17 Januari

Mesjid Raudhatul Muchlisin ini bersih bukan main. Bukan hanya lantai mesjid, lantai teras dan toiletnya juga bersih sekali, apalagi mukenanya. Maka setelah sholat Subuh, diputuskan semua anggota keluarga untuk mandi dan keramas dulu, mumpung kamar mandinya bersih dan airnya banyak. Baru kemudian kami masak sarapan di tempat tujuan kami di Jember. Sarapan pagi ini adalah kentang, sawi putih dan tomat van Tengger-Bromo, met mangga lalijiwo van Probolinggo.

Tujuan di Jember adalah Pusat Penelitian Kopi dan Kakao yang sekaligus juga sebuah kawasan eduwisata Coffee and Cocoa Science Techno Park, di Desa Nogosari. Didirikan pertama kali pada tahun 1911 oleh Belanda, jadi usianya sudah lebih dari satu abad!

Indonesia adalah penghasil kokoa terbesar ketiga dunia dan posisi keempat untuk penghasil kopi dunia. Kandungan lemak nabati kokoa Indonesia juga salah satu yang terbaik di dunia.

Kami dipandu langsung oleh Pak Budi, manager Science Techno Park. Riset-riset yang dilakukan selain menghasilkan bibit unggul kopi dan kakao, juga pohon pelindung, pupuk dan pestisida, alat dan mesin pengolahan hulu-hilir, produk hilir kopi dan kakao berupa permen, coklat, sabun dll. Riset yang dilakukan juga banyak bekerja sama dengan industri dan lembaga riset dalam dan luar negeri. Sehingga pusat penelitian ini self sufficient, tidak didanai oleh pemerintah, bahkan mensubsidi lembaga riset lain.

Puas belanja kopi dan coklat, kami melanjutkan perjalanan ke Situbondo.

Kami tiba sore hari, lalu parkir di hotel tempat keluarga Maya menginap untuk besoknya bersama-sama ke Taman Nasional Baluran.

#unlockingindonesiatreasure

16 Januari

Karena tujuan selanjutnya adalah Lumajang dan Jember, maka dari Probolinggo kami turun ke Selatan. Kami singgah di Klakah untuk makan siang daaan… makan duren (lagi!)

Duriannya tidak sebesar durian petruk, rasanya juga tidak semanis dan selegit petruk. Tapi lumayanlah, setidaknya pengalaman ini menambah perbendaharaan durian sepanjang Pulau Jawa😁. Sebenernya waktu otw ke Bromo, kami sempat singgah makan durian juga, tapi tidak dihitung sebagai durian Jawa, karena ternyata duriannya didatangkan dari Sumatera.

Di perjalanan kami melewati sungai yang lebaar sakali. Sungai Besut sat. Lebarnya disebutkan rata-rata 22m. Ganjilnya airnya keciil saja, mungkin hanya mengisi 1/10 dari lebar sungai. Setelah googling-googling, kemungkinan sungai ini merupakan sungai aliran lahar Gunung Semeru. Sehingga tak heran, jejaknya begitu lebar. Tampak di salah satu sisi sungai, truk penambang pasir sedang mengisi muatan.

Tujuan utama kami di ke sini adalah untuk mengunjungi Air Terjun Tumpak Sewu.

Walaupun tidak disebutkan harus treking, jalan yang dilalui hanya separuh yang bisa dilalui mobil biasa. Sisanya jalan setapak untuk pejalan kaki saja.

Karena ukurannya, truk hanya bisa sampai pinggir jalan. Setelah parkir, kami berjalan sekitar 400m, lalu ketemu pos karcis dan membayar Rp 10,000/org. Lalu kami menuruni jalan setapak yang cukup curam dan licin karena lumut. Setelah sekitar 300-400m, mulai terdengar suara gemuruh. Tak lama, nampaklah wujud Curug Tumpak Sewu yang kece tiada tara.

Jika tidak ingin turun ke dasar air terjun, tidak banyak aktivitas yang bisa dilakukan di sini. Setelah puas berfoto, kami pun segera kembali ke truk. Malam sekitar pukul 8 kami tiba di Jember dan parkir di halaman Mesjid Roudhotul Muchlisin.