31 Maret – 1 April

Hari masih sore ketika kami menepi di Pelabuhan Calabai sepulang dari Satonda. Tujuan berikutnya adalah Desa Pancasila berjarak sekitar 45 menit dari sini. Di tengah jalan Ambu mengisi ulang kulkas dengan telur, kacang panjang, kubis dan tomat.

Untuk sampai di Desa Pancasila kami melewati Kantor Polisi Hutan Pancasila yang kelihatannya baru dibangun lengkap dengan homestay sebagai tempat transit para pendaki. Kontak yang akan kami temui di Desa Pancasila adalah Bang Ipul. Nama beliau memang akrab di kalangan pendaki Tambora. Sebelum menjadi Polisi Hutan seperti sekarang, selama bertahun-tahun Bang Ipul menjadi guide dan trekking organizer di Tambora. Tak lama truk memasuki sebuah perkampungan. Rumah Bang Ipul terletak tepat di depan lapangan desa, sebuah padang rumput seluas lapangan sepakbola yang juga berfungsi sebagai tempat ternak sapi merumput. Sore itu sinar matahari senja membuat lapangan jadi coklat keemasan. Kami lalu parkir di situ. Udara di sini sejuk, artinya kami bisa tidur nyaman tanpa kegerahan malam nanti.

Bang Ipul sedang membersihkan halaman homestaynya ketika kami tiba. Setelah ngobrol dan menyusun rencana perjalanan untuk esok hari, kami pamit kembali ke truk.

Lepas Maghrib listrik mati. Lapangan dan sekitarnya gelap gulita. Ketika sedang menyiapkan bahan makanan untuk santap malam, nampak sesosok tubuh memperhatikan kami dari luar. Kemudian Ambu keluar dan menyapanya. Suaranya kecil, tidak pasti apakah perempuan atau laki-laki. Setelah mengobrol beberapa saat, akhirnya mau juga dia naik ke truk dan nampaklah sosoknya. Namanya Adhar, umurnya 12 tahun dan dalam perjalanan pulang dari surau. Adhar duduk dan berbincang banyak dengan kami mengenai keluarga dan pekerjaan sambilannya sebagai pemetik jagung. Sungguh kisah yang tidak biasa bagi kami, mengharukan dan penuh perjuangan. Tidak lama berdatangan beberapa bapak dan ngobrol dengan kami. Ba’da Isya Hakim dan Adhar pamit untuk mengunjungi rumah Adhar. Pukul 9 Hakim pulang sendiri dan membawa cerita tentang keluarga Adhar.

Keesokan paginya Bang Ipul dan 3 pengendara motor lain sudah siap untuk mengantar kami berjalan-jalan di seputar Desa Pancasila. Tujuan pertama adalah Pintu Belajar yang didirikan oleh Mbak Mega di desa atas Pancasila. Mbak Mega adalah alumni Indonesia Mengajar yang pernah mengajar di salah satu SD di sini tahun 2015 lalu. Selain bruga sederhana yang dipakai untuk belajar setiap sore, terdapat juga beberapa buah rak berisi berbagai macam buku sebagai perpustakaan bagi penduduk setempat. Ada semangat besar terpancar dari tempat sederhana ini. Perpustakaan ini representasi dari sikap pantang menyerah para pendirinya, meretas segala keterbatasan di tengah keterpencilannya. Saya berdoa diam-diam dalam hati semoga apa yang dicita-citakan oleh pendiri Pintu Belajar ini bisa tercapai, amin yra.

Tujuan berikutnya Rumah Besar, yaitu rumah peninggalan Belanda yang dijadikan homestay. Kami bertemu dengan Mbak Mega dan kawan-kawannya yang baru saja turun dari Gunung Tambora.

Di Rumah Besar ini juga terdapat beberapa foto dan artefak berasal dari eskavasi di lereng Tambora. Konon ketika meletus tahun 1815, Gunung Tambora menghancurkan tiga kerajaan di lerengnya yaitu Kerjaan Sanggar, Tambora dan Pekat. Artefak-artefak ini diduga merupakan peninggalan ketiga kerjaan ini.

Tempat ketiga adalah pabrik kopi tua peninggalan Belanda. Tanahnya yang subur dan ketinggian di 1200mdpl menjadikan lereng Tambora tempat yang ideal bagi pertumbuhan kopi. Sebuah film dokumenter merekam bagaimana kopi Tambora sudah dikembangkan menjadi sebuah argo industri di tahun 1900an.

Kendati sudah tua, pabrik pengolahan kopi ini masih dipakai oleh penduduk sekitar untuk mengolah kopi dari kebun mereka, walaupun sebagian mesin-mesinnya sudah diganti.

Ketika Belanda pergi, kebun kopi Tambora kemudian diambil alih oleh pemerintah dan saat ini menjadi bagian dari kawasan Hutan Negara . Dengan status meminjam, oleh penduduk lahan ini dikelola dengan sistem Tumpang Sari, tanaman kopi ditanam di sela pohon-pohon besar dengan syarat pohon-pohon tsb tidak diganggu. Satu orang warga hanya bisa menempati lahan 2 hingga 6 hektar.

Tujuan terakhir adalah Pura Agung, situs kuno peninggalan umat Hindu Majapahit yang konon sudah ada sebelum Tambora meletus. Ketika ditemukan pertama kali ukurannya tidak seluas sekarang. Menurut Bang Ipul tempat ini sering dikunjungi oleh pembesar-pembesar dari berbagai daerah dengan berbagai tujuan. Selain sejarah pura, pohon-pohon besar di halaman pura ini juga menarik perhatian kami. Perlu 5-6 orang dewasa untuk bisa memeluk pohon-pohon ini. Konon dulu lereng Gunung Tambora dipenuhi oleh pepohonan sebesar ini. Sekarang pohon-pohon ini hampir habis akibat deforestasi oleh Konsesi HPH dari tahun 90an hingga sekarang.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *