jalan seperti cacing

16-17 April

Walaupun ini kali kedua kami ke Flores, ini adalah pengalaman pertama Abah nyetir di Trans Flores. Biasanya disetiri Christian dan kami ‘pingsan’ di jok belakang 😆, sorry Chris. Christian adalah guide kami ketika kami ke Flores tahun 2015 dan 2017 lalu.

Jalanan dari Labuan Bajo menuju Ruteng rupanya lumayan ‘keriting’. Berkelok-kelok dan menanjak, karena bergerak dari pantai menuju dataran tinggi. Di beberapa ruas tampak area longsor yang sudah diperbaiki.

Kondisi medan membuat waktu tempuh mulur jauh dari perkiraan google map. G-map mempredikasi waktu tempuh berkisar 4 jam saja, plus 2 jam makan siang. Kenyataannya kami harus berjalan selama 9-10 jam.

Walaupun kondisi jalan menantang, suguhan pemandangan sepanjang jalan indah sekali. Maklum, Manggarai Barat ini adalah lumbung padinya Flores.

Di tengah jalan kami berhenti untuk masak dan makan siang. Beberapa anak mendatangi dan menyapa kami.

Adzan Maghrib sudah selesai berkumandang kami tiba di kota Ruteng. Sebuah mesjid di tengah kota mengingatkan kami pada perjalanan dua tahun yang lalu. Di mesjid inilah kami singgah dan sholat, sebelum melakukan perjalanan hampir 8 jam menuju Dintor, desa terakhir sebelum ke Wae Rebo.

Kami putuskan untuk terus ke Ranamese, menurut g-map jaraknya sekitar 30 menit dari Ruteng. Keluar dari Ruteng yang bersih dan teratur, jalanan mulai menurun walaupun masih berkelok-kelok.

Tiba di gerbang Taman Wisata Danau Ranamese hari sudah gelap. Lampu remang-remang menerangi teras beberapa bangunan di kompleks taman wisata. Abah turun dari truk dan mengetuk pintu. Bangunan pertama tidak ada yang menjawab, begitu juga bangunan yang kedua. Oh well, mungkin petugas TW cuti dan pulang ke rumah masing-masing karena esok PEMILU.

Hakim yang mendapat cerita dari Om Christ-nya mengenai keangkeran tempat ini, mengajak kami kembali ke Ruteng dan menginap di sana. Melihat waktu dan kondisi jalanan yang gelap, Abah memutuskan untuk menginap dan parkir di sini. Selain itu toiletnya terbuka dan bisa kami dipakai.

Lelah dan dinginnya udara malam itu membuat kami tidur cepat.

Selepas subuh kami jalan-jalan dan turun ke danau. Sepagi itu sudah nampak seseorang mengayuh rakit di tengah danau. Melihat rombongan kami orang itu mengayuh rakitnya cepat-cepat dan menepi, entah kenapa. Kami tidak terlalu memperhatikan kemana hilangnya orang itu karena asyik menikmati udara dan pemandangan danau.

Ketika sedang bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan, sebuah Avanza hitam memasuki kompleks. Truk kami yang agak menghalangi jalan yang kebetulan sempit, membuatnya harus parkir berhadapan dengan truk. Supir dan 2 orang penumpang bulenya lalu turun dan menyapa kami. Pak supir yang orang lokal terkejut mendengar bahwa kami bermalam di situ. Menurut beliau tempat ini terkenal angker. Alhamdulilah kami tidak mengalami hal-hal ganjil semalaman menginap di sini.

Hari ini tujuan kami adalah kota dingin Bajawa. Walaupun masih berkelok-kelok dan menanjak, tapi tidak seekstrim kondisi jalanan di hari sebelumnya.

Setiap beberapa ratus meter kami lihat keramaian. Oh tentu saja, hari ini, PEMILU! Pemilihan umum serentak untuk memilih wakil rakyat dan juga presiden untuk lima tahun ke depan. Setiap TPS yang kami lewati nampak ramai dikunjungi penduduk yang mengantri tertib dan teratur. Bangga juga melihatnya.

Sebagai pendatang, dengan berbekal KTP, kami bisa mencoblos pada jam 12 siang nanti, karenanya kami tidak berhenti di TPS-TPS ini, karena masih pagi. Kami pikir masih bisa menunaikan kewajiban ketika mendekati Bajawa nanti. Apa daya, mendekati jam 12 hanya hutan gunung dan lembah yang nampak di kiri kanan jalan, tidak nampak lagi perkampungan apalagi TPS. Ketika tiba di Bajawa waktu sudah menunjukkan pukul 2. Abah turun dan menanyai beberapa TPS hingga ke kota Bajawa, semuanya sudah tutup. Apa boleh buat, kami doakan yang terbaik untuk rakyatlah yang menang.

Sebuah kedai Coto Makassar di tengah Kota Bajawa jadi tempat makan siang kami. Di situ kami disapa oleh seorang ibu, Mbak Wida namanya. Rupanya beliau pernah melihat cerita perjalanan kami di media sosial (sepertinya Mbak Iwed lagi ni sumbernya 😊)

Singkat cerita, Mbak Wida pamit pulang dan nggak lama membawa suaminya bertemu kami. Kami lalu diantar ke desa penghasil kopi Bajawa. Terimakasih banyak ya Mbak Wida dan Mas Iqbal.

Salah satu desa ini, Desa Beiwali adalah juga desa tradisional yang masih mempertahankan perkampungan adatnya.

Kami tiba di Desa Beiwali saat perhitungan suara di TPS desa sedang berlangsung. Penduduk masih ramai, mereka tampak antusias menyaksikan jalannya proses perhitungan suara. Terdengar dari pengeras suara, “Nomor Satu!… Nomor Satu”. Begitu berulang-ulang. Ya capres No.1, memenangkan 91% suara di provinsi ini.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *