10-11 Februari

Baiklah, kekesalan pada Bapak pemilik restoran tadi malam memang sudah musnah seiring dengan terpejamnya mata dan lelap tidur semalam. Tapi pagi ini, kami malah bersyukuur sekali diberi tempat parkir di sini karena pemandangan matahari terbitnya yang indah tiada tara.

Kami lalu jalan-jalan menyusuri tepian kaki Gunung Batur sambil belanja sayur untuk sarapan.

Selesai makan, kami tidak mandi. Udara dingin membuat kami pede untuk cukup membasuh wajah saja 😁.

Truk lalu bergerak ke arah Museum Batur Geopark dengan harapan untuk bisa parkir di situ. Rupanya parkiran khusus kendaraan besar di museum penuh dengan sampah. Kami urung parkir di sini, lalu kembali ke arah tempat kami parkir malam tadi. Melewati restoran semalam, kami terus jalan ke arah Utara. Rupanya sepanjang jalan di kiri dan kanan berderet restoran yang menyediakan area parkir dengan pemandangan lepas baik ke lembah maupun ke arah Gunung dan Danau Batur. Kami pilih satu lapangan kosong beralas kerikil yang sepi di kiri jalan yang pemandangannya mengarah ke lembah. Mungkin semacam area parkir cadangan jika area parkir restoran sudah penuh terisi.

Truk diparkir di bagian tanah sedatar mungkin untuk menghindari beban tak seimbang pada ban. Lalu jack stand diturunkan untuk mengurangi beban pada ban. Abah lalu menyalakan PC, ngedit video. Sabiya dan Hakim menyalakan laptop masing-masing untuk menuntaskan tugas belajar minggu ini. Ambu? Ya nulis blog ini😁.

Tak terasa hari sudah gelap. Abah masih asik mengedit video. Ambu dan anak-anak tidur duluan. Tengah malam Ambu terbangun karena mendengar suara orang menangis dan bertanya pada Abah yang belum juga tidur. Kata Abah bukan suara orang, tapi anjing. Baiklah Ambu tidur kembali…. diikuti Abah karena sebenernya doi nggak yakin-yakin amat kalo itu suara anjing🤣.

Paginya kita kembali ke Ubud, pingin jalan pagi di Campuhan Ridge Walk. Rupanya parkirannya nggak bisa nampung truk. Jadi kami harus parkir di (semacam) central parknya Ubud.

Karena selama di Kintamani kami sarapan di truk dua hari berturut-turut, maka godaan ketika melintas sebuah bakery dengan aroma aduhai tak kuasa ditolak. Gerainya mirip Sub*ay, menunya macam-macam sandwich. Setelah membeli bekal sarapan kami lanjut jalan kaki. Walaupun matahari sebenernya sudah cukup tinggi, Campuhan masih relatif sepi. Hanya satu dua orang aja yang jogging. Kami juga papasan sama orang yang sudah keringetan jogging dari subuh kayaknya.

Ternyata tempat ini seindah foto-fotonya. Udaranya segar. Kebetulan hari cerah, matahari bersinar dan langit biru terang.

Kami jalan terus sampai jalan setapak berakhir dan berganti jalan biasa. Pemandangan lembah di kiri-kanan sudah berganti homestay/spa/cafe/toko kerajinan dan sawah, khas Ubud.

Kami terpisah jadi dua grup; Abang Hakim dan Abah di depan, Ambu dan Dek Biya jalan santai belakangan. Setelah kira-kira satu jam, tanpa janjian kami ketemu di sebuah cafe di tepi sawah untuk ngaso dan numpang pipis.

Seorang kawan merekomendasikan Museum Topeng dan Wayang Ubud. Dari Campuhan, Google Map di set menuju museum ini. Letaknya nggak jauh dari pusatnya Ubud. Jalannya memang agak berliku dan relatif kecil.

Akhirnya kami sampai di sebuah kompleks bangunan di tepi sungai. Dari luar nampak sejuk oleh rimbun pepohonan. Betul saja, ketika tiba di dalam, tampak bangunan berdiri di sela taman asri hijau dan terawat. Area utama pameran merupakan beberapa rumah adat dari berbagai daerah di Indonesia. Bangunan yang umumnya kayu ini, masih tampak kokoh dan terawat walau beberapa sudah berusia ratusan tahun. Di dalam bangunan-bangunan tradisional inilah berbagai koleksi jenis topeng dan wayang dari seluruh Indonesia bahkan dunia, dipamerkan.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *