10 November

Pagi ini kedatangan Mbak Oki dan Kang Ronny yang terbang dari KL dan siangnya Mbak Iwed yang terbang dari Jakarta.

Pagi jam 7 kami sudah keluar rumah dengan membawa truk dan siap menjemput The Gunarto’s. Untuk mewujudkan cita-citaMbak Oki ngopi di pinggir danau sambil dinaungi kanopi, dari bandara kami bergerak langsung ke Danau Opi, danau buatan di kota Palembang. Berbekal martabak kari dan mpek2 kami sarapan di pinggir danau.

Dari Danau Opi, kami ke rumah Mami, ibunda Mbak Iwed yang baru dirawat di RS minggu lalu. Alhamdulilah beliau sehat dan bahagia menyambut kami.

Lalu kami ke Benteng Kuto Besak, salah satu ikon kota Palembang. Benteng buatan Belanda di tepi Sungai Musi ini sekarang sudah menjadi dinding pagar Rumah Sakit.

Dari Benteng, para Ibu-ibu lalu check in ke hotel dan beristirahat, sementara Bapak-bapak membantu Abah memperbaiki dudukan solar panel yang bengkok.

Malamnya kami makan malam di Pondok Kelapa. Menu utamanya Pindang Baung dan Patin. Makan malam dilanjut ngopi dan ngobrol-ngobrol, topik utamanya masa muda Kang Tedja yang penuh dengan nuansa klenik😁

Bahagia tak terkira kedatangan sahabat-sahabat ini. Perjalanan lebih dari bulan jadi lebih berwarna dengan kedatangan mereka. Terimakasih banyak, semoga Allah SWT membalas semua kebaikan❤️

9 November

Alhamdulilah, tidur kami nyenyak malam tadi. Pagi ini kami nyuci baju dan bersiap menyambut kedatangan Kang Tedja dan puterinya Dea, yang terbang dari Jakarta demi menemui kami.

Malam harinya kami diajak makan malam khas Palembang oleh Kang Tedja dan Mbak Wati sekeluarga. Lalu singgah di rumah orangtua Kang Tedja. Alhamdulilah tambah lagi saudara kami di Palembang.

8 November

Pagi ini kami bersiap menuju Palembang. Acik Rita dan Mak Anna sibuk menyiapkan bekal untuk kami. Nasi, rendang, asinan dan kerupuk dibungkus rapi dan siap jadi santapan makan siang nanti.

Kami singgah di sebuah mesjid daerah Banyuasin untuk makan siang dan sholat Dzuhur.

Menjelang Maghrib kami mulai masuk kota Palembang. Kami berencana menginap di rumah adik dari sahabat kami Kang Tedja.

Sampai di Kompleks Pusri, tempat adik Kang Tedja tinggal, hari sudah gelap, gerimis pula. Kami jadi lengah dan tidak sadar kalau jalan yang kami lalui ada kabel melintang yang rendah sekali. Alhasil kabel nyangkut di solar panel, plat besi yang jadi pelindung pun penyok dan terlipat ke dalam. Tidak hanya itu, dudukan solar panel pun bengkok dan terangkat. Dengan susah payah, akhirnya truk terlepas dari jerat kabel. Sampai di rumah, kami disuguhi mpek2 hangat dan hidangan makan malam juga kamar dan tempat tidur nyaman. Terimakasih Mbak Wati, Mas Yon, Rifky dan Ilham

7 November

Pagi di Jambi, tujuan hari ini adalah Muaro Jambi, sebuah kompleks candi berusia setua 4 hingga 13 Masehi. Terdiri dari 81 situs candi, tersebar di area seluas 12 kilometer persegi. Membentang sepanjang 7.5 kilometer di tepian Sungai Batang Hari.

Didukung oleh 3 masa kerajaan; Kerajaan Melayu Kuno, Sriwijaya dan Kerajaan Melayu.

Menjadi pusat agama Budha terbesar di Asia bahkan lebih lebih besar dari Universitas Nalendra di India. Siswanya berasal dari China, Bhutan, Nepal dan Tibet.

Semua informasi ini kami dapatkan dari guide kami, Pak Suganda.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah semacam museum di dalam kompleks. Di dalamnya tersimpan peta dan keterangan umum mengenai Muaro Jambi.

Di museum ini juga diletakkan beberapa batu bata asli yang digores. Batu-batu ini sengaja diambil dari tempat asli dan disimpan di sini untuk mencegah pelapukan. Terdapat juga beberapa padma terbuat dari batu andesit, yang merupakan hadiah dari Jawa.

Membayangkan tempat yang sudah menjadi semak belukar ini sebagai pusat agama, ribuan bikhu lalu lalang melakukan ritual agama. Tidak ditemukan kompleks akomodasi di situs ini karena para bikhu tersebut datang bersama rumah perahunya yang ditambatkan di Sungai Batanghari tidak jauh dari situ.

Muaro Jambi kemudian ditinggalkan kemungkinan karena wabah penyakit. Tak lama kemudian Islam masuk.

Oh ya, kami pergi ke Muaro Jambi dengan Atok Su Zen, adik Nenek Tanjung paling kecil. Atok sebetulnya tinggal di Tarempa, Kep Natuna. Beliau akan menghadiri munduh mantu cucunya di Jambi ini. Usia Atok hampir 90tahun, tapi pendengaran, pengelihatan dan kemampuan berpikirnya masih baik sekali. Beliau hafal berita-berita terkini, bahkan jumlah tuduhan korupsi mantan PM negara tetangga aja beliau tahu!

Alhamdulilah masih diberi kesempatan bertemu Atok.

Rengat, 6 November

Perjalanan ke Jambi dibagi dua di Rengat, kota kecil di tepi Sungai Inderagiri. Di kota inilah Ayah menghabiskan sebagian masa kecilnya.

Konon keluarga besar Ayah masih ada hubungan kekerabatan dengan Penguasa Kerajaan Inderagiri (1347-1945). Walau usia kerajaan ini jauh lebih tua dibanding saudaranya di Utara, Siak Sri Indrapura, tidak banyak keterangan ditemukan, istana ini adalah replika dari istana asli yang sudah rubuh. Menurut Wikipedia, pendiri kerajaan ini berasal dari Minangkabau. Ngobrol dengan sepupu Ayah yang keturunan langsung Sultan Inderagiri terakhir, leluhurnya berasal dari Melaka.

Oh ya, di Rengat kami dijamu dan diperlakukan baik sekali oleh keluarga Om Totong, sepupu Yah Mambang.

Kami tiba di Jambi sore jam 4an.

Pekanbaru, 28 Oktober

Pagi pertama di Pekanbaru kami habiskan bersama Yah Mambang. Sudah bertahun-tahun saya nggak ketemu sepupu Ayah ini. Tidak banyak yang berubah, selain rambutnya yang sekarang gondrong dan wajahnya sedikit lebih tua dari kali terakhir saya bertemu dengannya berbelas tahun yang lalu. Yah Mambang menikah dengan adik Ayah alias sepupunya sendiri, Mak Ida. Saat kami sampai, Mak Ida masih menghadiri pesta pernikahan keluarga di Jakarta. Jadilah Yah Mambang sebagai host kami. Host yang baik bener. Siangnya kami diajak makan siang di rumah makan Upik(?), yang terkenal dengan asam pedas ikan patinnya. Malamnya, durian😁

Hari Seninnya, hari ketiga di Pekanbaru, saya kencan dengan Yeri, teman kuliah yang baru pindah ke Pekanbaru dengan keluarganya.

Lalu sore harinya kami mengunjungi toko kuenya Alex, kawan yang pernah membantu kami mengarrange perjalanan ke Derawan waktu di Balikpapan. Alex bercerita banyak soal usaha toko kuenya.

Mudah-mudahan usahanya lancar, berkah dan semakin besar ya Lex, amiin.

Hari Selasa, Mak Ida datang. Senangnya bertemu beliau kembali setelah bertahun-tahun tak jumpa.

Mak Ida ini adik ayah nomor 9, adik perempuannya yang paling kecil. Terkenal okem dan nakal waktu kecil, tapi sebetulnya baik hati dan penyayang.

Hari Rabu dan Kamis, Mak Ida menemani kami ke Muara Takus dan Istana Siak.

Menanggapi beberapa permintaan untuk berjumpa, hari ke-5 di Pekanbaru kami nongkrong di Gedung Idrus Tintin untuk meet and greet ceritanya. Tapi karena hari kerja dan pagi, tidak banyak yang bisa datang.

Hari Sabtu kami ajak Mak Ida dan Yah Mambang jalan-jalan pakai truk. Kami berkunjung ke rumah Pak Coy, abang Yah Mambang yang punya pabrik bata. Di masa produktifnya, pabrik bata Pak Coy bisa menghidupi sekitar 60 keluarga. Luar biasa, padahal Pak Coy tidak sekolah tinggi. Kerja keras dan kreativitaslah yang membuat beliau berhasil. Pak Coy yang pernah disekolahkan di SLB ini bisa menciptakan mesin batu bata sendiri! Beliau cerdas tapi karena kurangnya pengetahuan, orang-orang di sekitar beliau tidak mengenali kecerdasannya.

Hari Sabtu sebetulnya jadwal kami untuk meninggalkan Pekanbaru menuju Jambi, tapi Mak Ida mengabari bahwa hari Minggunya akan ada arisan keluarga Raja Saleh yang artinya akan berkumpul sepupu-sepupu almarhum Ayah dari seantero Pekanbaru. Kesempatan langka yang belum tentu datang dua kali. Maka kami putuskan untuk tinggal menginap sehari lagi.

Atok dari pihak ayah saya adalah orang Rengat, Riau. Saya yang lahir di rantau, jarang pulang dan hanya berjumpa saudara sekali-kali, tiba-tiba di saat arisan itu, punya banyaaak sekali saudara yang mengenal Ayah. Wajah dan mata mereka berbinar-binar mendengar nama Ayah lalu meluncurlah cerita-cerita tentang Ayah. Tentang ayah yang penyayang, baik pada saudara, tidak pernah marah dll. What a special and heartwarming moment. Al Fatihah untuk Ayah.

Sore itu setelah arisan, Mak Ida memutuskan kami harus berjumpa dengan Neksu, adik perempuan atok terakhir yang masih hidup. Tiba di rumahnya, ternyata beliau sedang keluar dengan Tante Yanti, puterinya.

Besok pagi, ketika sedang bersiap untuk berangkat, tepat sebelum kami naik truk, tiba-tiba sebuah Avanza hitam masuk ke pekarangan Mak Ida. Rupanya Tante Yanti yang nyetir dengan Neksu disebelahnya. Akhirnya bertemu juga saya dengan adik atok ini.


Keberangkatan kami ke Jambi pagi itu , dilepas oleh Mak Ida, Yah Mambang dan Nenek terakhir yang masih ada.

Medan, 23 Oktober

Kami tiba di Medan siang menjelang sore. Tiba di kota besar artinya service-service dan mengisi perbekalan. Tempat pertama yang dikunjungi adalah bengkel. Pintu kabin rusak sejak sehari sebelumnya. Pegangannya retak. Sekalian menggergaji gembok sepeda yang hilang kuncinya di Sabang lalu. Selesai bebenah, truk dicuci, kebetulan bengkel menyediakan tempat mencuci untuk truk. Setelah truk kinclong kembali, kami bergegas ke Bandara Kuala Namu untuk antar Teh Anil pulang kembali ke Jakarta.

Malam itu diputuskan menginap di Roemah 28.

Esok paginya kami ketemu Umi di Istaid, yang udh jauh-jauh terbang dari Medan untuk menemui kami, hiks terharunya. Sementara Abah bertemu dengan staf Pertamina MOR I. Alhamdulillah, Pertamina MOR I bersedia membantu kami untuk mengajukan proposal penyediaan bahan bakar untuk keseluruhan perjalanan ini, ke Pertamina Pusat.

Malam berikutnya diputuskan menginap kembali di Roemah 28. Roemah 28 ini adalah guest house di jantung kota Medan dengan konsep homestay yang hangat dan akrab. Kami berasa nginep di rumah sodara. Owner dan stafnya ramah dan helpful sekali. Desain interiornya juga cantik dan instagramable sekali. Ketika hendak check out, kami diberi oleh-oleh brownies hangat buatan Bu Dira sendiri, sang owner, terimakasih banyak ya Bu❤️.

Besoknya kami ada janji wawancara dengan media lokal, lalu Pak Tama, Staf Pariwisata Sumatera Utara yang kebetulan ketemu kami di Roemah28, mengajak kami jalan-jalan keliling Kota Medan dan mencicipi kuliner khas kota Medan, Soto Medan Kesawan.

Selesai makan siang kami berpamitan dari Roemah28 untuk menyelesaikan beberapa urusan diantaranya mengganti water filter untuk minum. Motorhome kami ini dilengkapi dua water filter. Yang pertama dipasang di instalasi umum, yang kedua dipasang di zink area khusus untuk keperluan masak dan air minum. Seperti biasa, staf di tempat kami mengganti water filter juga tertarik dengan truk kami.

Selesai urusan water filter, tempat selanjutnya adalah supermarket. Tadinya kami mau beli container plastik untuk menyimpan tenda di roof rack, supaya ada space tambahan untuk menyimpan peralatan belajar anak-anak. Karena tidak ada, akhirnya kami membeli plastik besar sebagai gantinya. Lalu kami juga membeli stock bahan makanan dan buah-buahan untuk persediaan beberapa hari ke depan. Malam itu kami menginap di Istaid, terimakasih Umi dan staf Istaid, kami dijamu layaknya keluarga.

Esok pagi hampir pukul 11 kami baru beranjak dari Medan. Umi turut serta dengan kami, walau hanya sampai Rantau Prapat, kami senaang sekali.

Mesjid Agung Rantau Prapat jadi tempat kami menginap malam itu.

Pagi hari setelah sarapan, truk bergerak ke Stasiun Kereta Api Rantau Prapat, untuk mengantarkan Umi Elly kembali ke Medan.

Lalu kami lanjut ke Pekanbaru. Jalanan relatif yang datar, diapit kebun sawit di sisi dan kanannya.

Sekitar tengah hari, nampaklah sebuah pompa angguk tidak jauh dari tepi jalan. Tanda kami sudah memasuki salah satu provinsi terkaya di Indonesia, Riau.

Salah satu perusahaan besar operator di Riau adalah Chevron. Chevron Pacific Indonesia (CPI) adalah anak perusahaan dari Chevron yang bertugas mengeksplorasi minyak yang ada di Riau. Didirikan di Indonesia pada awal tahun 1924, merupakan perusahaan minyak kontraktor terbesar di Indonesia, dengan produksi sudah mencapai 2 miliar barrel.

Kami makan siang di tepi pompa angguk itu.

Di tengah jalan, beberapa kali kami harus berhenti dan mengantri, karena jalan sedang diperbaiki dan jalur dibuka dan tutup secara bergantian.

Berbagai kegiatan kami lakukan untuk membunuh rasa bosan di tengah kemacetan, ngopi, menyanyi dll.

Ketika melewati Duri, hari sudah gelap. Walau begitu, kami putuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan hingga Pekanbaru. Pukul 11 malam akhirnya kami tiba di rumah Yah Mambang dan Mak Ida, adik ayah yang tinggal di Pekanbaru.