9 Mei

Kami semua bangun ketika sahur tiba. Kami ke lobby untuk mengambil jatah sahur yang dijanjikan semalam. Tidak ada tanda-tandanya. Untung ada air panas dan bekal yang sengaja kami bawa untuk sahur dari Kupang. Kami lalu masak bubur ayam instan dengan telur rebus dan menyeduh milo. Lumayan cukup mengenyangkan.Lepas sahur dan sholat subuh kami tidur kembali. Kami bangun dan siap kembali menjelajah sekitar pukul 9 pagi. Tujuan pertama pagi ini adalah mengunjungi Museum 1000 Moko yang lokasinya tidak jauh dari hotel.Selain tentu saja Moko, di museum ini juga dipamerkan berbagai artefak dan peninggalan bersejarah masyarakat Alor.

Selain relatif lengkap, koleksi di museum ini juga sangat terawat. Ada satu bagian yang khusus diperuntukkan untuk beragam kain dari seluruh pelosok Alor dengan aneka motif dan warna.

Tujuan selanjutnya adalah Suku Kabola di Desa Kopi Dil. Suku yang tinggal di dataran tinggi ini yang masih menggunakan baju dari kulit kayu untuk upacara adat.Kami tiba bersamaan dengan staf dinas pariwisata yang tengah berkunjung untuk persiapan festival budaya. Kami juga berjumpa dengan mereka ketika di museum tadi. Kami ngobrol-ngobrol sebentar seputar budaya dan pakaian kulit kayu Suku Kabola.Kain kulit kayu dipakai manusia dari zaman prasejarah, terbukti dari penemuan pemukul kulit kayu di situs arkeologi Kabupaten Poso dan Donggala, Sulawesi Tengah.
Nah di Desa Kopi Dil ini masyarakatnya masih memakai pakaian kulit kayu untuk upacara adat hingga hari ini!Terbuat dari kulit kayu pohon disebut Pohon Ke, kulit kayu dipukul-pukul hingga lembut. Kata ketua sanggarnya, pakaian ini nyaman di cuaca dingin karena membuat badan menjadi hangat. Sebaliknya jika dikenakan di cuaca panas, akan membuat badan terasa dingin.Ibu Nirma dan kawan-kawan staf dinas pariwisata lainnya berinisiatif untuk meminta anggota sanggar memakai pakaian adatnya serta mempersembahkan tarian lego-lago khusus untuk kami. Dengan diiringi kendang dan nyanyian dari semua anggota sanggar, kami pun membentuk lingkaran dan mulai menari. Tarian berupa hentakan kaki sambil berpegangan tangan satu sama lain. Suasana menghangat. Kami larut dalam keakraban Suku Kabola.Selesai menari kami berkenalan dengan makanan pokoknya Orang Kabola sebelum mereka diperkenalkan pada nasi. Suku Kabola biasa makan jagung dicampur biji2an lain seperti lentil, kacang merah dll. Biji-bijian ini direbus dengan daun labu lalu dimakan dengan ikan asin yang dipanggang dan cabe rawit. Ketika dicontohkan cara makannya tak pelak lidah puasa kami sempat ngeces juga, gleks.Kami pun berpamitan menuju desa berikutnya, Desa Matalafang. Desa ini terletak pesisir, dari Kota Kalabahi ke arah bandara. Ibu Nirma sudah menghubungi Ketua Sanggar dan memberi tahu kedatangan kami. Selain Pak Alex hadir juga adik perempuanya yaitu Ibu Halimah. Beliau adalah mualaf karena menikah dengan pria muslim dari kampung sebelah.Jika di Larantuka, Adonara dan Lembata, ‘belis’ atau mas kawin untuk perempuan adalah gading gajah, maka belis Ibu Halimah adalah Moko. Sudah ratusan tahun Moko, benda berbentuk tambur terbuat dari tembaga atau perunggu dipakai sebagai mas kawin di Masyarakat Alor NTT. Nggak heran Alor punya julukan Pulau 1000 Moko. Memiliki moko meningkatkan status sosial dan dianggap menghargai tradisi warisan leluhur meski moko bukan buatan masyarakat Alor. Moko dikenal dikenal di Alor sejak abad 14, dibawa dari Dongson, Vietnam Utara oleh pedagang dari Tiongkok.Kami ngobrol dan duduk sambil melepas lelah. Berjalan-jalan sambil berpuasa ternyata cukup menantang buat kam, ditambah cuaca di NTT ini yang cukup panas.Dari Matalafang kami menyusuri jalan menuju ke bandara melewati beberapa pantai yang cantik. Sebuah penunjuk arah sebelum bandara menyebutkan Pantai Batu Putih. Kami pun berbelok dan mengikuti jalan. Jalannya relatif bagus, beraspal, hanya naik turun. Setelah sekitar setengah jam berkendara, kami putuskan untuk putar balik. Selain matahari yang kian meninggi, tubuh sudah tidak bisa diajak kompromi. Kami tepatnya Ambu pingin rebahan. Beloklah kami ke sebuah pantai. Beruntung ada dipan bambu yang bisa dipake rebahan. Nggak nunggu lama, ambu pun segera terlelap ditemani angin pantai sepoi-sepoi dan rindang pepohonan.Kira-kira 1 jam kemudian kami bersiap kembali. Tiba-tiba muncul seseorang dan minta bayaran sebesar 50rb. Mahal sekali.Dalam perjalanan menuju hotel Ambu sempat singgah membeli takjil. Ternyata kue-kue di Alor enak-enak lho. Makanan kecilnya mirip dengan daerah lain di Indonesia ada lumpia, kue sus dll.Setelah berbuka kami menuju warung tempat kami makan malam sebelumnya.Alhamdulilah puasa hari ke-4 bisa kami lalui walaupun sambil jalan-jalan.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *