10 Oktober

Pagi ini Abah dan Om Jo ke bengkel Mitsubishi untuk service 5000km. Kami para Ibu ke TPI untuk membeli ikan buat barbeque an malam hari nanti.

Siangnya kami ke Museum Tsunami.
Walaupun masuknya gratis, museumnya relatif bagus tapi agak kurang terawat. Desainnya apik by the one and only Ridwan Kamil. Konsep desainnya menggabungkan konsep Rumoh Aceh sebagai tempat berlindung, cerobong doa dan gelombang laut kalo nggak salah, sila cek Google for more valid and detail explanation ya.

Kebetulan sedang ada special exhibition, judulnya saya lupa. Disitu diterangkan bahwa Tsunami 2004 bukan tsunami yang pertama kali terjadi di Aceh. Di masa lalu bencana dahsyat yang sama sudah pernah melanda, banyak yang terselamatkan karena kebiasaan menceritakan kembali sebuah peristiwa secara turun temurun sebagai nasehat untuk kewaspadaan bersama.

Ie Beuna adalah istilah masyarakat Aceh di bagian Timur Laut untuk menyebut sebuah peristiwa gelombang air yang muncul beruntun dengan kekuatan besar tak terduga. Disebut dalam catatan naskah kuno ta’bir gempa Aceh karangan Syech Abbas KutaKarang.

Konflik menghadapi bencana sesama manusia, dari abad ke abad memudarkan kearifan lokal ini. Pesan kewaspadaan terhadap bencana tidak lagi menjadi kebiasaan untuk diwariskan.

Mudah-mudahan museum tsunami yang keren ini bisa menggantikan peran kearifan tadi, menjadi pesan untuk masa depan, untuk generasi penerus Aceh.

Malam harinya meriah sekali. Terimakasih pada Yuni sekeluarga yang sudah menerima kami layaknya keluarga. Kita makan ikan bakar dengan bumbu ala Oinan Homestay dari Uni Desti. Isinya cabe giling, kecap, minyak goreng, bawang merah, bawang putih dan kunyit. Hasilnya lumayan mendekati rasa di Oinan. Untuk pertama kalinya juga alat panggang kami turun dari roof rack.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *