22 Januari

Pagi tiba, artinya tibalah pula waktu berpisah dengan Alas Purwo. Kami check out pagi setelah sarapan nasi briyani dan tuna, sisa bahan makanan yang ada di truk😁.

Setelah berfoto di depan kantor petugas savana, truk kembali menyusuri hutan jati menuju gerbang Taman Nasional.

Begitu tiba di pos penjaga, kami berhenti untuk membayar tiket kekurangan karena menginap dua malam di sini. Tiket berlaku satu hari. Tentu aja kami lalu berfoto di gerbang TN sebagai kenang-kenangan.

Setelah gerbang nasional, hutan jati masih mendominasi pemandangan di kiri dan kanan jalan. Kadang diselingi kebun jagung dan melon milik penduduk.

Tujuan pertama setelah keluar TN adalah bakso😁, kayak yang udah berbulan-bulan aja di hutan🥴.

Lalu kami ke Hutan Benculuk. Bertemu lagi dengan Ki Hujan di Hutan D’Jawatan milik Perhutani Banyuwangi. Lahan seluas 3,8 Ha ini dulunya tempat pengelolaan kereta api dan penyimpanan kayu jati. Pohon trembesi yang jumlahnya puluhan mengapit beberapa ruas jalan berfungsi menjadi peneduh area penjemuran kayu jati. Usia pohon-pohon ini sudah puluhan tahun bahkan mencapai lebih dari seratus tahun.


Dari Hutan Benculuk, truk diarahkan kembali ke Banyuwangi kota menuju Pelabuhan Ketapang untuk menyebrang ke Pulau Bali. Sebelum itu kami mengisi perbekalan dulu di minimart.

Kami tiba di Banyuwangi petang sekitar pukul 5 sore. Perjalanan Ketapang-Gilimanuk hanya memakan waktu sekitar 30-40 menit saja. Truk kami dikenakan biaya 250ribu rupiah. Setibanya di Gilimanuk, kami langsung menuju Taman Nasional Bali Barat untuk parkir dan bermalam di Pantai Karang Sewu.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *