Selesai sudah, packing utk barang yang akan dibawa dan didonasikan untuk anak-anak di Flores. Rencananya, sebagian akan dibagikan ke Shoes For Flores, sebagian lagi ke Wae Rebo. Diputuskan, dan alhamdulilahnya, mau (berkat iming2 susu pepaya😂), Paman yang mengantar ke Bandara, pagi buta hari itu. Sabtu, tanggal 22 Juli, jam 2.30 pagi kita bertolak dari Pondok Cabe dengan Nissan Serena Paman yang rusak spion kanannya karena ditabrak motor pagi itu.

Tiba di Bandara ketemu abah yang bbrp jam lalu baru tiba dari KL dan segera check in. Perhitungan bagasi super tepat, hampir ke digit terakhir. Empat karung berisi 100 backpack anak sekolah masuk bagasi. Empat koper kecil masuk cabin.
Ini perjalanan pertama kami melalui bandara baru, terminal 3 nu kasohor. Megah, besar dan nyaman.

Sampai di Kupang pukul 9 pagi WITA. Artinya Jakarta- Kupang ditempuh dalam 3 jam. Transit 4 jam di Kupang dihabiskan dengan menyewa taksi utk keliling kota Kupang kemudian ke pantainya. Sambil mengganjal perut, kami cicipi buah lontar dan pisang bakar ala Kupang. Tiba di bandara, kami menunggu sekitar 30 menit, terus lanjut terbang ke Ende sekitar 1jam.
Tiba di bandara H. Hasan Aroeboesman yang imut, sudah menunggu Om Christ dengan cengiran Pepsodentnya, masih juga dengan gelung gimbalnya. Bedanya dia bersepatu sekarang bukan sendal jepit seperti dulu, keren lah.
Dari bandara, kami makan dulu di restoran yang dulu tutup waktu kami ke Ende 2 thn yll. Makanannya super standar dengan harga sedikit mahal.
Setelah makan, kami pun check in di Hotel Grand Wisata, gak jauh dari restaurant tadi.
Setelah sholat dan meletakan barang, kami jalan ke rumah bung Karno, yg sdh kami ketahui sedang tutup, yah liat2 depannya doang, latian buat besok:D. Setelah itu, kami singgah ke Pantai Ria. Pasirnya hitam, tapi senjanya tetap menawan. Setelah puas menikmati senja, kami pulang ke hotel.

Besok paginya, setelah sarapan bareng Pak Gubernur NTT😁, kami berkunjung ke Rumah Pengasingan Bung Karno dan Taman Perenungan. Menakjubkan, barang2 peninggalan beliau kebanyakan dalam kondisi relatif baik. Ada biola, lukisan, perabotan rumah. Seperti mesin waktu, cerita guide dan barang-barang itu melempar kita ke masa Sang Proklamator masih menghuni rumah itu. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Bung Karno membuat naskah drama dan membentuk grup tonil/teater. Oh ya, rumah tsb adalah rumah pemberian dari sahabat Bung Karno di Ende. Rupanya penduduk di kota kecil ini, sudah tahu kehebatan orang yang diasingkan di daerahnya itu. Di taman perenungan, masih berdiri kokoh Pohon Sukun bercabang 5 yang konon mengilhami lahirnya Pancasila. Puas belajar sejarah sang proklamator, perjalanan dilanjutkan ke Pantai Batu Biru/Nangapanda dan makan siang dekat situ. Kami makan ikan kakap merah bakar. Ini patut dicatat sebagai tonggak sejarah bagi Hakim yang utk pertama kalinya di usia dewasa, makan ikan laut (non salmon) dengan kesadaran sendiri.

Menuju Riung perjalanan relatif monoton hingga tibalah kami di Nagekeo. Formasi perbukitan yang meranggas begitu cantik dan tak lazim tersuguh sepanjang jalan. Kami berhenti beberapa kali utk berfoto. Kami melewati rumah-rumah bedeng yang sangat teratur susunannya. Betul saja, rumah-rumah itu dihuni oleh pendatang dari Bajawa. Semacam program transmigrasi mungkin yang dicanangkan oleh pemerintah. Padahal dilihat sekilas, daerah ini tidaklah hijau. Mungkin karena sedang kemarau. Sepanjang jalan kami bertemu hewan-hewan ternak yang kebanyakan bantuaan dari program pemerintah, seperti sapi, babi dan kambing bandot.
Oh ya, ada hal menarik lainnya yg kami amati di sini, dlm perjalanan menuju Riung ini. Terlihat gereja dan mesjid silih berganti nampak bediri di beberapa tempat. Kerukunan agama sangat terpelihara di sini; hal yang sudah mulai langka di medsos:-D

Christian agak tergopoh-gopoh menyetir, rupanya dia ingin kami melihat senja dari ketinggian di sebuah tempat bernama Pulau 13. Konon dari tempat itu bisa tampak 13 pulau. Pemandangan ke laut sendiri relatif biasa saja, apalagi air sudah mulai surut. Hingga akhirnya sang matahari mulai kembali ke peraduannya. Landscape keemasan dengan cahaya redup menjadi latar memukau Pulau 13.
Setelah senja menghilang, kami pun kembali masuk mobil dan melaju ke Riung, tujuan kami untuk 3 hari ke depan. Tiba malam hari, rupanya ada kesalahpahaman antara Christ dan staf Nirvana. Awalnya kami dapat kamar kecil utk 2 org saja. Padahal kami pesan 2 kamar. Tak lama, petugas hotel menyampaikan kalau family room dengan 4 tempat tidur, available utk kami tempati malam itu. Jadilah kami angkut barang malam2 pindah kamar. Tak apa, toh kamarnya jauh lebih besar dan nyaman buat kami ber4. tak banyak cerita tersisa malam itu, selain abah dan anak-anak yg makan malam ber3 saja.
Esok paginya setelah sarapan, jam 8an kami diantar Christ ke dermaga utk bertolak ke Pulau.
Kami ke Pulau Kalong dulu, melihat kelelawar bergantungan. Nakhoda kapal sibuk membuat suara anjing menggonggong demi membuat kalong-kalong itu bangun dan terbang ketakutan. Trik ini cukup berhasil. Sejenak, kalong-kalong itu panik berterbangan ke sana kemari meninggalkan dahan tidurnya.
Puas menganggu kalong, tujuan berikutnya yaitu Pulau 3. Rasanya ini adalah pulau tercantik yang pernah kami kunjungi. Airnya biru hangat bersahabat dilatari perbukitan coklat khas Flores. Pemandangan bawah lautnya tidak terlalu istimewa, karena kami hanya berani snorkeling di pinggir2 saja. Malas dan takut ke tengah😅. Tapi di pinggir saja sudah menyenangkan sekali.
Kami makan siang di pulau ini. Kapten kapal bertindak sebagai chef sekaligus, menyuguhi kami dengan makan siang khas pulau; cumi-cumi dan ikan kakap merah bakar hasil ‘tangkapan’ pagi tadi. Ini kali kedua Hakim makan ikan, yay.
Selesai makan siang, jangkar ditarik, kami berlayar menuju pulau rutong. Di sini kami treking ke bagian tertinggi pulau, melihat pantai dari ketinggian. Sudah diduga pemandangannya kelas dunia pun terhampar. Laut kebiruan bertemu pasir putih di tepi pulau. BTW, Ambu satu2nya yang berhasil naik. Abang memilih stay di bawah sementara Biya dan Abah memilih pulang di tengah perjalanan.
Tak lama sesampainya kami di bawah, kami diminta segera pulang karena air akan segera pasang. Oh ya baik pulau tiga atau pulau rutong ini ternyata sering dipakai kemping.

Kami tiba di hotel masih siang, ada waktu lebih dari cukup untuk membersihkan badan dan pakaian renang untuk digunakan di Labuan Bajo nanti. Oh ya, siang itu, Christ kepleset di dermaga, 2 handphone nya wafat seketika. Turut berduka ya Christ.
Tepat setalah kami semua selesai bebersih, lampu pun padam. Pemilik hotel mengantar senter utk kami gunakan di kamar.

Malamnya kami jalan kaki dalam gelap tapi beratapkan langit bertabur bintang, ke Hotel Del Mar utk mencicipi masakan di restoran nya. Rupanya restoran sudah penuh, kami tak dapat tempat duduk. Akhirnya kami jalan balik ke Nirvana dan makan malam di sana. Di tengah jalan listrik menyala kembali. Malam itu kami berkenalan dengan pasangan Prancis yang sudah 6x ke Indonesia dan 3x diantaranya mereka ke Flores. Mereka cerita kalau mereka akan ke Sumba Timur (next on our list!). Mereka juga terheran-heran mendengar kami mau ke Wae Rebo, gimana sih, sudah 3x ke pulau ini, tapi nggak pernah dengar wae rebo 😌. Yah namanya juga bukan negara sendiri yak.

Esok paginya setelah sarapan kami pun bertolak untuk menuju Bajawa. Perjalanan kali ini, membawa kami melihat sisi lain dari Pulau cantik ini. Selain gunung dan pantai, rupanya Flores diam-diam punya juga savana, seperti yang sering kita lihat dari foto2 di Sumba. Christ menyebut perjalanan ini sebagai safari tour. Beberapa kali kami berhenti utk mengambil gambar dan menikmati angin kering namun sejuk yang berhembus bebas di savana ini.

Gunung Stratovolcano Ambulembo (2,149m dpl) sudah menampakkan diri sejak savana tadi. Semakin lama semakin jelas dan dekat. Hingga akhirnya penamapakannya berakhir di tempat kami makan siang, di Borong(?). Sebuah warung jawa yang dikelola oleh (sepertinya) mantan tkw yang sudah jadi tokeh dan para stafnya.
Perjalanan dilanjutkan ke Soa, sebuah pemandian air panas di Bajawa. Soa tidak sealami pemandian air panas yg kita datangi 2thn yll, tapi juga punya keunikan tersendiri. Selain jeram2 kecil juga pertemuan 2 sungai berair dingin dan panas, terdapat juga sebuah kolam tempat mata air berasal. Jadi seperti jacuzzi raksasa dimana mata air masih membuncar-buncar membludag-bludag mengepulkan asap.
Abah dan Ade berendam di sini. Sementara abang memilih mengeksplor daratannya saja. Dan ambu terlalu malas berganti baju.
Dari Soa, tibalah kami di Bajawa. Udara dingin mengigit tulang menyambut kami. Hotel Edelweiss tidak sebaru yg dikira. Hotelnya bertingkat-tingkat ke belakang. Rupanya bangunan baru barusan saja selesai dan belum siap untuk dipakai. Kami harus puas dengan kamar lama yang nun jauh di atas. Tak apalah, yg penting ada air panas, tak ada yg lebih penting dari itu untuk tempat sedingin ini. Malamnya kami keluar mencari makan. Setelah mencari obat batuk buat tenggorokan yang mulai gatal dan belanja perbekalan esok hari, kami pun memilih sebuah warung ikan bakar. Ini salah satu dari sedikit pilihan rm makan halal selain rm makan padang di Bajawa. Kami nggak yakin kalau rendang atau ayam bakar Padang bisa dinikmati hangat2, di udara sedingin itu. Kenapa harus rm halal? Berlainan dg Ende dan Riung yang penduduknya muslim, mayoritas penduduk Bajawa adalah Katolik. Ini adalah kali ke3 Hakim makan ikan kakap, super yay.
Besok pagi, setelah sarapan di hotel, kami berangkat menuju Denge. Perjalanan bbrp km pertama ditemani Gunung Inerie. Masih seperti dulu, tegak anggun dengan kerucutnya. Kemudian kami singgah di Danau Ranamese. Memuaskan penasaran Hakim akan manusia kera yang diceritakan Om Christnya. Sholat Dzuhur dan Ashar kami tunaikan di kota Ruteng. Di sebuah mushola yang didirikan oleh muslim yang migrasi dari Ende. Dari Ruteng kami pun bergerak menuju Dintor. Setelah bebebapa saat menyusuri trans Flores, mobil berbelok ke kanan, menyusuri jalan yang lebih kecil dan kadang berbatu, rusak di sana sini. Hingga menjelang maghrib, kami masih tidak sadar kalau perjalanan masih jauuuh sekali. Hari semakin gelap, jalan semakin banyak yang rusak. Terguncang-guncang dalam kegelapan, diapit hutan di kanan dan kiri terus terang bukan pengalaman yang menyenangkan untuk di kenang. Kadang mobil berpapasan dengan motor, untuk kemudian gelap gulita kembali menyelimuti jalan. Sunyi senyap sepanjang jalan. Terbersit penyesalan, ngapain juga bawa-bawa anak-anak ke sini. Kalau tiba-tiba mobil mogok/habis bensin/ban mletus gimana. Mengusir bayangan buruk sama sulitnya dengan berusaha tidur. Oh ya, selain motor, kadang kita berpapasan dengan truk angkutan desa yang memasang musik kuat-kuat di tengah sunyi hutan. Sholat maghrib dan Isya kita tunaikan di Dintor, sekitar 9km sebelum Denge. Tidak ada air, kami pun bertayamum saja. Perjalan pun kembali dilanjutkan. Kali ini kita melewati laut dan pulau mules. Alih-alih lebih mudah, tantangan semakin berat harus kami lalui. Jalan berlubang, jembatan yang rusak parah harus dilalui dengan hati-hati. Walau berjalan di tepi laut dengan penerangan dari bulan, tetap saja gelap bagi mata kami yang terbiasa dengan listrik melimpah di kota.
Setelah terguncang-guncang hampir 5 jam sejak meninggalkan trans Flores tadi, akhirnya sampailah kami di Denge, di penginapan Pak Blasius Monta yang sedang keluar memenuhi undangan di desa. Setelah makan malam berupa nasi campur jagung, mie goreng dan telur dadar, kami pun bersiap tidur. Ketika hendak menggantung baju di balik pintu, terlihat seperti serangga kecoklatan kecil menempel di pojok pintu. Pelan-pelan diamati, ternyata itu adalah bayi kalajengking. Kemudian petugas penginapan membawa sebilah pisau pendek yang bengkok dan mengiris tubuh bayi kalajengking itu. Kami pun lalu tertidur. Malam pun berakhir, tidak terlalu dingin rupanya, masih lebih dingin Bajawa. Pagi hari kami berjumpa Pak Blasius, beliau banyak bercerita soal Wae Rebo terutama sejarah pariwisatanya. Bahwa Wae Rebo ternyata sudah kesohor di kalangan petualang Eropa. Kabar tentang sebuah desa di atas awan dengan rumah tradisional yang unik, beredar dari mulut ke mulut. Alkisah seorang pendeta katolik misionaris asal Jerman yang pernah mengunjungi desa ini di awal tahun 1900an. Masih tersisa jejak peninggalan para misionaris tsb, sebuah SD Katolik di Denge, desa terakhir berjarak 9km dari Wae Rebo, masih berdiri tegak sejak 1930an.
Turis asing pertama menjejakkan kaki di desa tersebut sekitar tahun 1980an, berasal dari Austria. Setelah itu turis asing terus berdatangan. Sedangakn turis lokal baru datang sekitar tahun 1995. Sebuah yayasan ecotourism berinisiatif untuk meregulasi pariwisata wae rebo. Dibangunlah satu bangunan khusus bagi tamu menginap sebagai tambahan dari 5 bangunan yang sudah ada. Selain itu, lembaga ini juga mengupayakan pelestarian terhadap rumah yang ada, yang sudah berdiri ratusan tahun dan memerlukan perawatan.
Setelah sarapan, kami pun berangkat ke Wae Rebo. Dua km pertama ternyata bisa ditempuh dengan motor. Tentu saja ambu tidak melewatkan kemudahan ini. Begitu juga Hakim dan Sabiya. Abah, Crist dan pemandu kami memilih untuk berjalan kaki. Kami berjumpa di sebuah jembatan. Di depannya terbentang hutan dengan jalan setapak yang menanjak. Sekitar 4km jauhnya. Pagi itu banyak turis yang baru saja turun, ada turis klub fotografi dari Thailand, sebagian lain turis bule dari berbagai negara. Sebagian kecil saja turis lokal. Kami pun mulai bergerak perlahan, ditemani matahari yang mulai tinggi. Syukur pada hutan yang relatif rapat, terik matahari tidak terlalu terasa. Jalanan tidak terlalu kering atau basah, lembab saja, sangat memudahkan perjalanan. Tanjakan demi tanjakan seolah tak ada habisnya, hingga akhirnya setelah pos 2, jalanan mulai mendatar, beberapa kali kami berpapasan dengan penduduk wae rebo yang mau turun. ramah sekali. Di jalan mendatar ini kami banyak menemui batang kayu yang sdh dikuliti, tergeletak terikat rapi di beberapa ruas jalan. Ternyata belakangan kami baru tahu bahwa itu adalah batang pohon kayu manis yang sdh dikuliti. Tak lama, pepohonan di sepanjang jalan mulai seragam; kopi. Desa Wae Rebo sdh dekat, hingga akhirnya tampak bangunan pondok dari kayu. Inilah pos terakhir sebelum desa. Di pondok terdapat kentongan bambu yang harus dipukul, sebagai pemberitahuan pada warga desa bahwa akan ada pendatang yang berkunjung.
Tiba di desa waktu sudah menunjukkan pukul 12.30siang, sehingga waktu hiking adalah sekitar 2.5jam. Kami didambut di rumah utama. Di sini kami berjumpa dengan Pak Alex sebagai ketua kampung, generasi ke 19.

BersambungWaerebo (124).jpg

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *