14 November
Ada beberapa tempat yang ingin kami datangi di Baubau. Untuk memudahkan mobilisasi, kami putuskan untuk menyewa mobil. Baubau sarat dengan sejarah. Sebagai salah satu kerajaan yang masyhur di Nusantara, Kerajaan Buton meninggalkan banyak jejak berupa peninggalan sejarah di Baubau. Salah satu ikonnya adalah Benteng Keraton Buton yang dibangun abad 16 oleh Sultan Buton III. Terbuat dari batu karang, membentang sejauh 2,74km mengelilingi area seluas 23,375 ha dan diklaim sebagai benteng terluas di dunia. Di dalam benteng ini terdapat beberapa istana dan mesjid yang masih utuh berdiri terawat hingga sekarang serta rumah penduduk. Banyak fakta menarik dari  sejarah Kerajaan Buton. Raja pertamanya adalah seorang perempuan bernama Wa Kaa Kaa. Menariknya di kerjaan yang berdiri 7 abad yang lalu, bukan hanya 1 raja perempuan, setelahnya ada 5 perempuan lain yang memerintah Buton.  Rajanya yang keenam mulai memeluk agama Islam dengan gelar Sultan Murhum. Kedudukan Raja tidak diturunkan, melainkan melalui proses pemilihan oleh lembaga semacam Dewan Syuro’. Buton adalah salah satu kawasan di Indonesia yang tidak pernah dijajah Bangsa Eropa, melalui diplomasi, Kerajaan Buton menjalin kerjasama perdagangan dengan Eropa. Karenanya Pedagang Buton sudah melanglang buana keliling dunia hingga ke Madagaskar.
Setelah makan siang, kami mengeksplor area di luar Baubau dan kembali ke Baubau menjelang senja. Sebetulnya Abah ingin sekali mengunjungi area tempat komoditi  terkenal dari Buton yaitu aspal. Namun tempatnya jauh sekali dari pusat kota sehingga terpaksa dicoret dari itenerary. Kami lalu kembali ke hotel, keluar sebentar untuk makan malam dan ngopi di kios depan hotel. Kami lalu berkemas dan bersiap untuk check out karena  pukul 11 malam nanti kami akan naik Jetliner yang akan membawa kami ke Wanci. Jam 9.30 malam kami sudah sampai di Pelabuhan Baubau untuk sekalian mengembalikan mobil yang kami sewa. Setelah menunggu sekitar 15 menit di ruang tunggu, panggilan pada penumpang untuk menaiki kapal mulai berkumandang. Kami naik ke kapal dengan tidak berharap banyak akan kondisi kapal. Seperti yang sudah-sudah, kondisi kapal biasanya di bawah standar, terutama di daerah jauh dari ibukota seperti di sini. Penumpang biasanya menumpuk di dek penumpang beralas kasur yang entah sudah berapa ribu kali ditiduri. Satu kasur biasa ditempati beberapa orang karena jumlah penumpang melebihi kapasitas. Kondisi kapal biasanya panas, pengap dan berbau. Namun kami terkejut melihat kondisi kapal Jetliner milik Pelni ini. Setelah menaiki tangga, kami dihadapkan pada ruangan yang luas dengan kursi dan meja bersusun berkelompok seperti di restoran. Udaranya tidak panas dan pengap, walaupun tidak sejuk-sejuk amat karena jumlah unit AC tidak seimbang dengan luasnya ruangan. Ruangan juga relatif bersih. Kami lalu memilih sebuah tempat di tepi jendela berbagi dengan penumpang lainnya. Ambu lalu berjalan-jalan dan menemukan dua set meja kosong dengan dua bangku berhadapan di ruangan lainnya. Meski bukan di tepi jendela dan jauh dari AC, area ini cukup bersih dan nyaman. Kami berempat bisa tidur di 4 bangku ini.
Jam 11 suling kapal berbunyi 3x menandakan kapal akan berangkat meninggalkan Baubau menuju Wanci. Selamat tinggal Buton, terimakasih untuk semua kebaikan.
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *