Sabtu, 29 September

Malam sebelumnya, salah seorang temen kuliah Abah, Om Riza mengunjungi kami di Hotel Kyriad. Beliau bawa oleh-oleh berupa koran lokal, Padang Ekspres yang memuat berita tentang perjalanan kami.

Kami ditraktir martabak Hayuda dan ngobrol-ngobrol. Dari beliau kami dapat info kalau besok pagi di Batusangkar akan ada pelantikan Raja Minangkabau Pagaruyung. Akhirnya kami setuju untuk bertemu esok pagi di Batusangkar. Sabtu pagi sekitar pukul 6, truk sudah keluar dari parkiran Hotel Kyriad menuju Batusangkar. Acara dilangsungkan di Istana Silinduang Bulan, tidak jauh dari Istana Pagaruyung yang kami kunjungi dua tahun yang lalu. Acara berlangsung khusu’, di pekarangan istana dibangun beberapa tenda untuk menampung tamu. Selain dihadiri pemuka adat dan pemerintah setempat, acara ini juga dihadiri Bangsawan dari daerah lain baik dari dalam maupun luar negeri, seperti Brunei Darussalam dan Malaysia terutama dari Negeri Sembilan yang leluhurnya memang berasal dari Minang

Dari Batusangkar kami ke Sawahlunto. Setelah dapat parkir, kami cari makan siang dulu. Menyusuri kota tuanya. Mirip Melaka hanya kurang terawat. Beberapa ruko nampak tidak terawat dan terbengkalai. Padahal bentuk bangunannya cantik dan antik.

Setelah itu kami ke Museum Kereta Api. Perlahan sejarah kota ini mulai terungkap. Sawahlunto, kota mungil dipagari bukit, bersemayam di ceruk Lembah Soegar. Kota yang menjadi sumber kejayaan Belanda pada masa Revolusi Industri Eropa sekaligus menyimpan kisah sedih para pekerja paksa. Pada tahun 1890an Belanda berinvestasi setara Rp 150 milyar guna memproduksi batubara di Ombilin, dengan membangun jalur kereta api sepanjang 100km yang menghubungkan Sawah Lunto dan Pelabuhan Emmahaven, sekarang Teluk Bayur.

Dari Museum Kereta Api, kami beranjak ke Lubang Mbah Suro. Museum khusus bertema Penambangan Batu Bara di Ombilin.

Terdapat lubang penambangan yang dibuka kembali untuk wisata sejarah. Lubang ini dinamai Mbah Suro, mengikuti nama salah satu mandor asal Jawa Tengah di jaman Belanda yang disegani karena ketegasannya dan ketaatannya beragama. Sebelum masuk, kami harus memakai safety helmet dan boots. Jalannya curam menurun berupa tangga, hingga kedalaman 30m dibawah permukaan. Ruangan sudah dilengkapi lampu dan alat pemantau gas metana. Air merembes dimana-mana membuat suasana semakin mencekam.

Untuk menekan ongkos produksi, Belanda menggunakan pekerja paksa yang berasal dari penjara Hindia Belanda di seluruh Indonesia. Pekerja paksa ini disebut orang rantai oleh penduduk setempat. Karena mereka bekerja dengan dirantai. Keturunan orang rantai ini banyak yang masih tinggal di Sawahlunto hingga saat ini dan membuat pola bahasa baru yang merupakan campuran bahasa Minang dan bahasa daerah lainnya seperti Jawa dan Madura.
Selain pekerja paksa, Belanda juga memperkerjakan buruh kontrak etnis Cina dari Singapura dan Penang. Maka ada beberapa bangunan yang merupakan peninggalan mereka.

Oh ya, di Sawahlunto juga ada sebuah PLTU peninggalan Belanda yang diubah menjadi mesjid. Menaranya tinggiii sekali, karena itu sebenernya cerobong asap dulunya.