan tanah.Dulu pembagian daging hasil buruan diprioritaskan bagi janda dan orang-orang miskin, tapi jaman sudah berubah, nilai sudah bergeser. Kini prioritas ini tidak selalu diterapkan.Petang hari kembali diadakan acara. Kali ini lebih bersifat tradisional dibanding pagi tadi. Semacam pemberian berkat ke laut oleh tetua adat. Acara lalu diakhiri dengan pembagian tuak dan jagung titi.Malam ini kami semua tidur di homestay. Walaupun Sabiya tetap tidak mau tidur di kamar dan memilih tidur di teras rumah.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *