12 Oktober

Pagi-pagi sekitar jam 8.30 kami sudah berpakaian renang, memakai life vest dan menjinjing kaki katak dan full face mask untuk bersnorkeling di sekitar pantai Iboih.

Kami mengambil paket snorkeling setengah hari lalu makan siang sate gurita di Pulau Rubiah.

Spot pertama adalah bagian muka Pulau Rubiah. Spot snorkelingnya di tepi pantai saja. Walau tidak ada terumbu karang, ikannya banyak dan bervariasi. Banyak parrot fish yang ngjreng dan berukuran besar.

Spot kedua adalah karang piring. Karang lebar dan pipih seperti meja terhampar sejauh pengelihatan memandang. Ikannya juga banyak seperti di Pulau Rubiah.

Spot berikutnya karang batik. Saya nggak tau apa nama umum atau ilmiahnya. Warna warni seperti motif batik sebetulnya datang dari bentuk karang seperti pita pipih coklat dan tersususn sedemikian rupa membentuk corak seperti batik.

Spot terakhir disebut Sri Garden, letaknya di belakang Pulau Rubiah yang membelakangi Teluk Iboih. Di sini bukan karang, tapi ikan yang buanyaaaaak jumlah dan variasinya. Nggak heran disebut sri garden. Kami sempet ketemu Morris Eel, antara takut tapi sayang kalo nggak diliat, kapan lagi liat belut segitu cantiknya.

Pengalaman snorkeling kami relatif tidak banyak; Derawan, Flores, Belitung, Pulau Seribu, Pahawang dan Mandeh. Dari kesemuanya yang pernah dikunjungi, rasanya Sabanglah yang paling banyak jenis ikannya, paling terpelihara terumbu karang khasnya. Padahal akibat Tsunami, jumlah karang dan ikan yang menghilang dan rusak cukup banyak.

Sisa hari kedua dihabiskan bermalasan di tepi teluk. Abah demam dan minta dipanggilkan tukang pijit. Sabiya dan Ambu duduk2 di tepi pantai

Hari ke-3 di Iboih hujan gerimis sejak pagi. Sore sekitar pukul 4 kami bergerak pulang ke kota Sabang. Hari sudah cerah. Kami duduk di tepi laut dan menikmati senja.

Foto menyusul

Lepas dari kenyataan sebagai titik paling Barat Indonesia, Sabang adalah Pulau kecil yang cantik dan sangat teratur. Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, Teluk Sabang telah melayani kapal-kapal besar dari benua Eropa, Afrika, dan Asia.
Sebelum Perang Dunia II, Pelabuhan Sabang sangat penting dibandingkan dengan Singapura. Karena perannya yang semakin penting, pada tahun 1896 Sabang dibuka sebagai pelabuhan bebas untuk perdagangan umum dan pelabuhan transit barang-barang, terutama hasil pertanian dari Deli yang telah menjadi daerah perkebunan tembakau sejak tahun 1863 dan hasil perkebunan berupa lada, pinang, dan kopra dari Aceh. Sabang pun mulai dikenal oleh lalu lintas perdagangan dan pelayaran dunia.

Malam itu setelah sholat dan makan malam, kami masuk ke Pelabuhan Sabang dan tidur di sana. Pukul 7 pagi satu persatu kendaraan memasuki lambung kapal.

Sekitar jam 9 kami sudah tiba kembali di Aceh. Lalu ke bengkel Mitsubishi untuk service rem angin yang rusak ketika di Sabang. Kemudian kami ke museum Aceh, yang tutup hari Senin itu. Jam 12 setelah makan Mie Aceh Razali kita putuskan parkir di bandara sambil edit video dan menjemput Teh Aniel.

Kami bermalam sekali lagi di rumah Yuni. Paginya sarapan bareng Kak Nana kemudian ke Museum Aceh lagi.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *