8 Oktober pagi

Tanpa sarapan dulu kami segera berangkat meninggalkan Tapak Taun menuju Meulaboh dan Lamno.

Karena tidak sarapan, kami sempat membeli kue sebelum meninggalkan Tapak Tuan.

Persinggahan pertama adalah Meulaboh, rencana menginap di sini dibatalkan karena hari masih siang dan cukup waktu untuk melanjutkan ke Lamno.

Kami masuk ke kota Meulaboh untuk melihat keadaan kota. Abah pertama kali ke Meulaboh 13 tahun yang lalu, untuk liputan setahun Tsunami Aceh. Saat itu, sejauh mata memandang hanya puing dan reruntuhan yang rata dengan tanah. Dan Meulaboh sekarang sudah sangat berubah.

Pilihan makan siang jatuh pada ayam geprek ala Meulaboh yang antriannya panjang sekali. Berbeda dengan di Jawa, dimana cabe domba yang mendominasi panganan pedas, di Meulaboh, sambal atam gepreknya menggunakan cabe rawit hijau, yang rasanya aduhai… ini aja ngetiknya sambil ngeces😋.

Jalan Lintas Barat Sumatera di bagian Aceh Selatan ini cantiik sekali. Bersisian dengan pantai bercemara menghadap Samudera Hindia, jalan-jalan lurus dan datar diselingi sungai-sungai lebaaar, muara, kebun-kebun nipah di rawa-rawa berair tenang dan… sapi-sapi yang berkeliaran bebas. Walau Pak Polisi sudah membuat peringatan keras, cuek aja tuh mereka😋

Kami tiba di Lamno ketika Maghrib. Langsung ambil posisi di sebuah SPBU di pinggir jalan utama. Malam itu Abah mulai mencari informasi mengenai kaum mata biru untuk ditemui esok harinya. Berjumpalah kami dengan Ayah Amin, beliau berjualan kacang dan jagung rebus di SPBU tempat kami menginap. Puterinya dua orang meninggal disapu tsunami. Selama ngobrol selain makan jagung dan kacang rebus, kami disuguhi biskuit dan air mineral segala😊.

Besok paginya kami memburu sarapan di Pasar Lamno. Berjumpa dan ngobrol-ngobrol dengan penjual dan pengunjung lainnya di pasar.

Bu Farida berjualan nasi gurih. Putera sulungnya baru saja selesai sekolah kesehatan dan ditugaskan di Bangka Belitung. Bu Farida belum mengizinkan karena bencana yang terjadi akhir-akhir ini. Ketika berpamitan, dibekalinya kami dengan pepaya matang, untuk monyet monyet di jalan nanti katanya, anak-anak pasti senang.

Abah juga ngobrol sama Bang Samsul, beliau satu-satunya yang selamat, seluruh anggota keluarganya habis disapu tsunami.

Selesai sarapan, ‘perburuan’ mencari mata biru dimulai. Berbekal petunjuk dari pengunjung di pasar, kami menuju sebuah desa tak jauh dari pasar. Di mulut gang, kami bertanya pada sekelompok bapak-bapak yang sedang ngopi. Dan Bang Puteh yang Abah cari ternyata sedang menggarap tanah tepat di seberang tempat kami berdiri. Rejeki anak soleh. Kami lalu nyebrang dan menyapa Bang Puteh. Bermata biru dan berkulit bule, dari ujung kepala ke ujung kaki, Bang Puteh ini bulee banget. Jika tidak membuka mulut, Bang Puteh sama seperti orang Eropa pada umumnya. Pada saat tsunami, banyak relawan asing yang kecele, dan menyangka Bang Puteh adalah sesama relawan asing. Abah bertemu Bang Puteh pertama kali tahun 2005 lalu. Bang Puteh sudah tidak ingat. Setelah ngobrol sebentar dan berfoto kami pun pamit.

Meninggalkan Lamno, jalanan menanjak menuju Geroethe. Pemandangannya indaah sekali. Di sini nampak sebuah pulau yang tadinya bersatu dengan Lamno, namun setelah tsunami menjadi terpisah. Ya, setelah tsunami, Aceh seperti lebih miring di bagian Barat, sehingga lautan semakin maju ke darat. Di beberapa ruas nampak jalan atau jembatan lama yang sudah dekaat sekali ke pantai. Jalanan menuju Banda Aceh pun lurus dan lebar.

Siang itu kami sudah masuk Banda Aceh. Sesampainya di Banda kami langsung ke rumah Yuni. Rupanya Yuni belum pulang, hanya ada Rais yang sedang demam dan neneknya. Tak lama, Raisa datang bersama kawan-kawan sekolahnya.

Setelah telponan, Yuni kemudian menyusul kami yang sedang mengantarkan Raisa kembali ke sekolah.

Petang itu kami diajak jalan-jalan di Banda Aceh dan sholat Maghrib di Masjid Raya Baiturrahman oleh Yuni. Saya nggak tau berapa banyak masjid di Indonesia yang memiliki parkiran di basement, masjid ini salah satunya. Luasnya 8,600m persegi, bisa menampung lebih dari 250 mobil dan 350 sepeda motor dengan lima pintu akses menuju halaman mesjid.

Dibakarnya mesjid ini di tahun 1873 oleh Belanda memicu kemarahan rakyat Aceh. Salah seorang putri terbaik Aceh, Cut Nyak Dhien sangat marah dan berteriak dengan lantang tepat di depan Masjid Raya Baiturrahman yang sedang terbakar sambil membangkitkan semangat Jihad Fillsabilillah Bangsa Aceh, kata-katanya direkam oleh penulis Belanda Madelon H. Szekely Lulofs dalam bukunya Cut Nyak Din: Kisah Ratu Perang Aceh.

Oh ya sebelum Maghrib kami juga sempat mengunjungi kapal yang naik ke atap rumah terseret arus tsunami ketika bencana 2004 lalu

7 Oktober siang menjelang sore.

Perjalanan menuju perbatasan Sumut-Aceh. Lepas dari Dolok Sanggul menuju Sidikalang, rute kembali ke Jalur Lintas Barat Sumatera. Tapi sayang kualitas jalanan memburuk, lubang bertebaran sepanjang beberapa kilometer. Waktu tempuh perjalanan tertunda hampir 1 jam. Kami makan siang dan sholat di Subulussalam. Berbekal nasi yang di masak di Bukit Tele, kami membeli lauk pauk di restoran Pariaman di tepi jalan.

Petang sekitar pukul 4 tibalah kami di Tapak Tuan. Nama Tapak Tuan berasal dari sebuah batu yang mirip tapak raksasa. Kami sempat mengunjungi batu yang dimaksud sambil mencicipi minuman jus buah aren. Batunya datar berada di tepi laut berkarang dan sudah ditambahi semen di sana sini sehingga semakin mirip tapak kaki. Malamnya kami bermalam untuk pertama kalinya di Provinsi Serambi Mekah, dinnernya tentu saja: mie aceh😁.

1. Danau Toba sebetulnya adalah kaldera hasil letusan Gunung Api Purba 75,000 tahun yang lalu.
2. Danau Toba merupakan kawasan tektonik hiperaktif karena berada di zona tumbukan lempeng Indo Australia dan Eurasia serta dihimpit oleh sesar Sumatera.
3. Danau Toba adalah danau terbesar di Indonesia dan danau vulkanik terbesar di dunia.
4. Luasnya 2,5 kali Pulau Singapura. Panjangnya 100km dan lebar 30km dengan kedalaman 505m.
5. Letusannya 50,000 kali letusan Bom Hiroshima
6. Ketika meletus, material vulkaniknya menutupi bumi dan menyebabkan musim dingin selama 6 tahun.
7. Karena letusannya, separuh penduduk bumi musnah, menyisakan 15,000 manusia saja dan menyebabkan migration bottleneck, homo sapiens terjebak dan terisolasi di Afrika.
8. Ditemukan jejak fossil ganggang di Pulau Samosir, artinya dataran pulau ini dulunya berada di dasar danau, kemudian tumbuh ke atas karena desakan dapur magma di bawah danau.
9. Jadi gunung purbanya masih aktif, ditandai adanya air panas di daerah Pusuk Buhit, Samosir. Walaupun demikian terdapat tanda menurunnya aktivitas vulkanik.

Disarikan dari Ekpedisi Cincin Api Kompas Edisi Toba Mengubah Dunia.

7 Oktober pagi

SPBU tempat kami menginap di Belige melayani pencucian mobil. Setelah sebulan lebih di jalan dan sesekali disiram air hujan, akhirnya truk kami di cuci juga. Pangling juga kami dibuatnya.

Setelah bersih kita ke Utara Danau Toba, ke Tongging. Kami menyusuri sisi Timur Danau Toba. Berbeda dengan di Belige, dimana jalan sejajar dengan bibir danau, mulai dari Prapat, pemadangan danau terhampar dari ketinggian. Di beberapa ruas terdapat warung-warung yang menyediakan spot spot selfie berlatar pemadangan danau.

Tak lama danau hilang dari pandangan berganti hutan pinus. Lalu kita masuk daerah Tongging dan makan siang di sekitar situ. Setelah makan siang, rencana menginap di Sidikalang diubah menjadi ke Bukit Tele. Waktu datang thn 2014 lalu, Bukit Tele sedang hujan dan berkabut. Mudah-mudahan kali ini cuaca bersahabat, kami juga akan menginap disitu dan menyambut sunrisenya.

Bukit Tele memiliki menara pandang ke arah Danau Toba dan Samosir. Di sekitar menara pandang itu ada tempat makan dan toilet juga lapangan parkir. Kami tiba menjelang Maghrib, Bapak pemilik warung dan parkiran mempersilahkan kami parkir dan menggunakan toilet dengan membayar serelanya.

Alhamdulilah, cuaca pagi itu cerah sekali. Perjalanan jauh dan kedinginan di malam harinya terbayar oleh pemandangan pagi itu.

Jadi waktu di Nias tempo hari, kita menginap di Hotel Kaliki. Tidak terlalu banyak pilihan seperti di Teluk Dalam. Rupanya, hotel ‘cuma’ seharga Rp 550rb semalam ini tempat Presiden Jokowi menginap beberapa waktu lalu ketika berkunjung ke Nias. Meski tidak bertaraf internasional, hotelnya baru dan relatif bersih.

5 Oktober pagi

Awal pagi pukul 7 KMP Victoria yang membawa kami dari Nias kembali Sibolga sudah merapat. Pak Chandra Aritonang, Kepala Pos Polisi Pelabuhan Pelindo sudah menyambut kami di Pelabuhan. Lalu kami menjemput truk di Polsek Sambas tidak jauh dari pelabuhan. Sebelum bergerak ke Balige, kami menjemput cucian dulu. Ternyataa warung laundry nya belum buka. Baiklah, mungkin masih terlalu pagi. Maka kita sarapan dulu. Setelah selesai, ternyata belum buka juga. Mulai nggak enak, tapi masih santai. Kebeneran di sebelah laundry ada salon, Sabiya bisa potong rambut dulu. Rambut Sabiya sudah pendek dan laundry belum buka juga. Akhirnya Abah dan Hakim mencoba mencari markas laundrynya, atas petunjuk pemilik salon, nihil. Sudah waktunya sholat Jumat. Sambil nunggu Abah & Abang jumatan, Ambu nyoba cari. Blusukan masuk ke kampung dan alhamdulilah ketemu.

Lalu setelah Jumatan kami berangkat ke Belige, melewati terowongan batu buatan Belanda.

Hari sudah malam ketika kami sampai di Balige. Rencana menginap di TB Silalahi Museum dibatalkan karena ditolak pihak security museum. Akhirnya malam itu kami menginap di SPBU.

6 Oktober

Besok paginya kita sarapan di tepi sawah di pinggir Danau Toba kemudian ke TB Silalahi Centre. Ternyata masa kecilnya TB Silalahi penuh perjuangan. Karena sudah tinggal oleh ayahnya, beliau bekerja sedari kecil untuk sekedar membeli sebungkus nasi dan kuah daging. Walau sempat diterima di Teknik UGM dan Arsitektur ITB, beliau harus meninggalkan impiannya menjadi Arsitek karena faktor biaya. Kemudian masuk menjadi tentara untuk membantu ekonomi keluarga.
Di kompleks yang sama ada Huta/Perkampungan Batak, Tongkonan (Rumah adat Toraja, beliau pernah bertugas di Enrekang) dan Museum Batak.

Museum Bataknya lengkap dan terawat, ada juga keterangan lengkap tentang Danau Toba.


Gempa berkekuatan 8.5 SR yang melanda Nias di bulan Maret 2005 tidak saja mengakibatkan bangunan runtuh dan tewasnya 900 orang lebih, tapi juga mengubah lanskap pulau. Pulau menjadi miring di salah satu sisinya. Tempat saya berdiri memotret ini, pada tahun 2005 adalah laut di kedalaman lebih dari 10 meter. Catatan lain menyebutkan bagian Barat pulau terangkat hingga 2.9m. Akibat gempa, pulau ‘mengembang’ dan pulau-pulau kecil baru bermunculan.

Sayang kami tidak bisa berenang, karena hujan lebat. Padahal katanya selain lanskapnya yang unik, pantai ini juga disebut laut mati karena kadar garamnya yang tinggi. Kita bisa mengambang dengan mudah di permukaannya. Hal ini disebabkan karena gugusan karang alami yang memagari area ini sehingga garam seolah-olah ‘terjebak’ di laguna baru ini.

3 Oktober Pagi

Akhirnya, Nias!

Senantiasa dalam top list tujuan perjalanan, akhirnya sampai juga kami di Pulau ini. Tiba dengan kapal Roro Belanak sekitar pukul 7 pagi, kami disambut oleh kontributor dari kantor lamanya Abah. Setelah sarapan nasi gurih khas Sumatera Utara, Bang OneMan mengarahkan mobil ke Selatan, menuju Teluk Dalam.

Ternyata walau ‘bersebelahan’, Nias cukup berbeda dengan Mentawai. Penduduk yang menetap di Nias sekarang, etnis Ono Niha, bermigrasi ke pulau ini secara bergelombang. Gelombang migrasi terakhir kemungkinan datang ke Nias 700 th yang lalu.

Walaupun ditemukan jejak peninggalan masyarakat Nias kuno berusia 12,000 tahun yang lalu di Gua Togi, Ndrawa Nias Tengah, jejak DNAnya tidak ditemukan di masyarakat Nias sekarang.

DNA orang Nias mirip dengan masyarakat Filipina dan Taiwan. Kaum pendatang ini unggul dalam teknologi bangunan dan pembuatan alat besi. Pada tahun 1750, melalui perdagangan budak, Orang Nias mengumpulkan kekayaan yang digunakan untuk membangun bangunan arsitektur terbaik, patung-patung dan senjata. Seratus tahun kemudian tercatat bahwa budaya Nias adalah salah satu masyarakat suku yang paling maju di Asia.

Setelah hampir 3 jam, akhirnya kami tiba di Desa Bawömataluo yang artinya Bukit Matahari. Diperkirakan dibangun antara tahun 1830-1840, merupakan sebuah perkampungan adat tradisional khas Nias Selatan.

Perkampungan ini terletak pada ketinggian 270 meter di atas permukaan laut, kita akan melewati 77 anak tangga sebagai pintu gerbang desa.

Setibanya di desa, akan tersuguh pemadangan menakjubkan Teluk Lagundri yang gelombangnya terkenal di kalangan peselancar. Lantai desa terdiri dari lempengan batu yang tersusun rapat dan rapih berfungsi sebagai jalan desa sekaligus teras. Terdapat 137 rumah tradisional Omo Hada , sebuah rumah raja Omo Sebua dan sebuah balai pertemuan Omo Bale.

Peneliti sepakat bahwa rumah-rumah tradisional Nias (Omo Hada) termasuk diantara contoh-contoh terbaik dari arsitektur vernakular (keseharian) di Asia. Rumah-rumah ini dibangun tanpa paku dan jauh lebih mampu menahan gempa kuat, daripada rumah-rumah modern.

Omo Sebua atau Rumah Raja di Desa Bawömataluo merupakan rumah adat besar yang disangga oleh kurang lebih 60 tiang. Seperti rumah adat Nias lainnya, terdapat Ndriwa, yaitu penyokong yang dipasang secara diagonal di antara tiang-tiang vertikal di bawah rumah.

Tiang-tiang berdiri di atas lempengan batu dan tidak dipancangkan ke dalam tanah. Ini menciptakan struktur yang sangat kuat, namun tetap fleksibel yang bisa menahan gempa bumi yang signifikan.
Di bagian depan Omo Sebua terdapat meja batu lengkap dengan kursi yang juga dari batu serta beberapa menhir. Bebatuan besar ini bukanlah berasal dari Bawömataluo melainkan diambil dari daerah yang jauh dengan diangkut oleh ratusan tenaga manusia.

Baik batuan di pekarangan, maupun dinding rumah Omo Sebua dipenuhi ukiran-ukiran halus yang mengandung nilai dan sejarah masyarakat Nias.

Di desa inilah disajikan Lompat batu (Hombo Batu) sebuah praktek budaya Nias yang unik. Awalnya upacara lompat batu adalah sebagian dari ritual inisiasi pria muda untuk diterima sebagai orang dewasa dan prajurit.
Ketinggian piramida batu lompat itu adalah di antara 1,8 meter sampai 2,2 meter. Lompat ini dilakukan tanpa alas kaki dan latihan berulang-ulang diperlukan sebelum mencoba lompat ini.

Keterampilan untuk melompat benda yang tinggi dikembangkan sebagai teknik pertempuran. Dalam serangan mendadak, prajurit bisa melompati tembok pertahanan di desa musuh.

Untuk bisa menyaksikan lompat batu dan masuk ke desa ini, pengunjung harus membayar Rp 150,000 untuk satu kali melompat dan sejumlah kecil untuk tiket masuknya, Rp 20rb untuk kita berempat.

Salah satu kearifan lokal yang paling kentara dari Nias adalah desain arsitektur vernakularnya, yang diakui para peneliti sebagai salah satu yang terbaik di Asia. Rumah-rumah ini dibangun tanpa paku dan jauh lebih mampu menahan gempa kuat, daripada rumah-rumah modern.
Selain memakai Ndriwa, yaitu penyokong yang dipasang secara diagonal di antara tiang-tiang vertikal di bawah rumah, ada juga rumah adat Nias yang berbentuk lonjong.

Rumah ini tidak dibangun secara dinding ke dinding tapi berdiri bebas. Tiang-tiang pendukung disini diatur dengan cara yang berbeda daripada di selatan.

Balok-balok diagonal tidak bersandar terhadap satu sama lain di tanah, tetapi disangga oleh balok-balok kayu yang berselang lintas di tengah.

Rumah Nias Utara biasanya menggunakan pemberat batu dalam ruang yang diciptakan oleh balok-balok yang berselang lintas. Tidak ada dinding papan di dua sisi rumah yang memikul atap rumah tetapi 4 tiang utama yang memikul seluruh atap.
Karena budaya perang di Nias, rumah dibangun dengan cara yang bisa dilindungi. Semua rumah ditinggikan diatas pilar dan di beberapa daerah setinggi dua sampai tiga meter. Pintu masuk dicapai dengan tangga yang bisa dipindahkan, mengarah ke pintu kokoh. Muka bangunan rumah yang miring ke arah luar dengan jendela berjerajak. Ini membuatnya sangat sulit untuk orang lain mendobrak ke dalam, sementara pada saat yang sama memungkinkan warga untuk mengamati gerakan musuh dari atas. Pada malam hari rumah tegas terkunci, dan kadang-kadang ada juga barikade antara ruang umum dan pribadi.

2 Oktober Sore

Kami tiba di Sibolga, gerbang pelabuhan menuju Nias jam 4 sore.

Kami langsung ke Pelabuhan Sibolga, untuk mencari info mengenai kapal ke Nias. Ternyata kapal cepat yang cuman 3 jam ke Nias sudah tidak ada. Terpaksa kami pakai kapal roro yang memakan waktu 10 jam. Kabar baiknya, malam itu pukul 8 kami bisa langsung berangkat ke Nias.

Karena biaya nyebrang pakai mobil terlalu mahal, maka kami putuskan meninggalkan mobil di Sibolga. Dimulailah petualangan mencari parkiran. Dari mulai parkir di Pelabuhan dan bicara sama orang DisHub, nihil. Mereka malah berdebat sendiri, antara boleh atau tidak. Lalu salah seorang staf DisHub mengantar kami ke Door Smeer, semacam tempat pencucian mobil yang juga bisa dititipi mobil selama pemiliknya nyebrang, nihil juga, dengan alasan tidak cukup tempat. Lalu kami ke kantor Koramil . Penjaganya menyambut kami dengan baik dan menghubungi atasannya. Setelah menunggu sekitar 15 menit, atasannya datang dan juga menolak dengan alasan kurang tempat juga. Akhirnya Abah pakai jurus pamungkas : menghubungi Kepala Biro TVOne Medan. Dari beliau didapat kontak Bang One yang ternyata berlokasi di Nias. Dari beliau kami dapat kontak Kepala Polisi Pelabuhan Pelindo. Kami janjian ketemu di Pelabuhan. Sampai di pelabuhan, petugas DisHub yg kembali menyambut kami, karena salah pelabuhan ternyata. Salah satu petugas DisHub mengatakan seharusnya kami bisa saja parkir di situ, karena ini bagian dari pelayanan pelabuhan. Akhirnya Kepala Polisi, Pak Chandra Aritonang yang menjemput kami ke pelabuhan dan menuntun kami untuk parkir di Polres. Pffuuh legaaa, alhamdulilah, dapat juga parkiran aman. Terus terang setelah berjalan sebulan dan menghampiri berbagai tempat, Sibolga adalah tempat tersulit untuk mendapatkan parkir.

Setelah parkir, kami packing untuk perjalanan dua hari di Nias dan bergegas ke pelabuhan karena kapal akan segera berangkat.

Alhamdulilah, Pak Aritonang berhasil mendapatkan kamar kapten untuk kami tempati malam itu, dengan membayar ekstra. Dengan AC dan kamat tidur yang nyaman, tentu saja kami tidak keberatan.

2 Oktober pagi

Hari Minggu lalu hampir seharian kami habiskan di Pantai Padang. Malamnya kami ketemu Mas Wien dari Pertamina MOR1 (Marketing Operation Region 1). Wilayah kerjanya meliputi 4 provinsi di Sumatera bagian Utara, yaitu Sumatera Barat, Sumatera Utara, Aceh dan Riau. Ini adalah pertemuan kedua sebetulnya. Pertemuan pertama berlangsung Kamis lalu, tgl 20 September pagi di Hotel Kyriad. Saat itu, selain Mas Wien ada Mas Rudy, leadernya dan anggota team lainnya. Intinya mereka berkeinginan untuk mensupport perjalanan kami dalam bentuk pemberian bahan bakar untuk wilayah MOR1. Kok mereka bisa tiba-tiba ingin mensupport? Mundur ke beberapa minggu sebelumnya, Abah berkomunikasi dengan kawan kuliahnya yang menjadi konsultan PR Pertamina di Jakarta. Alhamdulilah komunikasinya berujung seperti yang diharapkan. Jadi untuk wilayah Sumatera bagian Utara, urusan solar sudah selesai. Malam itu kami prakarya keroyokan nempel cutting stiker di truk.

Hasilnya tidak serapih tukang cutting stiker beneran, tapi lumayanlah 😁.

Besok paginya, tanggal 1 Oktober, setelah 11 hari di Sumatera Barat, kami bergerak ke Utara, menuju Kotanopan. Selama bertualang di Sumbar; 2 hari di Mandeh, 3 hari di Pariaman, 4 hari di Mentawai , 1 hari ke Batusangkar dan Sawahlunto dan sisanya di Padang, setiap kali transit di Padang, kami diijinkan untuk menginap dan memakai fasilitas di area parkir Hotel Kyriad Bumi Minang.

Jadi ceritanya waktu di Krui, kami berjumpa Bapak-bapak yang sedang touring dan dalam perjalanan kembali ke Jakarta. Salah satu Bapak ini mengenali kendaraan kami dari media sosial, kemudian akhirnya ngobrol-ngobrol. Tahu kami mau nyebrang ke Mentawai, serta merta beliau menawarkan untuk parkir di hotelnya selama kami di Mentawai.
Terimakasih banyak pada Pak Romy, Pak Fadjri dan staf hotel Kyriad. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan🙏

Tepat jam 4 sore kemarin, kami sampai di Kotanopan sebelum melanjutkan perjalanan ke Sibolga. Ternyata kota ini istimewa lho, kami baru tau paginya😁
Kota ini pernah didatangi oleh Bung Karno pada tahun 1948 ketika beliau berstatus tahanan Belanda. Selain itu, Jendral Besar Abdul Haris Nasution juga lahir di kota ini.
Kota di ketinggian, di lintas tengah Trans Sumatera, di lingkung Bukit Barisan. Pagi ini nampak kabut di area perbukitannya yang di belah sungai-sungai lebar yang mengalir jernih. Dapat dibayangkan betapa indah masa kecil Jendral A.H. Nasution bermain di sungai dan sawah.

Oh ya, hal lain yg menarik perhatian adalah kendaraan modif semacam bentor, hanya bentuknya lebih kecil dan motornya vespa. Rupanya ini adalah kendaraan semacam taxi/ojek bagi penduduk setempat.

Dan malam tadi kami parkir di pekarangan Messnya Provinsi Sumatera Utara. Ruang cantik di foto bawah adalah ruang depannya. Bangunan Belanda ini dulunya hotel.