14 November

Pantai Pasir Padi

Bangka dipenuhi oleh batuan granit sehingga pantai-pantainya umumnya berwarna putih bersih.

Setelah sarapan dan beberes kami kembali ke Pangkal Pinang. Kami singgah di Kakiku untuk pijat ramai-ramai. Rasanya enak juga setelah 70 hari berjalan. Kami menghabiskan waktu sekitar 2 jam di situ, lalu berburu makan siang. Mie Bangka yang kesohor dan mudah ditemui di Jakarta ternyata berbeda dengan di daerah aslinya. Selain sulit ditemui, ternyata versi aslinya kebanyakan tidak halal.

Untuk makan siang hari itu kami mencoba Mie Koba Iskandar. Tekstur mienya seperti mie ayam, disajikan dengan kuah seafood berwarna coklat encer. Meski tidak ada seketul pun potongan ikan/udang/cumi dalam kuah, rasanya gurih dan manis. Untuk proteinnya, ditambahkan telur rebus.

Dari makan siang, kami lalu ke Museum Timah Pangkal Pinang. Selain tambahan info dan objek pemeran mengenai Eksplorasi Timah Dalam Laut, sisa isinya kurang lebih seperti Museum Timah Muntok. Guidenya masih lebih paten yang di Muntok.

Dari Museum, kami melepas dahaga di Es Kacang Merah Ayong. Kacangnya manis dan teksturnya empuk. Lalu ke otak-otak Amui, yang banyak direkomendasikan netizen tidak jauh dari Es Kacang Merang Ayong.

Sore harinya kami kembali ke daerah pantai dan singgah di Bangka Botanical Garden BBG.

BBG adalah kawasan agrowisata seluas 300 hektar. Merupakan lahan reklamasi bekas galian tambang timah. Di dalamnya ada Kebun Jeruk, lahan pertanian, peternakan sapi dan kolam ikan.

Malamnya kami sepakat menginap kembali di Pantai Pasir Padi