13 November

Sejak sore kemarin Sabiya sudah mengeluh sakit perut. Selain sakit perut, Sabiya juga sempat muntah. Agak hawatir, maka pagi itu kami putuskan untuk mencari dokter terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. Tidak jauh dari pelabuhan Muntok, ada Puskesmas. Puskesmas Muntok. Ini adalah pengalaman pertama Sabiya berobat di Puskesmas. Kami mendaftar lalu membayar sebesar Rp 6,000,- kemudian antri dan menunggu panggilan. Setelah menunggu sekitar setengah jam, Sabiya dipanggil dan kami masuk ke ruang dokter. Sabiya diperiksa lalu diberi obat. Alhamdulilah dokternya ramah sekali. Beliau menerangkan panjang lebar hasil diagnosanya. Menurut beliau kemungkinan Sabiya terkena radang tenggorokan dan amandel. Setelah selesai periksa, kami sempat mengobrol dan bertukar IG.

Dari Puskesmas kami ke Museum Timah Muntok. Museum ini milik PT Timah, lay out dan fasilitasnya boleh dikatakan di atas rata-rata museum yang ada di negri kita. Pengelolanya bahkan menyediakan guide yang sudah dibekali dan berpengetahuan cukup mengenai timah. Kami banyak mendapat pengetahuan karenanya.

Kata Bangka berasal dari kata wangka (vanca) yang berarti “timah” dalam bahasa Sanksekerta.
Pulau Bangka merupakan penghasil timah kualitas terbaik di dunia. Bangka juga merupakan penghasil timah offshore terbesar di dunia.
Dulu, di Pulau Bangka, timah bahkan biasa ditemui di permukaan tanah, tetesan air hujan sudah bisa menyingkap lapisan timah di permukaan tanah.

Dari Museum Timah kami mengunjungi Rumah Mayor Cina.

Mayor Cina adalah pemimpin yang diangkat Belanda untuk mengatur segala urusan Masyarakat Cina di daerah tsb.

Rumahnya buesaaar sekali. Ada banyak pintu, tiang dan ruangan. Kami bertemu sepasang suami istri yang merupakan keturunan generasi ke-6 Mayor Cina. Sayang, kondisinya tidak terlalu terawat, jika dibandingkan dengan Rumah Baba Nonya di Melaka. Mungkin pemerintah harus mengalokasikan dana khusus guna melestarikan cagar budaya di Kota Muntok. Di Rumah Mayor Cina, kami bertemu turis dari Tiongkok, rupanya Bangka sudah jadi destinasi turis mancanegara.

Selain Rumah Mayor Cina, di Muntok juga ada Mesjid dan Kelenteng tua bersejarah. Mesjid yang berwarna hijau cerah ini memiliki minaret yang dipengaruhi oleh gaya arsitektur Tiongkok.

Letaknya yang bersebelahan melambangkan toleransi beragama yang terpelihara. Jika Umat Islam sedang ada kegiatan di Mesjid, maka Kelenteng dipersilahkan untuk digunakan sebagai lahan parkir.

Setelah sholat Dzuhur, kami bergerak ke Pangkal Pinang, ibukota Provinsi Bangka-Belitung.

Di perjalanan kami berjumpa bangunan sejarah juga yang dulunya merupakan penginapan bagi tamu atau karyawan Perusahaan Timah Belanda. Pasa tahun 1949 rumah ini digunakan Belanda untuk menampung para pemimpin Indonesia yang ditangkap dan diasingkan ke Bangka diantaranya Bung Hatta, Moh Natsir dan Haji Agus Salim. Sementara Bung Karno diasingkan di rumah yang terpisah.

Kami tiba di Pangkal Pinang sore sekitar pukul 3. Setelah drop baju kotor di laundry, kami menuju ke Pantai Padi untuk menginap malam itu.