3-5 Feb

Setelah sarapan, kami pamit pada Om Yuli sekeluarga, untuk kembali ke Denpasar dan memenuhi janji untuk berjumpa dengan beberapa kawan.

Kami berencana untuk melakukan Uji KIR di Bali. Supaya lulus, semua lampu harus berfungsi sempurna. Maka pagi itu setibanya di Denpasar kami mencari pengganti lampu-lampu yang rusak, lalu ke bengkel untuk memasangnya.

Acara pasang lampu selesai pas makan siang dan perut sudah keroncongan. Suara terbanyak memilih sushi untuk santap siang hari itu. Memang sudah sejak lama wacana untuk makan sushi diajukan Hakim dan Sabiya dan baru diwujudkan sekarang. Meluncurlah truk ke Jalan Sunset Boulevard menuju restoran Sushi incaran semenjak sampai di Bali😁.

Kami lalu bergerak ke kawasan Renon untuk berjumpa dengan Mas Nasir dan istrinya. Beliau menghubungi kami melalui Instagram.

Mas Nasir dan istrinya adalah contoh generasi milenial. Lulusan Desain Grafis dari UDINUS Semarang ini merupakan profesional graphic designer. Kliennya kebanyakan dari luar negeri. Karya beliau bisa diihat di sini. Uniknya lagi, sebelum menetap di Denpasar setahun terakhir, beliau berdua hidup nomaden alias berpindah-pindah. Mereka pernah tinggal di Lombok, lalu di Bali juga berpindah-pindah. Bener-bener Digital Nomad.

Dari Renon kami bergerak ke pantai timur, ke pantai Biaung untuk bermalam. Dan disuguhi pemandangan sunrise di pagi harinya.

Setelah sarapan kami kedatangan tamu; Teh Sari dan keluarga😄. Sudah beberapa hari ini mereka liburan di Bali. Teh Sari dan Jason terbang langsung dari Kuala Lumpur sementara Kakang Mike dan Teh Nina terbang dari Jakarta. Seketika suasana truk menjadi riuh rendah oleh suara tawa canda kami. Kami memang berteman akrab dengan beliau.

Dari Biaung, kami bergerak ke Kedonganan, ngapain lagi kalau bukan mau makan seafooood!😁

Teh Sari yang memang sudah mengincar beberapa restoran seafood di sekitar hotelnya, sontak kalap belanja seafood. Harga di Pasar Kedonganan memang jauuuh lebih murah dibanding di Kuta. Misal untuk udang galah, harganya bisa seperempat atau seperlima harga di Kuta. Setelah puas berbelanja, aneka makanan laut itu dibawa ke salah satu kedai untuk dimasak. Nasi dan minumannya di sediakan di kedai yang sama.

Dari Kedonganan, kami kembali ke Kuta. Rencananya menikmati senja di sana. Sabiya meneruskan pelajaran surfingnya diikuti Jason dan Teh Sari.

Setelah kira-kira 30 menit pelajaran surfing dimulai, angin kencang tiba-tiba melanda. Pandangan mata tertutup oleh pasir yang berterbangan. Lalu tak lama air pun turun. Kami terbirit-birit menyelamatkan barang-barang untuk berteduh. Hujan turun dengan lebatnya. Kira-kira 10 menit kemudian, hujan berhenti. Hari masih gelap, bye bye sunset. Kami kembali ke hotel dan membersihkan badan di situ.

Malam harinya kami janjian dengan Mas Gobind yang juga seperti Mas Nasir, menghubungi kami melalui Instagram. Mas Gobind yang ternyata trainer/pembicara kesohor dan kawannya, Mas Nusa, berencana untuk melakukan perjalanan menggunakan motorhone. Beliau termotivasi ketika bertemu sebuah keluarga pengelana dari Itali yang sedang berkunjung ke Bali. Ketika ditanya alasan keluarga ini melakukan perjalanan, jawabannya sederhana tapi menohok; dunia ini begitu indah. Namun obrolan tidak hanya seputar motorhome dan perjalanan, Mas Gobind juga membagi ilmunya mengenai healing, trauma, green living dll. Alhamdulilah, tambah pengetahuan, mudah-mudahan suatu hari nanti kami bisa hidup selaras dengan alam seperti beliau.

Karena sudah terlalu malam untuk mencari tempat parkir di luar, maka malam itu kami tidur di parkiran hotel dengan kepanasan karena nggak berani pasang genset di halaman hotel😄.

1 reply

Trackbacks & Pingbacks

  1. […] Nusa bersama Mas Gobind yang jumpa kami tempo hari, bermaksud akan melakukan perjalanan keliling dunia menggunakan […]

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *