8 Mei

Pagi selepas sholat subuh kami bersiap berangkat Pelabuhan Tenau untuk menyebrang ke Pulau Rote. Barang sudah disiapkan sejak semalam. Selain bekal pakaian dan makanan, kami juga membawa sleeping bag dan tikar. Persiapan untuk selonjoran di kapal. Kapal dijadwalkan pukul 9 pagi. Kami tiba sekitar pukul 8.

Dua hari terakhir kami memang bolak-balik ke pelabuhan dan tiket counter untuk mencari info mengenai jadwal dan harga tiket untuk menyebrang. Kami mendengar bahwa laut sedang tidak bersahabat dan ini mempengaruhi jadwal keberangkatan kapal.

Tiba di pelabuhan penumpang sudah ramai memenuhi gerbang keberangkatan. Namun pintu masih terkunci rapat. Rupanya cuaca masih tidak kondusif untuk penyebrangan. Tidak ada petugas resmi yang mengumumkan batalnya penyebarangan. Namun bagi penduduk, hal ini lazim terjadi, tanpa pengumuman resmi, mereka sudah paham apa yang terjadi.

Satu persatu penumpang pulang kembali. Kami terduduk di tepi jalan. Barang-barang kami geletakkan di atas tanah. Kami berembug untuk rencana berikutnya. Naik pesawat ke Rote rasanya masih terlalu mahal dibanding naik ferry. Maka kami pun mufakat untuk menunda kepergian ke Rote sampai cuaca tenang. Dan halnya untuk hari ini, kami putuskan untuk ke Alor dulu. Kebetulan untuk ke Alor kami memang sepakat memakai pesawat terbang dikarenakan perjalanan menggunakan kapal terlalu lama, sekitar 12 jam.

Maka Ambu segera membeli tiket return untuk berempat ke Alor yang kebetulan masih available untuk siang itu. Kami menyewa Avanza ke bandara. Dan tiba di bandara sekitar satu jam sebelum berangkat.

Satu hal yang tidak bisa dilupakan dari berpergian dengan pesawat di NTT adalah pemadandangan dari atas yang menakjubkan. Pulau-pulau kecil berpasir putih dengan laut berwana biru toska.

Kami tiba di Alor sekitar pukul 12 siang. Sebuah taxi bersedia mengantar ke kota Kalabahi sekalian berkeliling mencari hotel. Hotel pertama yang reviewnya bagus ternyata sudah penuh. Kami survei ke 3 hotel berikutnya dan akhirnya memutuskan hotel ketiga, Wisma CHT sebagai tempat menginap. Selain lebih bersih, wisma ini bersedia mengganti makanan breakfast menjadi sahur. Kami menyewa satu kamar dengan dua tempat tidur.
Setelah melatakkan barang-barang kami lalu googling mencari penyewaan sepeda motor di Alor. Alhamdulilah, tempatnya tak lebih dari 100m dari tempat kami menginap. Pemiliknya Pak Gendut. Kami ditemui oleh putra dan istri Pak Gendut. Rupanya semua motor-motor ini tidak lagi disewakan. Pak Gendut dan keluarga akan mudik ke Jawa Timur lebaran ini, makanya semua motor-motor ini akan segera dijual. Kami merayu istri dan puteranya. Karena tidak berani memutuskan, mereka lalu membangunkan Pak Gendut. Alhamdulilah, Pak Gendut setuju menyewakan dua motornya pada kami sebesar 350rb rupiah untuk dua hari.
Dari tempat Pak Gendut, kami langsung menuju ke Desa Lerabaing tempat Al Quran tertua berada.

Jalanan menuju Desa Lerabaing bersisian dengan laut yang sebetulnya teluk yang menjorok membelar Alor bagian utara ini Kalau Al Quran tertua di dunia berusia 13 abad ada di University of Birmingham, Inggris. Maka Al Quran tertua di Indonesia (atau di Asia?) ada di salah satu pulau di ujung NTT. Di Pulau Alor di Desa Lerabaing tepatnya.

Al Quran ini dibawa oleh Iang Gogo, penyebar Islam dari Ternate pada tahun 1523. Terbuat dari serat kulit pohon seperti papirus. Sekarang Al Quran ini dijaga oleh generasi ke 14, Pak Nurdin Gogo.

Menurut Pak Nurdin banyak orang Ternate yang datang untuk melihat langsung Al Quran yang dibawa nenek moyang mereka ke sini 500 tahun yang lalu. Atas permintaan anggota kerajaan Ternate, Al Quran ini juga pernah dibawa Pak Nurdin ke Ternate.

Pak Nurdin bercerita juga soal Islam dan keragaman di Alor. Bahwa masyarakat pesisir umumnya muslim dan yang menghuni area pegunungan adalah penganut Nasrani. Kerukunan beragama di Alor masih sangat terjaga. Jika muslim ada acara MTQ misalnya, maka umat Nasrani akan membantu membuat panggung, menyusun kursi. Sehingga saudara muslimnya bisa fokus pada acara dan hal-hal penting lainnya. Sebuah fenomena yang sudah mulai langka di Pulau Jawa.

Setelah sekitar setengah jam mengobrol, kami pamit pada Pak Nurdin dan melanjutkan perjalanan mengeksplor bagian Barat Utara Pulau Alor. Kami sempat singgah sebentar di sebuah mesjid untuk menunaikan sholat ashar. Ketika hari sudah mulai gelap, kami berputar kembali ke Kalabahi. Magrib menjelang, kami terpaksa berbuka di jalan dengan membeli air minum mineral yang kami beli di jalan. Kami sholat Maghrib di sebuah mesjid. Lalu kembali melanjutkan perjalanan ke Kalabahi. Kami memilih sebuah kedai orang Jawa di tepi laut. Hidangannya berupa ayam goreng dan ikan bakar. Kami memesan ikan bakar dan sate ayam.

Setelah makan kami pulang dan berisitirahat.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *