16 Oktober

Kami bermalam sekali lagi di rumah Yuni. Paginya sarapan bareng Kak Nana kemudian ke Museum Aceh lagi.

Selain alam dan budayanya, hal lain yang mengagumkan dari Aceh adalah peran perempuan di masa keemasannya.

”….yang paling mengagumkan dalam semua contoh pemerintahan wanita di kepulauan Nusantara adalah yang terdapat di Kerajaan Aceh Sumatra, kerajaan yang mempunyai tempat yang sangat tinggi dalam sejarah!” (P.J. Veth, dalam subadio dan Ihromi, 1983: 233).

Perempuan berperan aktif sebagai pemimpin baik di struktur pemerintahan maupun dalam perjuangan fisik melawan Belanda.

Postingan berikut adalah tribute series untuk para Srikandi Aceh.

text dan foto : Wikipedia dan Museum Aceh

Sultanah Narasiah Malikul Zahir (1400-1428)

Sultanah pertama dari Samudera Pasai bergelar Malikah Ratu Nahrasiyah Rawangsa Chadiyu.
Prof Dr T Ibrahim Alfian MA menuliskan, Ratu Nahrasiyah dikenal arif dan bijak. Harkat dan martabat perempuan begitu mulia sehinga banyak yang menjadi penyiar agama pada masa pemerintahannya.

Ratu Safiatuddin (1641-1675)

Ratu Safiatuddin, Putri Sultan Iskandar’ Muda yang naik tahta menggantikan suaminya Sultan Iskandar Tsani. Terjadi kericuhan dalam mencari penggantinya. Kaum Ulama dan Wujudiah tidak menyetujui jika perempuan menjadi raja dengan alasan-alasan tertentu. Kemudian dua orang Ulama Besar, Nurudin Ar Ranir dan Syekh Abdurrauf as-Singkili menengahi kericuhan itu dengan menolak argumen-argumen kaum Ulama, sehingga Sultana Safiatuddin diangkat menjadi sultana.

Sultanah Safiatuddin memerintah selama 35 tahun, dan membentuk barisan perempuan pengawal istana yang turut berperang dalam Perang Malaka tahun 1639. Ia juga meneruskan tradisi pemberian tanah kepada pahlawan-pahlawan perang sebagai hadiah dari kerajaan

Sejarah pemerintahan Sultana Safiatuddin dapat dibaca dari catatan para musafir Portugis, Perancis, Inggris dan Belanda. Ia menjalankan pemerintahan dengan bijak, cakap dan cerdas. Pada pemerintahannya hukum, adat dan sastra berkembang baik. Ia memerintah pada masa-masa yang paling sulit karena Malaka diperebutkan antara VOCdengan Portugis. Ia dihormati oleh rakyatnya dan disegani Belanda, Portugis, Inggris, Indiadan Arab.

Pada masa pemerintahannya yang terdapat dua orang ulama penasehat negara (mufti) yaitu, Nuruddin ar-Raniri dan Abdurrauf Singkilyang bergelar Teungku Syiah Kuala. Atas permintaan Ratu, Nuruddin menulis buku berjudul Hidayatul Imam yang ditujukan bagi kepentingan rakyat umum, dan atas permintaan Ratu pula, Abdurrauf Singkilmenulis buku berjudul Mir’at al-Thullab fî Tasyil Mawa’iz al-Badî’rifat al-Ahkâm al-Syar’iyyah li Malik al-Wahhab, untuk menjadi pedoman bagi para qadhi dalam menjalankan tugasnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa ratu Safiatuddin bukan saja mengutamakan kesejahteraan negerinya tetapi juga berusaha menjalankan pemerintahannya sesuai dengan hukum Islam.


Sejarah mencatat, Sultanah Zainatuddin Kamalatsyah merupakan ratu keempat atau terakhir yang memimpin Kerajaan Aceh Darussalam. Ia diangkat sebagai sultan usai mangkatnya Sultanah Nurul Alam Zakiatuddin tahun 1688 Masehi, dan berkuasa selama 11 tahun.
Beberapa prestasi Sultanah Kamalatsyah selama berkuasa diantaranya pernah menerima para pedagang Prancis dan Inggris, bahkan mengizinkan mereka membuka kantor dagangnya di Aceh untuk memperlancar hubungan perekonomian bilateral negara. Hubungan baik ini sangat menguntungkan kedua pihak. Ekspor rempah-rempah dari Aceh makin lancar ke negara-negara lain terutama Inggris dan Prancis.

Keumalahayati: Laksamana Perempuan Pertama di Dunia

Perempuan bangsawan keturunan pendiri Kerajaan Aceh, dengan hasab laksamana, yang hidup pada masa keemasan Kesultanan Aceh. Lulusan terbaik dari Askari Baitul Muqaddas, Royal Military Academy Sultan Selim ll di Aceh.
Pada tahun 1585–1604, dia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV.

Negosiator ulung berbahasa asing, memimpin diplomasi dengan Sir James Lancester utusan Ratu Elizabeth l. Beliau juga menjadi duta diplomasi Aceh menjumpai Prince Maurits. Duta-duta tersebut menjadi utusan pertama kerajaan dari Asia.
Penggagas dibangunnya Benteng Inong Bale sebagai pusat pertahanan Selat Malaka. Pemimpin 2000 pasukan dengan 100 kapal perang. Petarung tangguh yang menikam Cornelis de Houtman di atas kapal Belanda dan bersama Iskandar Muda melawan invasi armada Alfonso de Castro dari Portugis.

Malahayati Ikut menjadikan MARITIM ACEH YANG TERKUAT di Asia Tenggara pada Abad 17.

sumber : Wikipedia dan Museum Aceh

1 reply

Trackbacks & Pingbacks

  1. […] Koleksi Museum Aceh. Image: keluargakusmajadi […]

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *