30-31 Desember

Pagi setelah sarapan, masing-masing memulai aktivitasnya. Anak-anak belajar, abah mengedit video dan ambu ngemil coklat sambil nulis blog.

Nggak kerasa Dzuhur terlewati, menjelas Ashar kami putuskan untuk menginap semalam lagi di Dieng. Walaupun kedinginan, udara segar dan melimpahnya oksigen lama-lama bikin kami betah juga. Kami tidak terlalu banyak berharap cuaca akan cerah. Targetnya supaya bisa nginep semalam lagi tanpa kepanasan seperti biasanya😁.

Alhamdulilah, alam berbaik hati. Dini hari itu cuaca cerah! Hujan dan angin seperti menghilang. Langit bersih. Kami pun bergegas mengganti pakaian dan membangunkan anak-anak. Sekitar 10 menit setelah meninggalkan truk, adzan Subuh berkumandang. Kami pun sholat Subuh di salah satu warung yang menyediakan musholla. Tak lupa dengan pesan Mbak Anna, kami membeli semur kentang untuk bekal trekking pagi itu. Trek ramai sekali, seperti pasar. Bersama pengunjung lain, perlahan-lahan kami mulai menyusuri jalan setapak menuju puncak Sikunir. Beberapa kali kami berhenti untuk minum dan mengisi perut dengan bekal kentang semur tadi. Lumayan untuk menambah tenaga dan menghangatkan perut. Walaupun MSGnya terasa sekali😜.

Tepat sebelum matahari terbit, kami tiba di puncak yang sudah padat oleh pengunjung dan mulai mencari spot terbaik untuk memandang kemunculan sang surya. Dari puncak Sikunir, beberapa puncak gunung terlihat jelas; Puncak Gunung Sindoro, Sumbing, Merbabu dan Merapi. Pelan-pelan kabut yang menutupi Gunung Sindoro tersingkap dan semburat cahaya jingga mulai muncul.

Air mata yang pelan-pelan nitik buyar oleh seruan ribut pengunjung. Momen yang seharusnya spesial dan khusu’ jadi berisik tidak keruan.

Kabut semakin menipis, dan cahaya jingga keemasan semakin mendominasi langit di atas Sindoro.

Lama-lama langit semakin terang. Awan berarak mengitari Puncak Sindoro.

Ketika langit sudah benar-benar terang, akhirnya kami turun. Sampai di truk kami berkemas dan bersiap untuk beranjak.

Ada beberapa tempat di Dieng yang ingin kami kunjungi terlebih dahulu. Tempat pertama yang kami tuju Dieng Theatre. Ini seharusnya jadi tempat pertama yang dikunjungi di Kompleks Wisata Dieng ini. Karena di Dieng Theatre ini diputar film berdurasi sekitar 15 menit bercerita tentang asal usul Dataran Tinggi Dieng dari segi Geologi. Diceritakan juga mengenai kawah-kawah dan potensi panas bumi di kawasan ini. Kawadan Dieng terbentuk dari lerusan gunung api raksasa purba, Gunung Prahu. Akibat letusan ini, sebagian puncaknya amblas dan membentuk dataran tinggi, rata-rata 2000mdpl. Terdapat 7 kaldera di area ini. Pada tahun 1979 salah satu kaldera ini, Kawah Sinila meletuskan gas beracun yang menyebabkan kematian 149 jiwa.

Dari Dieng Theatre, kami ke Kompleks Candi Arjuna. Sewaktu mau parkir, truk kita kejeblos di parkiran rumput. Winch yang terpasang di depan truk tidak pernah dipakai sebelumnya dan kita nggak tau gimana cara memakainya. Untungnya beberapa orang berkerumun di sekitar mobil. Di antara mereka ada yang paham cara mengoperasikan winch, ada yang nyetirin truknya, naro-naroin batu untuk ambalan, narikin tali winch, mengusahakan truk penarik, sampe kasi aba-aba.Nggak sampai setengah jam kemudian, truk keluar dari jebakan lumpur. Semoga amal baik Bapak-bapak sekalian dibalas Allah SWT.


Dieng yang arti katanya tempat persemayaman dewa, maka tak heran Dinasti Sanjaya pada abad 8 menjadikan tempat ini sebagai pusat pemujaan. Konon dulu terdapat lebih dari 200 candi di area ini, karena bencana hanya tinggal 8. Kompleks Candi Arjuna terdiri dari 3 candi. Kami sempat mencari guide untuk membantu kami memahami sejarah candi. Karena tidak ada guide, maka kami tidak berlama-lama di Candi Arjuna. Keadaannya pun menjadi tidak lebih dari tempat wisata. Beberapa pengunjung tampak berfoto dengan memanjat candi. Artefak berusia 13 abad tak lebih dari latar selfie saja.

Dari Dieng, kami turun ke Solo l, nyusul Paman Gege, Safira, Salman dan Tante Juha.

1 reply

Trackbacks & Pingbacks

  1. […] Ketika tiba di Danau Tamblingan, Pakde Bebe dan Abah memilih lokasi untuk parkir dan bermalam. Dipilihlah lokasi dekat danau. Mobil yang tadinya parkir sekitar 200 meter dari danau, dibawa mendekat ke danau. Apa daya, ternyata ban masuk ke area yang lunak dan ban belakang sukses terjebak di kubangan lumpur sama seperti ketika ke Dieng. […]

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply to Kemping Di Danau Tamblingan | Kusmajadi's Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *