16 Desember

Setelah beristirahat selama kurleb 4 jam, kami mendengar suara truk diparkir, ketika diintip keluar ternyata area parkir sudah penuuh. Khawatir terjebak dan tidak bisa keluar pada waktunya, akhirnya kami keluar rest area dan langsung menuju rumah Om Ery, kawan kuliah Abah yang tinggal di Serang. Kami singgah di sebuah pesantren untuk sholat Subuh lalu lanjut ke rumah Om Ery. Setelah mandi dan sarapan, kami menuju Desa Kanekes, Ciboleger. Om Ery dan Kirana puterinya, turut serta mendampingi. Di tengah jalan kami menjemput Om Kiki, stafnya Om Ery. Sesampainya di gerbang Desa Kanekes, kami disambut lapangan parkir yang luas dan jajaran pertokoan di pinggirannya, bahkan ada minimarket. Sungguh berbeda dengan keadaan 16 tahun yang lalu waktu Ambu pertama kali ke sini.

Tidak membuang waktu lagi, kami pun lalu memulai perjalanan menuju Dusun Balimbing, salah satu dusun terluar Baduy Luar. Jalanan setapak berupa tanjakan dan turunan masih terbuat dari tanah dan batuan. Setelah melalui turunan sepanjang kurleb 800an meter kami tiba di Dusun Balimbing.

Urang Kanekes atau Orang Baduy merupakan kelompok etnis masyarakat adat suku Banten di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Populasi mereka sekitar 13.000 orang, dan mereka merupakan salah satu suku yang mengisolasi diri dari dunia luar. Secara turun temurun mereka menolak hal-hal yang bersifat ‘modern’ seperti sekolah/pendidikan, fasilitas kesehatan, alat pertanian modern, alat bantu hidup seperti panci, kasur, kompor, handphone dll.

Kami disambut Mang Sarpin, Jaro Tangtu atau sering disebut juga Panggiwa dari Dusun Balimbing, Baduy Luar, Desa Kanekes. Beliau bertindak seperti Mentri Luar Negeri, yang menjadi jembatan Masyarakat Baduy dengan dunia luar. Tuturnya halus dan bahasanya yang terstruktur baik. Matanya berbinar-binar ketika berbicara soal pendidikan.
Dalam kesehariannya Mang Sarpin sering membantu masyarakat Baduy yang kesulitan dalam mengakses fasilitas kesehatan yang disediakan pemerintah dari mulai mengurusi KTP, KK, Jampersal, BPJS dll bagi para pasien tsb. Seringkali penduduk yang beliau tolong bukanlah orang susah, emasnya banyak. Tapi kekayaan mereka tidak banyak membantu ketika mereka harus berinteraksi dengan dunia luar karena buta huruf dan minimnya pendidikan.

Walaupun tinggal terpencil dan tidak bersekolah formal, secara otodidak Mang Sarpin berhasil menyelesaikan pendidikan setara SMU dengan mengambil ujian paket C.

Sewaktu kecil Mang Sarpin diam-diam ikut belajar pada kawannya yang bersekolah di luar. Setiap kali kawannya pulang dari sekolah, Mang Sarpin akan datang dan mencatat pelajaran di secarik kertas kemudian dipelajarinya di rumah.

Kedua putera Mang Sarpin mengikuti jejak Mang Sarpin dan bersekolah di luar. Seminggu atau dua minggu sekali puteranya pulang ke dusun. Berada di ‘dua dunia’ membuat putera Mang Sarpin menjadi prihatin mengamati gejala yang terjadi di generasi muda Baduy. Walaupun terlarang, banyak anak-anak dan remaja di dusunnya yang asik bermain handphone. Informasi dan tontonan yang positif sepaket dengan yang negatif, menyerbu masuk tanpa filter memadai karena minimnya pendidikan. Hal ini jika dibiarkan lama kelamaan akan menggerus nilai, adat dan identitas masyarakat Baduy. Pendidikan adalah solusinya, kata Mang Sarpin. Dengan pendidikan, mereka akan punya tameng dan pondasi yang kuat untuk menahan hal-hal merusak dari luar. Mang Sarpin juga percaya adat dan identitas akan semakin kokoh terpelihara jika anak-anak dibekali pendidikan memadai. Sayang, hingga saat ini, pendidikan masih hal tabu bagi Masyarakat Baduy. Mungkin baru dua atau tiga generasi lagi, pendidikan bisa mereka nikmati.

Pendidikan yang seringkali kita dapatkan dengan mudah di kota, merupakan barang mewah buat Mang Sarpin dan kawan-kawannya di Baduy. Ketika ditanya apa itu pendidikan, dengan kalem Mang Sarpin menjawab, “Pendidkan adalah hak setiap manusia”.

15 Desember

Setelah pamitan dari Teh Aniel, kami keluar dari area apartemen dan segera mencari jalan keluar menuju tol, bergegas meninggalkan Bandung yang macet.

Tiba di rest area, kami makan siang dan sholat, lalu menggelar peta dan itenerary. Setelah memperhitungkan lagi jadwal berjumpa dengan teman-teman di Banyumas, Karimunjawa dan Semarang, akhirnya diputuskan untuk berputar arah. Yang seharusnya ke Cirebon , diputuskan untuk ke Serang, tepatnya ke Baduy😁. Baduy memang selalu dalam list kami, tidak dikunjungi diawal karena menyesuaikan jadwal dengan waktu pertemuan dengan kawan-kawan.

Sore itu truk bergerak keluar dari Bandung kembali ke arah Jakarta. Setelah makan malam di rest area Bekasi, truk bergerak lagi menuju Serang. Sekitar pukul 10 malam kami tiba di rest area Serang.

12-15 Desember

Tujuan pertama adalah rumah Mbak Aniel di Bandung. Dari Pondok Cabe kami ambil jalan Parung untuk menuju Bogor lalu selanjutnya Puncak. Di Puncak seperti biasa, kami silaturahmi dengan Sate Sinta dan tongsengnya 😉😋 sekalian sholat.

Kami tiba di Bandung lepas Maghrib, setelah makan malam di rumah Mbak Aniel di Rocky Mountain (aka Gunung Batu, Pasteur), lalu kami ke Landmark Residence, tempat kami menginap empat hari berikutnya.

Acara utama di Bandung menikmati Bandung tanpa macet alias nggak kemana-mana. Paling jauh belanja makan dan pijetan😋.

Makan siang hari ke-2 kita bbq-an aja di rumah. Menunya daging teriyaki, salmon panggang, salad dan roti gandum.

Sore harinya Kang Pancha dan Teh Yanti datang berkunjung. Malam harinya Teh Sari dan Jason datang dari KL. Thank you for re-scheduling you flight and spent time with us, Teh🥰.

Besokannya, sementara anak-anak berenang Ambu Abah dan para Tante mesen Go Car lalu pijetan di Bersih Sehat. Hari itu habis dengan leyeh-leyeh sementara Abah ketemu Om Dudi dan kawan-kawannya.

Hari Sabtu, tanggal 15 Desember kami pamit sama Mbak Aniel dan melanjutkan perjalanan.

Pada hari Selasa, 11 Desember kami kedatangan kawan-kawan sesama praktisi Homeschooling.

Kawan-kawan ini datang untuk melihat langsung motorhome.

Keesokan harinya, Rabu tgl 12 Desember, akhirnya perjalanan paruh ke-dua dimulai juga. Terus terang kami agak grogi karena perjalanan kali ini akan lebih panjang. Jika perjalanan Sumatera memakan waktu 75 hari, maka kali ini akan memakan waktu selama 150 hari atau 2x lipatnya.

Perjalanan paruh kedua ini akan meliputi Jawa Barat, Jateng, Jatim, Bali, NTB, NTT, Sulawesi dan Kalimantan. Mudah-mudahan perjalanan kami diberkahi dan tujuan-tujuan baiknya tercapai, amin yra.

Itenerary kami susun berdasarkan asumsi truk akan kembali lebih awal. Ternyata jauh lebih lambat dari perkiraan sehingga kami harus mengubah itenerary. Maka Baduy, Sawarna dan Sukabumi terpaksa kami skip dan langsung menuju Bandung untuk menunaikan janji dengan Mbak Aniel.

10-11 Desember

Akhirnya setelah menunggu lebih dari 3 minggu lamanya, kami berangkat juga. Truk yang sedang diperbaiki oleh karoseri ternyata mengambil waktu jauh lebih lama dari yanh diharapkan. Beberapa perbaikan yang dilakukan antara lain penggantian pintu toilet, penggantian housing water filter dengan pipa yang lebih besar, penggantian colokan dari 3 kaki ke 2 kaki. perbaikan sofa, evaluasi solar energy, perbaikan struktur dudukan solar panel, penambalan bagian jendela yang bocor, penambahan talang air di pintu masuk belakang dll.

Kali ini juga kami melakukan evaluasi barang. Beberapa barang besar ditinggal seperti mesin cuci, rice cooker dan air fryer. Kami juga mengevaluasi jenis dan jumlah pakaian.

Ketika truk sampai di rumah, kondisinya kotor sekali, sebegitu kotornya sehingga lantai truk harus disikat, tidak cukup hanya dipel. Seluruh kompartmen dan dinding dalam truk juga dibersihkan. Ruangan toilet pun ikut dicuci.

Setelah bersih, came the fun part: masukin barang-barang. Diawali dengan perlengkapan activity seperti alat snorkeling, kaki katak, pelampung, sepatu olahraga, baju renang, jaket, sleeping bag, perlengkapan dokumentasi dan perlengkapan belajar. Kali ini kami menggunakan storage bag, sehingga lebih terorganisir dan memudahkan mengambil dan menyimpan barang, juga lebih bersih.

Lalu dilanjutkan dengan perabotan dan keperluan dapur. Beberapa panci dan penggorengan, kami tinggal. Piring, mangkok dan gelas sekarang memiliki kompartemen sendiri. Sehingga lebih rapih dan mudah disimpan. Kemudian bagian dry rack di atas sink dibongkar dan dikonvert menjadi ekstra kompartmen. Panci dan penggorengan sekarang lebih mudah diambil dan disimpan kembali. Lalu area bumbu pun di beri box-box kompartmen tambahan sehingga lebih rapih dan memudahkan loading dan unloading.

Di area toilet, sekarang lebih lega setelah mesin cuci dikeluarkan. Diganti dengan laundry bag.

Terakhir, pakaian. Kali ini kita membawa baju yang lebih banyak lagi. Dari pengalaman sebelumnya terbukti seringkali kami hampir kehabisan pakaian ketika pakaian sebagian besar masih di laundry. Jadi kali ini lemari pakaian kami lebih sesak.

Di bagian kabin supir, kami menambahkan gantungan termos kopi dan botol air minum. Selain itu, kami juga punya tempat sampah gantung yang kece sekarang.

3 Desember

Salah satu pertanyaan yang sering kami dapat adalah darimana biaya untuk mewujudkan mimpi berkeliling Indonesia selama setahun? Pendek aja sih jawabannya dari tabungan. Bagaimana bisa? Ya bisa aja. Karena ini bukan semata soal uang, tapi yang terutama soal pilihan. Seperti kebanyakan orang kami adalah pekerja biasa dan mendapatkan gaji. Gaji ini kami tabung. Nah jika sebagian orang menggunakan tabungan untuk membangun rumah mewah, membeli kendaraan mahal atau menghabiskan cuti keliling Eropa misalnya, maka kami memilih mewujudkan mimpi seperti sekarang, berhenti bekerja, membangun motorhome dan keliling negeri tercinta selama setahun.