6-7 Januari

Kami tiba di Klapaduwur setelah Maghrib. Kebetulan Mbah Lasio dan istrinya, sesepuh Sedulur Sikep di Klapaduwur sedang ada di desanya. Malam itu kami sempat ngobrol. Mbah Lasio bahkan memanggil kawannya yang lebih fasih berbahasa Indonesia untuk berbincang dengan kami.

Masyarakat Samin, biasa komunitas ini disapa, awalnya merupakan gerakan perlawanan secara non fisik terhadap penjajah Belanda. Salah satunya dengan menolak kewajiban membayar pajak.
Dicetuskan oleh Samin Surosentiko pada tahun 1890. Inti ajarannya adalah akhlak mulia pada sesama dan meraih kemuliaan hidup sesudah mati. Kekayaan bagi masyarakat Samin adalah pengetahuan, eling(ingat) dan sabar.
Paham ini menyebar pesat di kalangan petani dan membuat penjajah resah, maka pada tahun 1908 Samin Surosentiko ditangkap dan diasingkan ke Sawah Lunto, Sumatera Barat.
Waktu kami ke Sawahlunto di perjalanan Sumatera, kami sempat berkunjung ke Lubang Mbah Suro. Sebuah lubang bekas penambangan batubara. Dinamakan demikian untuk mengenang jasa Mandor Suro yang bijak dan meninggalkan kesan mendalam di kalangan pekerja batubara saat itu.
Peran Mbah Surosentiko dilanjutkan oleh menantu dan keturunannya, Mbah Lasio, di foto kedua dari kanan.

Malam itu kami tidur nyenyak. Karena AC nyala full sampai pagi. Jadi selama ini batere dari solar panel jarang sekali bisa full terisi, sehingga pemakaian AC tidak bisa sepanjang malam, paling hanya 2 jam. Sisanya kalau tidak berkipas angin, membuka jendela lebar-lebar atau mengisi batere dengan diesel dulu. Nah malam itu karena energi yang tersisa di batere sedikit, sementara udara panas sekali, maka saya membypass batere, lalu menyalakan AC langsung bertenagakan genset.

Paginya kami sarapan dan makan disuguhi si mbah. Mbah Lasio dan istri bahkan sempat baik truk dan ngobrol di dalamnya.

Setelah bebenah dan numpang mandi, kami pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Bojonegoro. Di Bojonegoro kami sempat ketemu teman Mbak Hernik. Pak Heru memberitahu kami tempat-tempat yang bisa dikunjungi di Bojonegoro, antara lain kebun belimbing milik masyarakat desa dan Wonocolo, kota wisata minyak.

Kami ke kebun Belimbing dulu lalu ke Wonocolo. Dalam perjalanan ketika sudah memasuki area Wonocolo, pompa angguk milik Pertamina, mulai terlihat di sisi kanan dan kiri jalan. Beberapa diantaranya sudah berusia lebih tua dari negeri ini.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *