28 Januari

Ketika mulai perjalanan September tahun lalu, sebuah surat menghampiri inbox saya. Pengirimnya dari seseorang bernama Ida Pedanda Putra Talikup. Beliau mengenal saya melalui tulisan Mbak Iwed di FB/Blognya. Beliau menawari kami untuk singgah dan tinggal di rumahnya jika sampai di Bali.

Check out dari Bukit Asah Desa Bug-bug kami bergerak ke Desa Muncan, tempat Ida Pedanda tinggal.

Sekitar 1 jam kemudian kami tiba di depan sebuah komplek rumah Bali yang asri. Di depannya terdapat papan nama Griya tsb. Tidak lama, seorang pria paruh baya, berwajah ramah berbaju putih dengan janggut sedada dan rambut digulung ke puncak kepala, menyambut kami. Truk pun diparkir di pekarangan. Di area ini terdapat dua carport. Lalu agak ke bawah ke area kolam ikan, ada dua buah bangunan seperti bungalow mengelilingi kolam. Di pekarangan ini terdapat gerbang yang menuju bagian lebih dalam lagi. Ida Pedanda lalu mengajak kami masuk ke bagian dalam. Di dalam terdapat beberapa bangunan dan sebuah gerbang lagi. Di dalam bangunan setelah gerbang itulah Ida Pedanda dan istrinya tinggal. Kami masuk ke gerbang lapis kedua lalu dipersilahkan duduk di teras salah satu bangunan yang rupanya kamar tempat tinggal Pedanda dan istrinya. Di area paling dalam ini terdapat 3 bangunan lain; dapur, kamar putera puteri Pedanda dan bruga.

Kami ngobrol-ngobrol sejenak, berkenalan dan bertanya mengenai Bali dan budayanya sambil menikmati jajanan tradisional khas Bali . Pedande bercerita perjalanan beliau menjadi Pedande. Pedande yang lulusan Teknik Elektro ITB ini, sebelumnya adalah seorang pejabat tinggi di PLN Pusat dan pernah menjadi sekretaris Dahlan Iskan ketika beliau menjadi Dirut PLN. Sedangkan Pedande istri adalah seorang Dokter. Adalah catur asrama merupakan tingkatan hidup dalam ajaran Hindu;

1. Brahmacari: fasa menuntut ilmu

2. Grehasta : fasa berumahtangga

3. Wanaprasta : pensiun, menjauhkan diri dari nafsu dunia

4. Sanyasa : lepas dari dunia sama sekali.

Dan halnya bagi Pedande dan istri, mengabdikan diri menjadi Pedande merupakan perwujudan fasa Wanaprasta. Proses panjang dan sejumlah ‘pengorbanan’ harus ditempuh menuju kehidupan sebagai Pedanda.

Tak lama, makan siang dengan menu khas Bali dihidangkan. Oleh Pedanda dan istri kami diberi kamar bungalow dekat kolam ikan untuk bermalam selama di Desa Muncan.

Kami tiba sehari sebelum acara Ngaben seorang Pemangku Adat. Setelah makan siang, kami menyaksikan acara pra Ngaben yaitu acara memandikan jenazah yang dipimpin oleh Ida Pedanda sendiri.

Prosesi memandikan dimulai sekitar pukul 3 yang dilakukan oleh pemangku Adat dan keluarga. Bunga, air dan dupa menjadi komponen utama dalam upacara ini. Ida Pedanda melantunkan doa-doa. Prosesi berlangsung sekitar 2 jam, diakhiri dengan menikmati sesajen berupa babi panggang. Kami pun pulang dan membersihkan diri sebelum makan malam. Setelah makan malam kami ke pasar untuk melihat pertunjukan Sabung Ayam.

Ayam yang akan diadu akan dipasangi semacam taji buatan pada salah satu kakinya. Lalu dilepas di arena untuk diadu. Pertandingan berakhir ketika salah satu ayam terluka parah. Ayam yang kalah segera disembelih di luar arena.

1 reply

Trackbacks & Pingbacks

  1. […] pertengahan 5 bulan yang lalu, kami hampir nggak pernah makan bubur. Ada sekali waktu di rumah Ida Pedanda, kami disuguhi bubur Bali, toppingnya urap […]

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *