18 Oktober

Pagi kami terbangun oleh suara azan dari mesjid tempat kami menginap. Setelah sholat Subuh, pelan-pelan danau memperlihatkan dirinya pada kami.

Kami sarapan kopi ditemani pepaya dan alpukat Takengon yang manis.

Setelah sarapan, kami beberes dan bersiap untuk beranjak dan tujuan hari itu adalah mengekplorasi Kopi Gayo. Sambil nunggu kedai kopi buka, kami mengelilingi danau pakai truk. pemandangannya cantiik sekali. Danau ini memiliki panjang 17km dan lebar 3.2km dengan bagian terdalamnya lebih dari 50m

Sebelum ke kedai kopi, kami makan siang dulu. Maksud hati mencari kedai ikan bakar Danau Laut Tawar, ternyata kedainya nun jauh di tempat kami menginap semalam ya sudahlah. Tak ada ikan bakar, kedai makan biasa pun jadi. Kami mencicipi ada ikan depik pepes dan sayur plieuk.

Setelah itu kami singgah di beberapa pabrik kopi; Aman Kuba, Oro dan Aroma Gayo. Di ketiganya kami sempat mencicipi kopi signature masing-masing. Buat orang yang tidak terlalu gemar kopi seperti saya, rasanya terlalu strong, kadang terlalu asam juga. Saya hanya bisa menikmati kopi single origin seperti ini dengan bantuan susu uht.

Di tempat-tempat ini juga kami bisa menyaksikan proses dari mulai sortir green bean hingga ke proses roasting. Walaupun tidak terlalu suka minum kopi, saya sukaa sekali aroma kopi yang sedang diroast. Saya juga jadi tau jenis-jenis biji kopi seperti kopi lanang, long bean, pea berry dll. Saya juga sedikit-sedikit mengenal pemrosesan biji kopi sehingga menghasilkan rasa kopi yang berbeda, seperti honey atau wine.

Petangnya kami ketemu Yuni yang jauh-jauh dari Banda Aceh untuk kembali menemui kami di Takengon. Malamnya kami makan malam di Seladang. Sebuah cafe yang dikelilingi kebun kopi. Malam harinya kami menginap di Perumahan Annisa Mansion Takengon.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *