19 April


Setiap tahun, sekitar satu minggu menjelang perayaan paskah, umat Katolik di Larantuka melaksanakan tradisi Semana Santa, yang telah berlangsung lebih dari lima abad, sejak bangsa Portugis menyebarkan agama Katolik dan berdagang cendana di Kepulauan Nusa Tenggara.

Semana Santa berasal dari kata semana (pekan) dan santa (suci), yang artinya pekan suci yang dimulai dari Rabu Abu, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci hingga Perayaan Minggu Paskah.

Kami sedang bersiap-siap hendak menuju katedral ketika empat orang polisi datang diantar seorang suster dari keuskupan. Abah sudah menemui suster ini tadi pagi dan beliau sudah memberikan ijin untuk parkir. Lalu kenapa tiba-tiba kami didatangi polisi? Keadaan menjadi canggung karena salah satu bapak berseragam ini datang dengan wajah yang tidak bersahabat. Lalu Abah dan Ambu secara bergantian menerangkan siapa dan maksud tujuan kedatangan kami di Larantuka. Rupanya sebagai petugas pengamanan yang bertanggungjawab atas kelangsungan dan keamanan acara, ini adalah bagian dari tugas mereka. Pak Polisi paham dan sempat foto-foto dulu sebelum pamit. Lain kali kalo cuman mau nanya-nanya doang, nggak usah pasang muka angker duluan ya Pak😉.

Sebetulnya bukan sekali ini saja kami berurusan dengan polisi. Sudah berkali-kali kami dicegat polisi di jalanan, ditanyai bahkan ditilang😁. Tapi memang baru sekali ini kami didatangi polisi dengan wajah garang ketika sedang parkir😆.

Seorang peziarah, Denis, yang juga menginap di Wisma Saron penginapan milik keuskupan, menawari kami untuk pergi ke katedral bersama-sama. Denis adalah orang asli Ruteng dan baru pertama kali juga menghadiri acara ini. Kami jadi seperti punya guide, terimakasih ya.

Kami berjalan kaki menyusuri jalanan yang sudah ditutup untuk kendaraan, menuju katedral. Di kiri dan kanan jalan rute prosesi Jumat Agung ini sudah terpasang semacam pagar bambu tempat memasang lilin. Pemasangan pagar bambu ini dilaksanakan pada upacara Tikam Turo pada hari Senin sebelumnya.

Tiba di Katedral, kami mendaftar dan membayar biaya administrasi sebesar Rp 5000,- per orang. Kami lalu diberi tanda pengenal bertuliskan ‘Peziarah’ untuk dipasang di dada.

Setelah mendapat tanda pengenal, kami jadi merasa lebih ‘tenang’ mengikuti jalannya prosesi. Maklum, walaupun kebanyakan peziarah ramah dan welcoming, kadang ada juga pandangan keheranan demi melihat kami yang muslim ini beredar di area yang umumnya dipadati umat Katolik.

Dari katedral kami lalu turun ke arah pelabuhan dan menyusuri jalanan di tepi laut. Bertemulah kami dengan kapel pertama, Kapel Tuan Ana (Yesus). Saya tadinya agak ragu untuk masuk, tapi beberapa petugas yang berjaga di halaman kapel mempersilahkan kami masuk. Akhirnya setelah melepas alas kaki, saya dan Sabiya masuk. Di dalam kapel, dekat altar terdapat sebuah peti yang berisi patung Yesus, jemaat yang masuk kemudian berbaris mengantri sambil berlutut. Tiba di depan peti, mereka mengucapkan doa kemudian mencium peti tersebut.

Tidak jauh dari kapel Tuan Ana, terdapat kapel yang lebih besar, Kapel Tuan Ma. Di Kapel Tuan Ma, patung Bunda Maria yang telah dimeteraikan dalam sebuah peti mati selama satu tahun penuh, harus dibuka dengan penuh hati-hati oleh petugas Conferia (sebuah badan organisasi dalam gereja) yang telah diangkat melalui sumpah. Tampak antrian panjang di halaman Kapel. Untuk memberi kesempatan pada jemaat, kami memilih tidak masuk kapel kali ini.
Menurut legenda, Patung Tuan Ma ditemukan oleh seorang laki-laki di Pantai Larantuka sekitar 500 tahun yang lampau, sebelum agama Katolik masuk ke Flores. Patung ini berasal dari kapal Portugis yang karam di perairan sekitar Larantuka. Ia kemudian menyerahkan patung tersebut kepada Raja Larantuka. Oleh Raja, patung tsb ditempatkan di dalam rumah ibadah masyarakat Larantuka saat itu.
Prosesi diawali dengan arak-arakan perahu serta puluhan bahkan ratusan kapal motor untuk mengantar Tuan Menino (Patung Yesus) dari Kapela Tuan Menino (Kota Sau) ke Kapela Pohon Sirih di Pante Kuce, depan istana raja Larantuka.

Prosesi berlangsung terus hingga esok dini hari. Patung-patung diarak ke dan dari Katedral dari siang hingga malam hari. Suasana syahdu dan khusu’ ketika Patung Tuan Ma keluar dari katedral diiringi nyala lilin yang dipegang peziarah. Kata Sabiya, “Setiap orang yang hadir, hadir secara spiritual, bukan hanya sekedar datang dan menyaksikan”.

sebagian info berasal dari : tirto.id

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *